TAHTA

Deasy Astari Dawangga
Chapter #6

BAB 6: PERANG


Mata Resya terpaku pada papan majalah dinding di samping gerbang masuk kampus. Mulutnya terbuka tidak percaya dengan apa yang ia baca. Tepat di depannya, tulisan berkapital merah tebal membuatnya serasa sesak napas.

PERANG?

 Apalagi terpajang nama Dhika dan Revan disana, membuat kedua kaki Resya buru-buru melesat pergi. Resya benar-benar tidak menyangka. Apa yang sudah terjadi kemarin saat dirinya tidak ada? Benar-benar gila! Langkahnya semakin cepat, mata Resya terlihat mencari-cari entah siapa, jelasnya seseorang untuk bisa ia tanyai saat ini juga.

Langkah cepat Resya terhenti tiba-tiba. Sosok Dhika muncul dari arah gang. Benar-benar tidak disengaja. Tanpa disengaja pula Dhika menoleh ke arahnya. Resya siap dengan ancang-ancangnya untuk kabur. Satu dua ia melangkah mundur, Dhika tersenyum melihat itu. Resya cepat membalikkan badan, tapi Dhika lebih cepat kembali menangkap lengannya. Resya menghela napas sebal pada laki-laki di belakangnya.

“Kenapa kemarin tidak datang ke kampus?” tanya Dhika masih ingin mengungkit.

“Bukan urusanmu!” jawab Resya sugal.

“Kamu sakit?” tanya Dhika lagi makin membuat Resya menatapnya muak.

“Kubilang bukan urusanmu!” bentaknya membuat raut wajah Dhika berubah dingin.

“Kamu kira kemarin itu lelucon? Bukan, mengerti?” ujar Dhika memberi peringatan.

“Aku tidak peduli, kamu puas?” balas Resya berbalik menantang. Dhika mengeratkan rahang, masih mencoba sabar.

“Aku tidak peduli kenapa kemarin kamu mau membantu Revan. Tapi, jangan lakukan lagi mulai sekarang,” kata Dhika kembali melunak dan melepaskan cekalannya di tangan Resya.

Resya membuang tawa mendengar itu.

“Akan kubuktikan, akulah yang pantas menjadi Presma. Jadi, berhenti ikut membuat perlawanan dan lihat saja,” ucap Dhika mengakhiri lalu melangkah pergi. Resya menatap punggung yang menjauh itu dalam diam.

Orang macam apa dia?

***

Resya menemukan sosok Revan di Taman Central. Sosok itu duduk bersandar dengan headset terpasang di telinga dan memejamkan mata. Resya menuju ke arahnya. Revan masih belum menyadari kehadiran gadis yang dengan langkah hati-hati mendekat.

“Sesuatu terjadi lagi?” tanya Resya menyadarkan Revan. Revan menoleh dan mendapati Resya di sisi, membuatnya tersenyum.

“Kupikir kamu tidak akan menemuiku lagi,” ujar Revan pelan, kembali terdengar begitu gamang. Resya mengambil duduk di sebelahnya.

“Kenapa aku harus tidak menemuimu. Terdengar lucu,” jawab Resya membuat Revan menegakkan tubuh.

“Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti akan menang,” ucap Revan lalu berdiri, Resya pun juga bangkit mengikuti.

“Benar. Jangan membuatku khawatir,” ujar Resya sambil memegang bahu Revan, memberi dukungan.

Tera yang kebetulan ada di sekitar Taman Central tidak sengaja melihat keberadaan mereka dari tempatnya berdiri. Telinganya fokus mendengar apa yang Revan dan Resya bicarakan.

“Tetaplah disisiku,” pinta Revan entah kenapa senyum Resya mulai meluntur. Revan tidak melihat itu. Tapi, Resya juga tidak mengerti, permintaan Revan untuk tetap berada di sisinya sedikit terdengar aneh bagi gadis itu, sekarang. Resya menatap Revan yang mendongak ke langit.

Kala pertanyaan itu muncul, apa benar kamu jawabannya?

Jika pilihan itu datang, akankah masih kamu alasannya?

Aku tidak tahu

Apakah yang itu benar?

Apakah yang itu salah?

Aku tidak tahu

Setelah Revan pergi, Tera menghampiri Resya, gadis itu masih bertahan di kursi taman. Resya termenung mengingat apa yang dikatakan Dhika tadi padanya. Kenapa laki-laki brengsek itu harus mengatakan hal yang tidak wajar begitu! Benar-benar membuat Resya frustrasi.

“Kamu akan berdiri untuk siapa? Revan?” tanya Tera tiba-tiba membuat Resya kaget.

Lihat selengkapnya