Revan masih terus melangkahkan kaki jenjangnya, pelan berusaha menikmati suasana di sekeliling yang sudah apik tercipta. Ia lihat panggung utama, kemegahan itu sebentar lagi akan menjadi saksi siapa dia sebenarnya. Begitu sempurna. Revan tampak semakin percaya diri kali ini.
Semoga, setelah ini keadaan akan semakin baik.
Revan melangkah sambil sesekali tersenyum pada setiap orang yang bersimpang, mereka pun juga membalas senyumnya. Revan menghentikan langkah, matanya kian berbinar saat menangkap sosok di kejauhan, gadis itu tengah berlari menuju padanya. Revan melebarkan senyum. Ia menjadi lebih tenang sekarang. Ia sangat bersyukur ada Resya saat ini di sisinya. Gadis itu tidak pernah menyerah membuatnya mengerti akan posisi yang dia miliki.
“Jangan pernah menghilang dari pandanganku,” pintanya pada Resya yang sudah berdiri berhadapan dengannya. Resya mengangguk mantap.
“Disana,” ujar Resya menunjuk pohon besar di kejauhan, pohon itu berhadapan tepat dengan panggung. Mata Revan mengikuti telunjuk Resya. “Aku akan melihatmu dari sana. Kamu akan tetap melihatku dengan jelas, bukan?” lanjut Resya memberi tahu.
“High Five. Tos!” tambah Resya semakin menyalakan semangat Revan.
“Semangat!”
***
Revan tiba di depan pintu ruangan yang bertuliskan ‘Ruang BEM’ dengan embusan napas gusar. Mau bagaimanapun, berbagai perasaan tidak enak itu selalu punya celah untuk masuk jika dirinya harus bertemu dengan semua anggota, karena pasti ada Dhika pula disana. Jangan salahkan Revan, keberadaan Dhika tidak pernah membuatnya berpikir jika semua akan baik-baik saja. Revan mengepalkan tangan, berusaha kembali mengumpulkan ketenangannya untuk menghadapi semua orang di dalam sana.
Klek.
Sebelah pintu ruangan itu terbuka, memperlihatkan laki-laki berkacamata yang tersenyum padanya. Reinal, sekretaris BEM kampus ini. Laki-laki itu menyingkir membuat semua orang melihat kedatangan sang Presma. Beberapa orang menyambutnya semringah, serta beberapa lain hanya diam menatapnya. Dhika dan kawan-kawan.
“Revan, akhirnya kamu datang! Ini luar biasa, semua orang membicarakanmu. Kamu keren!” puji Raya tersenyum sambil menunjukkan dua jempol tangannya pada Revan diikuti beberapa orang lain yang mengangguk senang. Revan juga tersenyum lega membalasnya.
“Ayo segera keluar. Acara dimulai sebentar lagi, bukan?” ujar Revan mengingatkan. Semua tersenyum patuh dan segera bergegas meninggalkan ruang BEM. Revan beradu pandang dengan Dhika yang jelas tidak senang melihatnya. Sangat jelas. Hanya beberapa detik dan Revan segera berpaling. Tidak ingin membuat moodnya menjadi buruk karena Dhika lagi.