"Cinta kita terlalu besar di tengah logika dan prinsip yang sulit diruntuhkan."
***
Pertanyaan Revan akan tawaran untuk mengantar Laurent lenyap begitu saja, kalimat itu seolah tenggelam dalam dengung mesin pendingin ruangan yang mendadak terasa makin dingin menggigit kulit. Ruang rapat utama yang beberapa menit lalu dipenuhi puluhan pasang mata, kini mendadak terasa begitu lengang dan membuat tak nyaman.
Laurent tak langsung menjawab. Jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk sudut iPad di genggamannya. Pikirannya mendadak ramai akan pertanyaan sederhana Revan tentang jadwal belajar agama tadi. Wanita itu menoleh pelan, menatap Revan dengan sorot mata yang tak biasa. Sebuah tatapan yang diam-diam menyimpan badai yang perlahan akan siap menggetarkan hubungan mereka.
"Rev," panggil Laurent pelan.
"Iya? Kenapa, Sayang?" balas Revan, masih menunjukkan sisi tenangnya.
Laurent menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dadanya. "Jujur... selama enam bulan aku nyoba belajar tentang Islam, aku belum bisa dapetin ketenangan, kenyamanan, atau jawaban yang aku mau, Rev."
Revan tertegun. Namun, ia mencoba tersenyum tipis lalu menggenggam jemari Laurent yang terasa sedikit dingin. Ia mengusapnya pelan, mencoba untuk menenangkan hati kekasihnya itu. Revan tahu, belajar tentang sebuah keyakinan tidak pernah mudah, dan butuh waktu untuk bisa menerima keyakinan baru itu masuk ke dalam kehidupan seseorang.
"Semua itu enggak instan, Sayang. Semuanya butuh proses."
"Tapi-"
"Kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau belajar tentang Islam, dan mau cari jawaban buat semua keraguan dan pertanyaan kamu selama ini, kan?" Potong Revan lembut.
Laurent terdiam, menatap Revan dengan pandangan lelah. Penjelasan Revan barusan sama sekali tidak menyentuh akar masalah yang sedang menggerogoti logikanya.
"Jadi, ayo kita belajar pelan-pelan. Hm?" bujuk Revan lagi sambil mengusap punggung tangan kekasihnya dengan lembut.
"Tapi kamu tahu sendiri kan kalau aku udah belajar sama siapa aja?"
Tatapan Revan tidak beralih. Ia menatap kekasihnya itu penuh pengertian.
"Aku udah belajar sama istrinya Ustaz Donny, Ustaz Tony, dan sekarang aku lagi belajar sama istrinya Ustaz Ferry. Tapi selama itu... aku tetap enggak bisa dapat apa yang aku mau, Rev."
Laurent menjeda kalimatnya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Revan, menumpahkan semua beban yang selama ini menumpuk di dadanya. Tentang agama, perbedaan, dan tentang rasa lelahnya yang sudah di ubun-ubun.
"Masih banyak banget hal di Islam yang enggak masuk ke logika aku, Rev," ujar Laurent dengan suara sedikit bergetar. "Kenapa enggak boleh makan babi? Kenapa harus ada yang namanya hukuman abadi di neraka buat para pembuat dosa dan orang yang enggak beriman?"
Revan hendak menyela, namun Laurent cepat-cepat menggeleng pelan. Ia menarik napas lelah, lalu kembali menumpahkan seluruh isi kepalanya yang sudah dibendungnya berbulan-bulan.
"Katanya Tuhan itu Maha Adil, Penyayang, Pengasih, dan Maha Pengampun? Tapi kenapa orang yang benar-benar baik di dunia, hanya karena dia enggak beriman sama Allah, mereka harus masuk neraka? Di mana letak adilnya, Rev?" Suara Laurent meninggi. Ada rasa frustrasi yang luar biasa yang tumpah begitu saja di sana.
Revan terbungkam. Lidahnya mendadak kaku seolah terkunci. Jujur saja, ia tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana menjelaskannya dari sudut pandang teologis yang benar. Selama ini, ia memeluk Islam hanya sebagai agama keturunan, tanpa pernah mendalaminya secara filosofis, dan tanpa mengamalkannya dalam hidup sehari-hari. Bahkan, Revan sendiri saja lupa kapan terakhir dirinya menggelar sajadah untuk melaksanakan salat.