"Bom waktu itu akhirnya berdetik. Bukan karena kita tidak menjaga, justru orang yang kita hormati yang sudah menyalakan sumbunya."
***
Suasana di meja makan mendadak hening begitu kata ta'aruf keluar begitu saja dari bibir Ibu mereka. Vincent langsung berhenti mengunyah, sedangkan Everyn pelan-pelan menurunkan tangan dari dagunya. Mereka berdua sempat saling lirik canggung, sebelum akhirnya menatap piring di hadapan mereka yang mendadak kelihatan jauh lebih lebih menarik dibanding apa pun.
Revan menaruh sendoknya. Bunyi denting logam yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian. Ia menatap ibunya, mencoba mencari celah bercanda di mata wanita itu. Namun, nihil. Yang ada cuma tatapan lurus penuh harap.
"Mah," Revan membuka suara. Suaranya berat, ada penahanan emosi yang kuat di sana. "Revan bukannya mau nolak permintaan Mamah."
Sang Mamah tidak langsung menyahut, beliau hanya menatap anak sulungnya dengan tenang, menunggu kelanjutan kalimat pria itu.
"I ngerti Mamah mau I nikah dan dapat istri yang baik," lanjut Revan. Ia menghela napas pendek, berusaha sekuat mungkin menahan beban yang rasanya siap meledak kapan saja. "I juga ngerti umur I udah lebih dari cukup buat nikah. Dan I juga ngerti kalau Mamah khawatir."
"I paham."
Pria itu menjeda ucapannya sebentar, mencoba menenangkan debar dadanya yang mulai panas. "Tapi Mamah tahu sendiri kan, kalau I belum siap buat nikah. I masih harus yakinin diri I sendiri sebelum ajak anak orang buat berkomitmen dalam kata pernikahan."
Mendengar itu, Mamah meletakkan sendoknya perlahan. Beliau memajukan sedikit tubuhnya, menatap Revan dengan sorot mata melunak namun sarat akan ketegasan khas seorang ibu.
"Siap dan yakin itu bukan ditunggu, Rev. Tapi diusahakan," potong Mamah lembut, namun nadanya mengunci ruang gerak Revan untuk membantah.
Revan menggeleng kecil, sebuah tawa hambar yang dipaksakan lolos dari sudut bibirnya. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat tegas seperti itu dari sang Mamah.
"Mamah pikir selama ini I enggak berusaha?" ujarnya lelah. "Tapi tetap aja buat I, nikah itu kayak bom waktu yang kapan aja bisa meledak dan hancurin semua yang udah Revan bangun selama ini."
Everyn sempat tersedak pelan mendengar kalimat kakaknya, namun Vincent dengan sigap menyodorkan gelas air putih tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Suasana makin terasa menekan.
Mamah menghela napas panjang. Gurat lelah yang tadi sempat hilang kini kembali muncul di wajahnya. Beliau menatap anak sulungnya itu dengan tatapan teduh, mencoba meredam gejolak di dada Revan.
"Itu karena kamu terlalu banyak melihat ketakutan yang belum tentu terjadi, Rev."
"Ck," Revan berdecak pelan, mengalihkan muka ke sembarang arah.
"Asal kamu tahu, Rev. Dunia pernikahan itu tidak selalu buruk seperti yang kamu lihat di media sosial dan internet."
Mamah menjeda kalimatnya sebentar, beralih menatap foto keluarga yang tergantung di dinding ruang makan. "Coba kamu lihat dan ingat, bagaimana kehidupan pernikahan Mamah dan Almarhum Papa kalian selama ini? Apa semengerikan yang kamu pikir?"
Revan kembali menatap sang Ibu dengan tatapan letih. "Mah, Papa beruntung bisa dapat Mamah yang enggak macam-macam," sahut Revan cepat.
Pria itu memajukan tubuhnya, menumpukan siku di meja dengan sorot mata yang mengeras. "Asal Mamah tahu, enggak semua perempuan itu baik dan bisa dijadiin istri. Dan I enggak mau sampai salah pilih perempuan, Mah."
"Maka dari itu Mamah yang carikan," ujar sang Mamah dengan tegas, memotong kalimat Revan tanpa ragu.
"Mah-" protes Revan, suaranya mulai terdengar lelah dan sedikit meninggi.
"Perempuan yang Mamah temui hari ini berbeda, Revan."