Para anggota Panitia bagian Koordinator Lapangan dengan tampang ganasnya beriwa-riwi diantara ratusan banjar calon penghuni baru kampus. Semua rapi berkemeja putih dibaurkan dengan celana dan rok hitam ala pekerja training. Tidak ada yang tidak khidmat, semua bertahan pada posisinya dengan apik. Mendengarkan ocehan dan bentakan, kadang cenderung lebih pada penghinaan menjadi rutinitas wajib selama satu minggu ini bagi mereka. Banyak yang sebal dan merutuk dalam hati, ada yang sebodoh amat mau ngomong apa, ada juga yang benar-benar sadar dalam kemelasannya, dan serba ada-ada saja yang mereka rasakan.
“Mahasiswa macam apa kalian, ha?! Sudah hari ke berapa ini?! Ke-na-pa kalian masih maju?!!” teriak seorang laki-laki di tengah halaman. Di sekitarnya berdiri ribuan mahasiswa baru. Matahari sudah mulai meninggi. Peluh-peluh terasa membanjiri sekujur tubuh yang berdiri mematung dengan sikap istirahat sempurna disana. Beberapa kena jatah sial dan harus dibariskan sama menghadap dengan barisan utama, mereka hanya mampu menunduk, pasrah atas kecerobohannya.
Masa OSPEK adalah masa tidak ada duanya dalam hitungan sebagai mahasiswa baru. Perfect dan selalu salah. Camkan!
Seorang gadis berdiri dan tersenyum menikmati pemandangan itu dari kejauhan. Gadis bercelana jeans dipadukan dengan atasan kaos cream polos terbalut blazer toska, tampak elegan. Rambut panjang yang terkucir ekor kuda, poni menyamping seperti tatanan ala tokoh-tokoh anime Jepang. Wajah cantiknya semakin terkesan manis dengan kulit putih. Tidak lupa, ransel hitam di punggung membuat ia tampak semakin keren sebagai mahasiswa.
Gadis itu kembali melangkah. Mengamati sekitar, disini banyak dibuat taman-taman untuk para mahasiswa. Kampus yang cukup mewah terlihat semakin luar biasa dengan desain unik bangunannya. Tidak kalah penting, dengan rutinnya tong sampah berdiri di setiap sudut, kampus itu benar-benar bersih. Ia pun tampak tersenyum puas.
“Kampus baruku. Tidak mengecewakan,” gumamnya sendiri. Ia mengambil duduk di sebuah bangku menghadap ke halaman dimana para mahasiswa baru tadi terpanggang, cukup mengenaskan. Dengan senyum yang masih indah terulum, kembali dirinya menikmati pemandangan di area panas itu dengan asyiknya.
“Mereka seperti tidak pernah bosan teriak-teriak begitu, hm!” gumam seseorang yang sudah berdiri di sebelahnya. Membuat sang gadis menoleh dan mengerutkan kening bertanya.
“Bicara padaku?” tanyanya menunjuk diri. Laki-laki itu terlihat memicingkan mata sekilas.
“Tidak.”
“Ooohh.”
Beberapa detik mereka saling mengabaikan. Terdengar embusan napas berat dari laki-laki di sebelah. Namun, gadis itu tetap memilih acuh, menahan diri untuk tidak tertawa meski ia sangat ingin melakukannya, biar saja meski sadar jika laki-laki itu tengah merasa sebal padanya.
“Kamu pasti mahasiswa transfer-an itu, kan?” tanyanya kemudian, membuat si gadis sedikit bergeming di tempat, cukup merasa senang juga.
“Emm, ya! Kamu siapa?” tanyanya.
“Ketua Tingkat kelas. Kebetulan kelas itu akan menjadi kelasmu juga setelah ini,” jawabnya acuh. Namun, gadis itu berbinar seketika. Ternyata respon kampus ini juga sangat baik, diulurkan tangan dengan senang.
“Salam kenal, namaku Resya,” ucapnya riang.