TAHTA

Deasy Astari Dawangga
Chapter #10

BAB 10: BERBAIKAN


Resya kembali termenung sendiri di Taman Central. Ia meninggalkan ruang kelas setelah jam mata kuliah usai. Ia masih tampak lelah dengan keadaan. Ia sandarkan kepala di kursi taman itu, lalu memejamkan mata, rasa lapar benar-benar mengganggu moodnya yang sedang tidak ingin melakukan apa-apa.

Chesh!

Resya bergidik saat sesuatu yang dingin tiba-tiba menyentuh pipi kirinya. Ia membuka mata dan mendapati Dhika dengan sebotol air mineral dingin tergenggam di tangan. Resya memutar bola matanya sebentar. Menatap heran pada laki-laki yang sudah duduk di sampingnya sambil sibuk sendiri dengan ransel di pangkuan.

Dhika menyodorkan sebuah kotak makan, Resya semakin memicingkan mata penuh tanya.

“Makanlah. Aku yang membuatnya,” ucap Dhika. Hampir lepas tawa Resya mendengar itu. Seorang Dhika, masak? Resya menerima uluran itu tanpa banyak tanya, namun tetap menahan geli. Ia cukup merasa senang Dhika kembali datang menemuinya hari ini.

Resya menatap kotak di tangannya dan terdiam sesaat. Resya mengabaikan apa yang ada di pikirannya, memilih segera saja membuka kotak makan itu. Nasi goreng sempurna, matanya berbinar seolah melihat pemandangan begitu indah di depan mata. Dhika yang juga diam-diam memperhatikan merasa ikut senang. Ia senang melihat gadis itu tersenyum seperti sekarang.

“Kamu benar-benar membuatnya? Ini enak,” tanya Resya begitu satu suapan mampir di lidahnya.

Dhika menyembunyikan senyum mendengar itu. Baru akan dijawabnya, tapi Resya sudah tidak lagi memperhatikan. Sepertinya, yang tadi itu bukanlah pertanyaan secara khusus, membuat Dhika menyun saja. Resya terus menikmati sesuap demi sesuap nasi gorengnya dengan lahap.

Sebentar Resya menoleh kembali pada Dhika, kini laki-laki itu sudah sibuk dengan ponsel. Ia mengulum senyum melihat penampilan Dhika. Hari ini, lelaki itu tidak mengenakan jas hitamnya. Jas tersampir rapi di sandaran kursi. Ia hanya menggunakan kemeja putih dibalut dengan rompi hitam, juga dasi yang terselip di dalam, membuatnya terlihat sempurna.

Dia tampak lebih manusiawi dengan itu

Resya kembali menenggelamkan wajahnya. Ia sungguh merasa senang Dhika terlihat baik-baik saja seperti ini. Alangkah baiknya jika semua juga bisa baik-baik saja. Tapi, mana mungkin. Setitik kebahagiaan yang diperoleh seseorang dengan merebut milik orang lain, pasti ada setitik luka ditinggalkan pada yang lainnya.

“Kamu suka?” tanya Dhika menyadarkan Resya.

“Y-ya. Tentu. Mungkin karena aku sedang lapar, jadi rasanya bisa seenak ini,” jawab Resya, ia tidak mau memuji Dhika terang-terangan.

“Jadi, itu tidak benar-benar enak?” tanya Dhika dengan nada tersinggung. Resya tertawa melihat wajah Dhika menatap sebal padanya.

“Kembalikan!” lanjutnya ingin mengambil nasi yang hanya tinggal sedikit di dalam kotak, tapi Resya bisa lebih cepat menghindarkannya dari jangkauan Dhika. Alhasil, mereka pun jadi berebut kotak nasi itu.

“Kamu bilang tidak enak. Jadi, jangan dimakan!” ujar Dhika tidak terima.

Lihat selengkapnya