TAHTA

Deasy Astari Dawangga
Chapter #5

BAB 5: PEMECATAN DHIKA


Hari ini, Resya tidak datang ke kampus. Setelah kemarin ada kejadian gila seperti itu, mustahil baginya untuk menghadapi bagaimana respon dari semua orang. Benar-benar memalukan. Resya belum beranjak dari kasurnya, ia memikirkan bagaimana keadaan Revan saat ini. Berkali-kali ia mengembuskan napas berat, memandang langit-langit kamar dengan lesu.

Disisi lain, meja-meja di ruang kebesaran BEM kini sudah dikelilingi para Kepala Pembesar Organisasi kampus. Revan mengadakan rapat pagi ini. Rapat untuk laporan sementara hasil kegiatan kemarin. Seluruh Ketua Senat Fakultas dan Ketua Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa hadir sebagai peserta rapat.

Rata-rata semua melaporkan hasil yang baik. Kegiatan lancar, respons masyarakat juga sangat mengesankan. Semua itu sudah cukup sebagai bahan laporan yang bisa dipertanggungjawabkan di akhir tahun masa jabatan nanti. Meski tidak dibahas dalam rapat, apa yang terjadi di panggung kemarin antara Revan, Resya, dan Dhika tetap menjadi momen yang diabadikan oleh Dewan Pers kampus. Hal ini menjadi topik hangat di kalangan para mahasiswa. Dalam sekejap, isu Dhika dan Resya mengalahkan isu sebelumnya, Revan dan Resya.

Berkat aksi Demo yang dilancarkan tahun lalu, benar-benar sukses memberi kebebasan bagi para UKM mengelola organisasinya. Bagi pers sendiri, karena mereka tidak memasarkan buletin bulanannya ke khalayak umum luar kampus, target pasar mereka hanya sebatas intra kampus. Biar begitu, mereka juga tetap ingin buletin UKM laku keras dan kali ini berita Revan, Resya, Dhika adalah pemanis utama yang akan mengisi bagian lembar buletin itu. Satu hal lagi, pers kampus ini memiliki hak untuk meliput apa pun yang terjadi di dalam kampus.

Suasana di ruang rapat hening beberapa saat. Mereka masih menunggu apa yang akan disampaikan lagi oleh Revan. Revan tampak menampakkan sisi dalam dirinya, membuat suasana menjadi mencekam. Ia mengembuskan napas sesaat sebelum melanjutkan bicara.

“Untuk semua, saya memohon maaf atas apa yang terjadi kemarin. Semua terjadi begitu tiba-tiba,” ujarnya kembali dan berhenti sejenak. Semua saling pandang, tidak menyangka Revan sendirilah yang malah membahas itu.

“Dan ini yang terakhir, dengan sangat menyesal. Kepada Sahabat Dhika, selaku pemegang kuasa atas Dewan Perwakilan Mahasiswa kampus, diputuskan untuk mengakhiri masa penugasannya mulai hari ini. Setelah hari ini, akan segera dilakukan untuk memilih siapa yang menjadi pengganti di posisinya,” sambung Revan membuat semua saling pandang tidak menyangka.

“Terimakasih. Rapat selesai,” akhirinya. Revan bangkit dari kursinya. Semua makin ternganga tidak percaya. Dhika dipecat? Beberapa saat kemudian, keadaan ruang mulai sedikit kisruh mendengar keputusan Revan. Semua orang saling berbisik tidak mengerti sekaligus sibuk saling mempertanyakan.

“Presma, ini keputusan sepihak,” protes salah seorang yang hadir disana. Mela. Kepala Badan Keuangan BEM kampus.

Semua mengangguk setuju. Bagaimanapun, kali ini Revan benar telah melakukan kesalahan atas pemecatan yang dilakukannya. Tanpa koordinasi, tanpa formalitas jelas. Semua tentu terkejut. Namun, berbeda dengan Dhika, ia malah tampak menyeringai puas di kursinya. Jelas saja, Revan menghancurkan nama baiknya sendiri, dengan ini semakin jelas dimata semua orang. Revan tidaklah kompeten sebagai Presma, mencampur adukkan urusan pribadi ke dalam kepentingan organisasi, dan itu tentu tidak benar. Tapi, Revan sendiri sudah benar-benar tidak mau menghiraukan. Protes apa pun dan dari siapa pun, ia tidak menerimanya saat ini.

“Saya tidak terima atas pemberhentian ini.” Suara bariton Dhika memecah kegamangan yang terjadi. Semua kembali diam, menunggu bagaimana ini nanti akan berakhir. Terlebih Dewan Pers yang hadir, ia benar-benar tengah berbunga. Tidak dibiarkan dirinya akan sampai kehilangan kesempatan untuk meliput ini. Berhubung hanya ada dia yang saat ini datang, laki-laki bertopi lengkap dengan kacamata minus itu hanya menggunakan kamera handphone untuk mengambil gambar. Serta tetap merekam semua suara dengan alat perekam yang tidak pernah luput di sakunya.

“Mari buat kesepakatan,” tambah Dhika.

“Apa maumu?” tanya Revan menatap sinis padanya.

“Presma ingat, MAPALA kampus kita akan mengadakan Lomba Lintas Alam tiga hari yang akan datang,” ucap Dhika memulai rencana yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

Lihat selengkapnya