TAHTA

Deasy Astari Dawangga
Chapter #3

BAB 3: PERMINTAAN REVAN DAN PUNCAK INNAGURASI


“Deni!” panggil Resya pada laki-laki jangkung yang berjalan tidak jauh di depannya. Ia pun berlari menyusul sang Ketua Tingkat itu. Diselaraskan langkahnya di samping Deni yang berembus sebal, merasa terganggu. Resya hanya cekikikan melihat wajah Deni menahan geram.

“Kamu tahu, kamu adalah pengamat terbaik,” pujinya tiba-tiba, membuat Deni mau tidak mau mengernyit bertanya.

Apa yang dia katakan, ck!

Deni berdecak berusaha kembali mengabaikan Resya. Dipercepat langkahnya, berusaha meninggalkan gadis itu dengan semua kebisingan yang dibuat.

“Aku penasaran, bagaimana bisa kamu tahu sedetail itu tentang mereka, hm? Menarik,” gumam Resya lagi sembari manggut-manggut sendiri. Sementara, Deni terus berusaha menahan diri untuk tidak mendamprat gadis kurang ajar seperti Resya yang di sampingnya kini. Kurang ajar karena berani menyinggung kata itu lagi di depannya. Sungguh ia menyesal, seharusnya kemarin ia tidak mengatakan itu pada Resya. Deni benar-benar tidak menyangka jika Resya memiliki daya ingin tahu yang besar. Terlampau besar malah.

“Wayang Politik. Julukan yang bagus.” Resya masih sibuk bicara sendiri. Membuat Deni melempar deathglarenya, tapi malah membuat Resya semakin senang, bahkan dengan tidak tahu diri mengerlingkan sebelah matanya pada Deni yang melotot jengkel. Deni pun menghentikan langkah tiba-tiba, dan Resya masih mengikuti tanpa dosa.

“Kamu tidak ingin pergi?” tanya Deni dingin, membuat Resya mengerucutkan bibir, “Kita kan satu kelas. Meski salah satu berjalan dulu, pasti juga akan tiba bersamaan,” ucap Resya semakin terdengar menjengkelkan.

“Ck! Menyebalkan sekali!” gerutu Deni lantas kembali melangkah, merasa sia-sia bicara dengan gadis itu.

Resya pun tersenyum bangga bisa menggoda si Deni biang diam . Ketuanya itu benar-benar menjadi number one-nya semua dosen karena selalu bisa membuat keadaan kelas diam damai disaat yang tepat. Dengan menggebrak meja atau sebatas melempar tatapan ganasnya, kelas bisa langsung senyap.

“Kamu mau berbagi cerita denganku?” bisik Resya mendekatkan bibir ke sisi salah satu telinga Deni.

Not responding.

Deni memasang headsetnya ke telinga. Mengabaikan pertanyaan Resya dan tetap berjalan tenang. Bungkam. Lebih tepatnya ia tidak memberadakan Resya di sisinya.

Setelah sadar bahwa ia tidak akan mendapat informasi seperti yang diinginkan, Resya merengut, akhirnya gadis itu hanya mendengus sebal dan mempercepat langkah mendahului Deni.

Tuk!

“Aaww!” pekik Resya saat ada sesuatu mengenai tepat di kepalanya.

Resya menghentikan langkah. Mengelus-elus kepala dan celingukan mencari apa gerangan yang berani kurang ajar menyentuh kepala berharganya ini.

“Lebih baik abai tentang mereka, jika tidak ingin hidupmu susah,” kata Deni ketika sudah berdiri disampingnya.

Resya melongo beberapa saat.

“Oh, gelangku jatuh,” lanjut Deni memungut gelang hitam yang tidak jauh di belakang kaki Resya. Resya semakin menganga tidak percaya. Sebelum ia melakukan protes, Deni sudah beranjak pergi dari sisinya. Membuat Resya terus mendesis geram di belakang.

“Resya!”

Satu panggilan membuat Resya kembali menoleh. Disana ia mendapati Revan tengah berlari menghampiri. Laki-laki itu melambai dan tersenyum padanya.

Dia itu murah senyum sekali.

“Kamu baru datang?” tanya Resya setelah Revan tiba di hadapan.

Revan mengangguk. Resya pun berbalik arah dan mereka kembali berjalan beriringan. Keduanya menikmati langkah masing-masing, bisu. Suara angin menggantikan berdialog untuk mereka. Desirnya menyambut kedatangan dua insan yang tersenyum dalam langkah bersama itu.

 

Aku tidak tahu kekuatan apa yang telah disalurkan olehnya

Gadis yang masih sesaat ada bersamaku kini, begitu mempesona

Setiap senyumnya adalah ketenangan

Suaranya adalah penghibur hati

Sapanya adalah kedamaian

Tawanya sesuatu yang menggetarkan

Dan kata-katanya sumber keindahan

Lihat selengkapnya