Taaruf: Why?

Analisaa
Chapter #11

Wajah di Balik Nama

"Kadang ego mengejar kesempurnaan, padahal hati hanya butuh ketenangan."

***

​​Keheningan di dalam ruangan kerja itu terasa semakin pekat. Revan masih terpaku pada posisinya, menatap cangkir kopi hitamnya yang kini sudah benar-benar dingin tanpa sisa asap sedikit pun. Pertanyaan Ustaz Ferry barusan seolah menampar ego rasionalnya yang selama ini selalu ia banggakan.

​"Gini, Rev," Ustaz Ferry mencondongkan sedikit tubuhnya, menumpukan kedua lengan di paha. Tatapan Revan langsung terarah pada pria paruh baya di hadapannya itu.

​"Bahasa santainya, ta'aruf itu konsep pacaran tanpa yang haram-haram. Dan jelas tujuannya mau menikah dan ibadah karena Allah." Beliau menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan. "Sedangkan pacaran... sudah pasti ada hal atau kegiatan haram di dalamnya, dan belum tentu arahnya jelas. Walaupun ada embel-embel janji mau setia sampai menikah."

​"Tapi Ustaz..." keluh Revan, terdengar letih. Dinding pertahanannya perlahan mulai goyah, namun egonya masih mencoba mencari celah untuk menyanggah.

​"Sekarang gini," potong Ustaz Ferry lembut, mencoba mengarahkan logika berpikir Revan. "Saat kamu mau merekrut orang untuk posisi penting di perusahaan kamu, atau saat kamu mau kerja sama project besar dengan perusahaan lain, apa yang pertama kali kamu minta? Apa kamu langsung ajak mereka jalan-jalan santai, nongkrong di kafe berbulan-bulan tanpa kejelasan, baru setelah setahun kamu putuskan mereka layak atau enggak?"

​Revan mengernyitkan dahi, spontan menggeleng. "Enggak lah, Ustaz. Ya pasti ada proses screening dulu. Kita minta portofolio, CV, rekam jejak digitalnya, bahkan ada sesi wawancara terstruktur buat tahu visi misi mereka sejalan atau enggak sama perusahaan kita."

​"Nah!" Ustaz Ferry menepuk pahanya pelan, sorot matanya berbinar cerdas. "Itu dia, Rev. Ta'aruf itu persis seperti proses screening profesional yang kamu lakukan di bisnis kamu. Bedanya, yang sedang di-screening adalah calon mitra seumur hidup, alias calon istri."

​Beliau menjeda kalimatnya, memberikan ruang bagi Revan yang tampak mulai tertegun.

​"Dalam pacaran, proses mengenal itu sering kali tidak netral karena telanjur melibatkan perasaan di awal." Ustaz Ferry menghela napas tipis sebelum melanjutkan. "Orang kalau sudah telanjur sayang, kekurangan pasangannya yang fatal pun pasti akan dimaklumi atau sengaja ditutup-tutupi demi menjaga hubungan. Banyak topengnya, Rev. Baru setelah menikah, topengnya lepas, kelihatan semuanya, lalu kaget dan berakhir di pengadilan dengan alasan 'sudah tidak cocok lagi'."

​Tangan Ustaz Ferry terulur mengambil cangkir teh di hadapannya. Beliau menyesap teh hangatnya yang mulai mendingin sebelum kembali melanjutkan dengan suara yang tenang.

​"Sementara ta'aruf, prosesnya dibalik, Rev. Kita buka-bukaan data di awal lewat perantara yang tepercaya. Tanpa pacaran, tanpa melibatkan kontak fisik atau batin yang berlebihan dulu. Kedua belah pihak saling bertukar informasi secara jujur. Mulai dari visi misi hidup, riwayat kesehatan, keadaan fisik, sifat baik-buruk yang paling parah, sampai ekspektasi pernikahan ke depan mau bagaimana. Sangat ilmiah, logis, dan transparan."

​Revan menghela napas ringan, menghilangkan sedikit tekanan di dadanya. Tatapannya bergerak ke sembarang arah, mencerna setiap perkataan yang Ustaz Ferry berikan.

​"Dan yang paling penting, Rev... ta'aruf itu tidak boleh ada paksaan," Ustaz Ferry melanjutkan dengan nada tenang.

​Tatapan Revan kembali terfokus pada Ustaz Ferry.

​"Kalau setelah membaca data atau setelah sesi pertemuan yang didampingi perantara kamu merasa tidak cocok, kamu punya hak penuh untuk mundur secara baik-baik. Islam tidak pernah mengunci kebebasan manusia untuk memilih pasangan hidupnya."

​Kalimat "tidak boleh ada paksaan" dan "punya hak penuh untuk mundur" kembali bergema di kepala Revan. Kali ini terasa jauh lebih masuk akal dan melegakan. Logika korporat yang dipakai Ustaz Ferry berhasil meruntuhkan dinding defensif di otak Revan.

​Ternyata, ta'aruf tidak semenakutkan dan sekuno yang dia kira. Jalur ini justru memberinya ruang kendali penuh untuk menolak secara terhormat jika nanti wanita pilihan Mamah-nya memang tidak sesuai dengan standarnya.

​Baru saja Revan hendak membuka mulut untuk merespons, pintu kaca ruang kerjanya mendadak terbuka dengan kasar tanpa ketukan sama sekali.

​Braak!

​"Rev! Gila ya lo, masa gu—"

​Kalimat Erik terputus di udara. Lidahnya mendadak kelu saat matanya menangkap sosok pria berbaju koko sedang duduk di sofa sembari menatapnya dengan senyum ramah, menenangkan.

Lihat selengkapnya