Taaruf: Why?

Analisaa
Chapter #9

Ketenangan yang Tak Diundang

"Kadang, apa yang paling keras kita hindari adalah apa yang paling kita butuhkan."

***

Malam kian larut. Setelah perdebatan panas dengan Mamah di meja makan tadi, Revan memilih angkat kaki. Dia berkendara menembus malam dan memutuskan bermalam di penthouse miliknya di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tempat ini selalu jadi pelarian terbaik tiap kali dunia di luar sana terasa terlalu bising untuk dihadapi.

​Alih-alih tidur, pria itu malah berdiri di sisi jendela kaca yang menjulang tinggi dari lantai hingga langit-langit. Ia menatap pemandangan kota Jakarta yang tetap hidup meski langit sudah segelap arang. Deretan gedung pencakar langit dengan lampu-lampu yang berkedip di kejauhan, serta aliran lampu kendaraan yang membelah jalanan ibu kota, biasanya menjadi pemandangan favoritnya untuk melepas penat.

​Namun malam ini, kelap-kelip kota itu sama sekali tidak sampai ke mata dan hatinya. Pandangan Revan kosong.

​Pikiran pria itu mendadak terbelah menjadi dua medan perang yang sama-sama mengerikan. Di satu sisi, ada Laurent-wanita yang sangat dicintainya, yang beberapa jam lalu baru saja berdebat hebat dengannya di kantor karena masalah keyakinan dan pernikahan. Revan tahu dia harus memberikan Laurent waktu untuk tenang, tapi bayangan bahwa hubungan enam tahun mereka terancam kandas membuat dadanya luar biasa sesak.

​Lalu di sisi lain, ada titah mutlak sang Mamah yang baru saja meruntuhkan harga dirinya di meja makan.

​"Putusin."

"Beda agama..."

"Devina... dia itu seorang janda dan memiliki satu anak."

"Mamah mau kamu hubungi dia dan ajak untuk taaruf."

​Gema suara Mamah kembali terngiang, membuat rahang Revan mengatup begitu rapat hingga menciptakan kedutan di pipinya. Dituntut melepaskan wanita yang sedang berproses bersamanya, lalu dipaksa masuk ke dalam kehidupan wanita asing yang memegang status paling ia takuti di dunia ini....

Perceraian.

​Revan mendengus hambar, menertawakan takdirnya sendiri. Tangannya yang memegang gelas kaca berisi sedikit minuman beralkohol refleks mencengkeram gelas itu lebih erat, lalu menegak sisa minumam itu sekali habis.

​Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang sejak tadi terus ia abaikan. Jarinya bergerak lambat, membuka ruang obrolan dari sang Mamah hingga matanya terpaku pada deretan nomor asing yang dikirimkan beliau.

​Devina.

​Revan menatap nomor itu cukup lama dengan sorot mata yang perlahan menggelap. Rasa lelah, kesal, dan frustrasi yang menggulung di dadanya malam ini akhirnya bermuara pada satu keputusan nekat.

​Dia tidak bisa membentak ibunya lebih kasar dari yang tadi dia lakukan. Dia juga tidak bisa mengubah pendirian keras sang Mamah. Tapi, dia bisa menghentikan kegilaan ini dari arah lain. Jika dia tidak bisa mundur, maka wanita bernama Devina ini yang harus dipaksa mundur.

​Revan memantapkan hatinya. Tanpa ragu lagi, jarinya menekan tombol panggil pada nomor asing tersebut, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.

​Ia tidak berniat untuk memulai sebuah ta'aruf. Tidak akan pernah. Tujuan teleponnya malam ini hanya satu, yaitu mendesak perempuan bernama Devina itu untuk menolak perjodohan ini secara sepihak.

​Nada sambung mulai berdering di seberang sana.

​Tut... Tut...

​Napas Revan tertahan di tenggorokan. Ia menunggu dalam sunyinya penthouse malam itu, menanti suara asing yang akan menjawab panggilannya. Sampai pada akhirnya...

​"Assalamualaikum."

Lihat selengkapnya