Angin sore seperti biasa memang selalu menenangkan. Kampus yang luas itu mulai terasa lenggang. Memang, sore adalah waktu bagi UKM-UKM mengambil alih kuasa. Sepeti Sekolah Tinggi pada umumnya, kampus ini juga memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa seperti olahraga, pers, kesenian, dan lainnya. Sore hingga malam menjadi wadah bagi mereka untuk menyalurkan bakat dan minat dalam bimbingan Unit Kegiatan Mahasiswa ini.
Resya terduduk disalah satu bangku Taman Utama, taman yang biasa penghuni kampus disini sebut dengan Taman Central. Taman ini merupakan centernya kampus. Tempat yang menjadi pusat perhatian lebih dibandingkan hal lain dalam kampus ini. Taman Central adalah taman paling indah. Taman lingkaran dengan pohon berdaun-daun yang sengaja dirawat dan diatur sedemikian rupa dengan ukuran setinggi kaki orang dewasa dijadikan sebagai tembok yang mengelilingi.
Disudut kanan dan kiri dibuat jalan setapak terhubung dari halaman Fakultas Pendidikan dan Fakultas Ekonomi, dua Fakultas yang letaknya berada di depan fakultas-fakultas lain. Kedua gedung ini tampak seperti gapura Selamat Datang, dan sepertinya memang sengaja dibangun dengan tujuan pandang seperti itu. Fakultas Pendidikan berdiri megah disisi kanan, sementara Fakultas Ekonomi disisi sebelah kiri. Jalan utama Taman Central menghubungkan dengan ruang Rektor dan perangkatnya, juga Ruang Badan Eksekutif Mahasiswa.
Ditemani gemercik air yang keluar dari moncong patung lumba-lumba di tengah lingkaran taman, mata Resya konsentrasi membaca kalimat demi kalimat pada buku di pangkuan kedua pahanya. Tidak disadari, sepasang kaki melangkah menghampiri. Seseorang itu tersenyum mendapati gadis yang tengah sibuk dengan sendirinya di kejauhan. Sesekali terlihat ketika pena di tangan diketukkan ke kepala, membuatnya semakin menyembunyikan tawa. “Dasar!” gumamnya.
“Hei?” sapanya membungkuk melihat wajah Resya dan berhasil membuatnya tersentak kaget.
“Aish! Mengagetkanku saja!” sungutnya sebal merutuki laki-laki yang kini sudah duduk di sebelahnya. Resya mendelik melihat siapa di dekatnya.
“Re-van?” ucapnya menyipitkan mata.
“Aku kira kamu lupa siapa aku,” balas Revan sedikit tertawa.
“Aku baik dalam mengingat seseorang,” decak Resya sebal.
“Benarkah? Bagus kalau begitu.”
Resya hanya mengangguk dan menutup buku bacaannya.
“Kamu ada perlu denganku?” tanyanya.
Revan menatap gadis itu sekilas, kemudian kembali menyunggingkan senyum pada Resya. Membuat Resya kembali menyipitkan mata penuh tanya.
“Kamu belum tahu kantin kampus ini kan? Ikut aku, akan kutunjukkan,” jawabnya membuat Resya merasa sedikit janggal. Tanpa menunggu jawaban, Revan segera menarik tangan gadis itu pergi. Resya mengikuti Revan dengan baik. Meski sedikit kewalahan karena langkah Revan lebih cepat.