"Ternyata ... badai terbesar di dalam hidup itu bernama pilihan. Antara kedamaian hati sendiri atau binar doa seorang Ibu."
***
Malam itu langit sedang cantik-cantiknya. Bintang-bintang bertaburan, saling berkedip seolah sedang berbisik pada bumi kalau malam ini akan baik-baik saja. Tapi bagi Revan, ketenangan di atas sana justru terasa mengejek. Di dalam kepalanya, suasana sedang bising sekali.
Di balik kemudi mobilnya, Revan menyandarkan kepala ke sandaran kursi, lalu memejamkan mata. Hari ini rasanya berkali-kali lipat lebih melelahkan dari biasanya. Wajah kecewa Laurent dan rentetan pertanyaan teologisnya tadi sore masih berputar-putar di kepalanya-mirip kaset rusak yang pitanya kusut. Menyakitkan, membingungkan, dan jujur, membuat kepalanya mau pecah.
Revan membuka kedua matanya perlahan. Pandangan itu langsung tertuju pada rumah minimalis mewah di hadapannya. Rumah masa kecilnya. Tempat yang biasanya selalu terasa hangat dan paling dirindukan untuk pulang. Namun malam ini, entah kenapa, rumah itu justru memicu dorongan aneh di dadanya. Keinginan untuk putar balik, lalu lari sejauh mungkin.
Revan kembali menghela napas dalam, mengembuskannya perlahan. Ia membuka pintu mobilnya, lalu melangkah keluar membelah keheningan malam. Langkah kakinya terasa berat saat meniti anak tangga teras, seperti ada rantai besi yang terikat di pergelangan kakinya.
Begitu pintu jati itu terbuka, aroma gurih tumis daging sapi dan sambal goreng langsung menyengat masuk indra penciumannya. Wangi masakan yang biasanya sukses menggugah selera dan bikin lapar, malam ini justru terasa hambar di tenggorokan.
Revan menutup pintu itu perlahan, lalu melanjutkan langkahnya.
"Kak Revan!" suara Everyn, adik bungsu Revan, terdengar riang seperti biasanya.
Revan menoleh, lalu tersenyum kecil dan mendekat ke arah meja makan. Di sana sudah ada sang Mamah, Vincent, adik laki-lakinya yang terpaut usia dua tahun, serta si bungsu Everyn yang berumur empat tahun lebih muda darinya.
"Sini, Kak. Mamah masak banyak," ujar Everyn, bersemangat menjemput kedatangan kakak tertuanya.
"Tumben?" tanya Revan sambil menarik kursi.
"Kayaknya mood Mamah lagi bagus banget hari ini," timpal Everyn lagi.
Mamah tersenyum manis, tapi Revan bisa menangkap ada sorot yang sedikit tak biasa di mata ibunya. Sebuah ganjalan yang coba beliau sembunyikan rapat-rapat di balik wajah teduhnya. Tanpa ingin anak-anaknya tahu, di balik senyum itu, tepatnya di dalam lubuk hati sang Mamah yang paling dalam sedang terjadi perang batin yang hebat, antara memikirkan masa depan sang anak atau menjaga perasaan hati anak sulungnya itu.
Revan membalas senyum itu, mencium punggung tangan Mamah dengan takzim, lalu duduk di kursinya. Ia membuka satu kancing kemejanya teratas. Rumah ini mendadak terasa gerah dan pengap.
Makan malam itu awalnya berjalan cukup tenang. Revan berusaha setengah mati menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di kepalanya akibat Laurent. Ia mencoba berlagak biasa saja.
"Gimana tadi, Mah, pengajiannya? Dapat ilmu apa hari ini?" tanya Revan membuka obrolan. Suaranya berat, tegas, dan teratur-khas pemimpin yang terbiasa memegang kendali. Tapi selalu punya sisi lembut di dalamnya.
"Wah... banyak," jawab Mamah, senyumnya kali ini agak tertahan di sudut bibir.
"Emang temanya tentang apa sih, Mah?" Everyn menyahut sambil mengunyah pelan.
"Tentang tipe perempuan yang ada di dalam Al-Qur'an," jawab Mamah santai. Ia berusaha keras menyingkirkan perang batin di dalam dirinya untuk sementara waktu.
"Nah, mending kamu dengerin tuh, Dek," sahut Vincent yang sedari tadi diam karena sibuk dengan piringnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum ejekan yang khas.
Bibir Everyn langsung maju beberapa senti, mengerucut sebal yang justru terlihat lucu di mata Revan.
"Biar tahu gimana caranya jadi perempuan yang bener. Jangan main HP terus kerjaannya," lanjut Vincent, makin memanas-manasi.
"Apaan sih, Kak Vincent! Resek!" Everyn merengut kesal. Dia memutar bola matanya malas sembari menusuk potongan daging di piringnya agak kasar, lalu menyuapkannya ke dalam mulut dengan dongkol.
"Eh, tapi kakak setuju sama Vincent. Kamu tuh harus bisa sedikit lebih cewek, Ryn," sahut Revan yang sedari tadi hanya mengamati sambil menahan tawa.
Everyn tidak menjawab, hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara, mengejek ucapan sang kakak tertua.