"Tidak semua jalan ditentukan oleh langkah. Kadang, itu ditentukan oleh siapa yang kita dengarkan."
***
Sinar matahari pagi yang menembus kaca besar ruangan kerja itu terang, namun tidak menyengat saat bersentuhan dengan kulit. Sinarnya lebih kepada terang yang hangat dengan sedikit sentuhan sejuk. Namun sayangnya, sinar hangat itu tidak mampu menghangatkan pikiran Revan yang kini sedang kacau.
Alih-alih menyentuh dashboard pekerjaan yang ada di layar iPad-nya, pria itu justru memilih berdiri mematung di sisi jendela. Tangan kanannya memegang secangkir kopi hitam yang mengepulkan asap tipis, tangan kirinya dimasukkan ke saku celana, sementara matanya menatap kosong deretan gedung perkantoran di kawasan Sudirman yang menjulang tinggi di hadapannya.
Jarum jam di dinding sudah hampir menunjukkan pukul sebelas siang, namun fokus Revan masih tertinggal di malam hari. Suara anak kecil yang cadel dan tawa tulus seorang wanita di seberang telepon semalam terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Drrt... Drrt...
Getaran nyaring ponsel di atas meja kerja memecah keheningan ruangan. Revan menghela napas pendek, lalu berbalik. Ia melangkah mendekat untuk memastikan siapa yang menelepon. Begitu melihat nama yang tertera di layar, kerutan di dahi Revan perlahan mengendur.
Ustaz Ferry.
Revan langsung menggeser tombol hijau. "Assalamualaikum, Ustaz."
"Waalaikumsalam, Rev. Apa kabar?" Suara sejuk di seberang sana langsung menyapa, membawa sedikit ketenangan instan.
Sejuk?... sedikit?
Revan membatin hambar. Ustaz Ferry yang sudah sepuluh tahun ia kenal saja hanya mampu memberikan ketenangan seadanya saat ini. Sedangkan suara Devina-wanita yang sosoknya saja tidak ia ketahui, bahkan tidak ia kenal sedikit pun semalam-justru mampu memberikan ketenangan yang luar biasa.
Kesadaran itu perlahan membuat ego Revan berdenyut tidak nyaman.
Revan menghela napas tipis. "Alhamdulillah baik, Ustaz," jawabnya, berusaha menormalkan nada suara agar kebingungan di kepalanya tidak terbaca. "Ada apa, Ustaz?"
"Lagi di kantor, Rev?"
"Iya, Ustaz. Lagi di kantor aja. Ada apa nih?"
"Nah kebetulan, saya baru selesai isi kajian duha di masjid deket area kantor kamu. Kalau kamu ada waktu senggang, saya boleh mampir sebentar? Mau silaturahmi sekalian ngopi-ngopi."
Revan tersenyum tipis. Sebersit rasa lega hadir di dadanya. Mungkin mengobrol dengan Ustaz Ferry adalah hal yang paling dia butuhkan saat ini. "Ya ampun, pakai izin segala. Boleh banget lah, Ustaz. Sini ke kantor. Nanti I kasih tahu bagian receptionist di depan kalau Ustaz mau datang, jadi bisa langsung naik ke ruangan."
"Okay, saya ke sana, Rev."
"I tunggu ya, Ustaz. Assalamualaikum."
"Waalaikumusalam."
Bip. Sambungan telepon terputus.