Dhika berada diantara anggota timnya. Sama-sama menghangatkan tubuh. Malam hari di tempat seperti ini benar-benar terasa dingin, karena saat ini sedang musim panas.
“Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu,” ujar Reinal yang berbaring di sebelahnya.
Dhika tidak langsung menjawab. Ia kembali mengamati satu persatu anggota tim yang sudah sibuk dalam pembaringan. Ia hanya mengembuskan napas pada akhirnya. Disaat seperti ini semua jadi terasa memusingkan. Ditambah lagi memikirkan ulah Resya, orang yang tidak punya perhitungan sama sekali. Seandainya bisa, tentu sudah ia seret gadis itu sekarang juga. Resya benar-benar ingin menguji kesabarannya.
“Bagaimana semua persiapannya?” tanya Dhika memastikan untuk ke sekian kali.
“Sesuai yang kamu harapkan,” jawab Reinal. Dhika mengangguk, lalu ikut merebahkan diri dan segera menutup. Reinal mengernyit penuh tanya, biasanya mereka akan ngobrol panjang jika menyangkut perlombaan ini.
“Siapa? Siapa diantara mereka yang bersekongkol dengan Revan untuk memata-mataiku? Siapa yang berkhianat disini? Tidak mungkin dia salah melapor,” batin Dhika dalam pejam. Dhika membuka mata kembali. Bingung dengan pikirannya sendiri. Semua orang di sekitarnya sudah terlelap dengan wajah lelah, semakin membuat Dhika kelimpungan sendiri harus mencurigai siapa.
***
Sedari shubuh semua sudah terbangun. Kini, mereka saling bantu menyiapkan dan membuat sarapan bersama. Masing-masing sudah membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Ini sungguh mengasyikkan. Mereka melupakan sejenak apa yang menjadi tujuan utama datang ke tempat seperti ini kemarin.
Tidak lebih dari satu jam, biarlah mereka menikmati dan merefresh otak mereka. Mereka juga manusia. Semua saling bercanda dengan senang di tengah keindahan alam yang masih murni ini. Resya ikut berbaur dalam kehebohan mereka. Keberadaannya diterima dengan baik disini.
“Sarapan siap!” teriak Revan dari jauh.
Resya baru menyadari, pantas sejak pagi ia belum melihat Presmanya itu, ternyata Revan bersama Mela dan Bambang sedang sibuk menyiapkan menu sarapan. Tanpa menunggu lama, semua berhambur menuju dimana Presma berada. Resya ikut senang melihat mereka yang seperti ini. Ia sangat menyesali keadaan, jika saja mereka datang kesini sengaja untuk main, betapa senangnya. Tentu, jika Dhika tidak membuat ulah, semua pasti akan baik-baik saja. Resya merasa sedih memikirkan itu. Memikirkan bahwa Dhikalah biang keonaran yang terjadi saat ini.
“Kamu senang?” tanya seseorang mengejutkan Resya.
“Y-ya. Tentu,” jawabnya tersenyum pada Tera.
“Aku sungguh tidak menyangka, kamu benar datang kesini. Tapi, ini bagus,” ujar Tera lagi dan tersenyum. Resya juga tersenyum, tidak begitu memperhatikan kalimat yang diucapkan Tera. Tera sebentar mengamati Resya yang kembali menundukkan wajah, terlihat muram.
“Tapi, Resya. Apa kamu sungguh membenci Dhika?” tanya Tera hati-hati.
“Aku hanya tidak menyukai perbuatannya yang seperti ini,” jawab Resya. Tidak ingin berlarut dengan perasaannya sendiri, Resya segera berlari mengajak Tera menyusul yang lain.
***
Dhika selesai rapat dengan anggotanya. Menata semua rencana dengan baik. Besok adalah hari yang dinantikan. Ia kembali memperhatikan satu persatu anggota yang sedang diskusi. Tapi, yang ada ia hanya kembali geram sendiri pada akhirnya. Tidak ada keganjilan sama sekali.
“Sial! Revan masih punya anak buah seperti ini ternyata,” batin Dhika kembali uring-uringan. Pikirannya semakin berkecamuk sendirian. Haruskah ia tanyai langsung? Tidak! Itu hanya akan memperpecah keadaan timnya saat ini. Dhika mengembuskan napas, menstabilkan emosi.
Satu-satunya yang tepat ia lakukan disaat seperti ini hanya mendinginkan pikiran. Tidak akan ada gunanya jika ia terus berdebat dengan diri sendiri. Terpenting, asal Revan juga tidak mencurigai timnya sendiri. Kemenangan masih di tangannya. Sepasang mata Reinal sejak tadi mengamati Dhika. Ia merasa aneh. Dhika terus manggut-manggut sendiri. Entah apa yang sebenarnya tengah mengganggu Dhika, Reinal tidak mengerti.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Reinal.
“Tentu! Tolong awasi mereka,” jawab Dhika bohong.
Dhika beranjak pergi dari tempat rapat. Kepalanya serasa ingin meledak jika terus melihat anggotanya dan mendengar semua asumsi yang muncul di kepalanya dalam satu waktu. Ia perlu menjernihkan pikiran, dengan mencari tempat dimana tidak ada orang lain yang bisa mengganggunya.
Di tempat lain, Revan juga tengah berkumpul dengan timnya. Mereka juga sama menyusun rencana. Revan membagi timnya untuk beberapa kelompok. Medan mereka menguntungkan karena sebagian bisa ditempuh dengan mobil. Pe-eRnya, Revan hanya ingin mereka memotong jalur agar bisa lebih cepat sampai. Jadi, hari ini mereka akan survei jalan.
“Serahkan itu pada saya,” usul Tera mengajukan diri.
Semua mata menoleh ke arahnya, Tera melebarkan senyum malaikatnya untuk meyakinkan mereka.
“Baik. Ada usulan lain?” tanya Revan. Beberapa saat saling pandang, dan akhirnya semua menggeleng. Revan pun membuat keputusan
“Saya yang akan menjaga mobil Presma.” Kali ini Resya mengajukan diri. Revan tampak berpikir sejenak.
“Ya. Tapi, kamu harus pergi bersama Bambang dan Adit,” putus Revan. Masing-masing yang disebut namanya saling melempar senyum dan mengangguk.
***
Tera memulai pekerjaannya kini. Potong rute untuk perjalanan Presma esok hari. Ia tampak sibuk mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lari kesana, lari kesini penuh pertimbangan.