Resya hanya mematung di boncengan Tera. Air mata sudah terasa kering karena terus menangis sejak tadi. Tera berembus pasrah melihatnya dari pantulan kaca spion, karena memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain ini. Seandainya gadis itu tidak keras kepala sejak awal dan memilih menghindari masalah, tentu ia tidak akan ikut merasakan kehancuran sedalam ini. Tera terus menyayangkannya dalam hati.
Tera menepikan motor di pinggiran jalan yang mulai banyak dilewati penduduk. Meski hanya beberapa. Sepertinya ini sudah masuk pemukiman sekitar daerah itu. Resya pasrah saja sekarang. Ia sudah cukup hancur, percuma saja jika ingin melampiaskan dengan menghajar Tera. Beberapa saat setelah mesin motor itu mati, sebuah mobil hitam mewah datang menghampiri keduanya. Satu orang tetap di kemudi, satunya lagi keluar lalu membungkuk hormat pada Tera juga Resya.
“Antar gadis ini pulang. Kalian sudah dapat alamatnya, bukan?” ucap Tera pada orang-orang suruhan Dhika.
“Ya, Tuan. Tuan Dhika juga menyuruh Tuan Tera untuk ikut dengan kami,” jawab satu orang itu membuat Sila berembus pelan.
“Tidak. Ada hal yang harus kulakukan. Pastikan dia baik-baik saja. Mengerti?” ucap Tera lagi menyampaikan pesan Dhika.
Tera mengakhiri obrolannya dengan orang itu. Resya tidak memedulikan meski ia mengikuti percakapan mereka sejak tadi. Ia dengar saat mereka terus saja menyebut Dhika “Tuan”, benar-benar membuatnya menggeleng dalam hati.
“Masuklah, Res. Pu .... ”
Plak!
Satu tamparan sukses mendarat di pipi Tera dan berhasil memotong ucapannya. Membuat satu orang berjas hitam tadi terkesiap dan spontan menjauhkan Resya dari Tera. Resya menatapnya marah kali ini.
“Bawa dia pergi,” ujar Tera lalu kembali menaiki motor dan melesat jauh. Tera mengeratkan rahang menahan panas di wajah. Wajar saja gadis itu melakukan hal tersebut, Tera mencoba mengerti bagaimana perasaan Resya saat ini. Dan menerima tamparan itu sebagai balasan.
***
Kurang dari seperempat jam dari jadwal yang sesungguhnya ditentukan, tapi panitia pelaksana lomba itu sepakat memberangkatkan pesertanya lebih dulu. Semua saling tanya apa yang sedang terjadi. Begitu banyak mahasiswa datang, dan masih banyak lagi pertanyaan yang terus mereka lontarkan melihat kerumunan itu.
Panitia tidak ingin menambah keruwetan setelah ini, minimalnya masa di lokasi harus berkurang dan mereka juga harus menyelamatkan kegiatan mereka sendiri tentunya.
Semua peserta lomba dibariskan pada garis start yang terhadang dengan pita merah. Semua formalitas sudah dilakukan, setelah peluit berbunyi semua peserta menerobos garis batas itu, dan membuat panitia tersenyum lega. Lomba Lintas ini sudah bisa dinyatakan dilembar Terlaksana pada saat Laporan Pertanggungjawaban mereka nanti.
***
Mobil Presma masih melaju, begitu pun pasukan Dhika. Tim Dhika sudah dekat dengan kemenangannya. Revan fokus di kemudi, setelah berkali mengembuskan napas, mobil itu meluncur dengan kecepatan tinggi di jalanan yang lambat laun semakin stabil kondisinya. Ia mengejar Dhika yang jelas telah lebih jauh meninggalkannya.
Disisi lain, Dhika malah mengurangi kecepatan saat garis finish hampir di depan mata, membuat semua anggota tim bertanya.
Beruntung keahlian Revan mengemudi bisa dikatakan lebih mumpuni, jadi ia bisa tetap gesit melajukan mobilnya yang sebentar lagi pasti akan bobrok. Revan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyusul tim Dhika. Semua dihiraukan, apa yang menghalangi di jalan langsung ditubruk. Urusan ganti rugi itu beda cerita nanti.
Semua orang yang menunggu di Pos Pemberangkatan sibuk dengan jam tangan masing-masing. Semua sudah memiliki jagoannya sendiri, tentu ini sangat dinantikan. Deru motor mulai terdengar dari kejauhan mengalihkan semua perhatian. Mereka saling pandang cemas. Siapa yang datang lebih dulu itu? Apakah Dhika atau Revan, semua belum bisa mengenali. Dewan Pers kembali siap dengan kameranya.
Revan membanting setir kemudi dan terus mengikuti arah jalan. Sementara motor Dhika semakin pelan melaju. Meski yang lain bertanya ada apa, tapi tidak mungkin barisan di belakang Dhika menyalip sang Ketua Timnya.
Tidak berapa lama, semua orang kembali bersorak riuh saat mobil Presma juga terlihat, Tim Dhika mulai kelabakan karena Dhika tidak kunjung menambah kecepatan. Dhika tersenyum saat mobil Presma bisa melewati satu persatu barisan timnya. Dhika menajamkan mata mengawasi mobil Presma dari arah spion. Revan beranjak menginjak pedal gas dan Dhika pun sudah siap memutar gas. Mata elang itu semakin menyipit, ia masih satu langkah di depan Presma.
Satu. Dua. Tepat dihitungan tiga Revan berhasil mensejajarinya, tapi didetik itu pula Dhika sudah cepat memutar tangan dan ia pun sukses menembus garis finish lebih dulu, disusul hanya beberapa detik Revan pun menginjakkan rem di atas garis finish yang sama.
Kemenangan yang berselang tipis dan Dhika menjadi pemenangnya.
Tubuh Revan bergetar. Sorak penonton menenggelamkannya, juga semua orang yang berada satu tempat bersamanya. Tangan Adit menyentuh bahu yang bergetar hebat itu dari samping.
Akhirnya, semua hanya sia-sia.
***
Hari berganti, semua akan segera terganti. Dhika menghambur keluar dari mobil, dilihatnya Resya sedang berdiri di pinggir gerbang masuk kampus. Tera yang berada satu mobil dengan Dhika tidak bergeming menyaksikan hal itu.
Resya terus mengembuskan napas berat. Kampus ini, belum lama ia tinggal disini, bagaimana bisa, sudah menyeretnya pada permasalahan yang jauh dari bayangan?
“Kamu tidak masuk?” Satu suara itu menyadarkannya. Resya menoleh ke arah suara. Dhika sudah berdiri di dekatnya. Mereka saling pandang, terselimuti kebisuan dalam sesaat.
“Aku akan masuk,” jawab Resya dingin, mencoba mengabaikan.
Dhika melihatnya tidak percaya saat gadis itu benar-benar berpaling darinya seperti ini. Diraih lengan gadis itu agar berhenti, membuat Resya kembali menarik napas menahan emosi. Haruskah Dhika memulai lagi sekarang? Bertengkar? Berdebat? Apa pun itu, Resya sungguh sedang berusaha menghindarinya.
“Begini? Apa kamu akan terus begini?” tanya Resya mencoba menahan segala gemuruh sesak yang mulai lagi menyelimuti dadanya. “Apa yang kamu inginkan, sebenarnya?” Dhika membuang tawa mendengar semua kata yang Resya lontarkan.