“Semua persiapannya sudah beres, kan?” tanya Dhika di ruangan yang kini menjadi kuasanya secara resmi. Sejak perlombaan itu berakhir, ia sudah dinyatakan menggantikan Revan sebagai Presma secara mutlak. Kini, ia sudah mengambil alih semua tugas yang dulu diemban Revan di kursi tertinggi BEM.
“Ya. Semua sudah siap,” jawab Reinal. “Kami sudah cek ulang lokasi. Barang-barang yang akan dibawa, termasuk dari semua mahasiswa juga sudah mulai dikumpulkan,” lanjutnya.
“Oke. Dana yang akan digunakan untuk renovasi masjid juga sudah disetujui. Aku ingin mengadakan rapat untuk ini, besok. Tolong persiapkan,” ujar Dhika kembali memberi perintah.
“Baik.” Reinal sedikit menundukkan kepala hormat dan keluar dari ruangan itu. Menyisakan Dhika sendiri di ruang kebesarannya. Dhika berdiri melihat keluar jendala. Ruang BEM berada dilantai atas Ruang Rektor. Ia melihat ke arah Taman Central yang terpampang sempurna dari ruangan itu.
Dhika kembali mengedarkan pandangan seluas ruang kantornya. Kemudian menatap dingin bertumpuk berkas di atas meja. Ruangan yang akhirnya bisa kembali ia dapatkan, membawanya terpikir akan keadaan Revan di luar sana.
“Seharusnya ia bisa mengerti,” ujar Dhika lirih. Kemudian matanya kembali menatap tajam menembus jendela.
***
Revan berada di ruang perpustakaan, sendiri. Semua mata yang bersimpang dengannya benar-benar menatap prihatin. Revan tidak memedulikan orang-orang sekitarnya yang tengah berdesas-desus akan dirinya. Ia hanya menyunggingkan senyum tak acuh, tanpa ada yang melihat.
Meski bagaimanapun
Orang lain juga tidak akan pernah tahu bagaimana yang sebenarnya
Mereka hanya akan menilai dari yang mereka lihat
Jadi, biarkan saja
Percuma menjelaskan, jika mereka tidak melihatnya sendiri
Mereka hanya akan mengangguk
Tanpa memedulikan kebenarannya
***
Pagi kembali menyambut. Entah apa membawa Resya datang sepagi ini. Ia merentangkan kedua tangan menyambut terpaan angin. Langkahnya begitu pelan, berusaha menikmati kesegaran yang ditawarkan penguasa kekosongan ini. Kedua telinganya tersumbat headset putih, alunan musik terus menjamah pendengarannya dengan lembut.
Resya masih mengikuti langkah kaki yang menuntunnya menuju ruang kelas. Baru kakinya akan melangkah masuk, namun terhenti saat telinga yang tersumbat itu juga merespon pada suara orang bercakap dengan ponsel di dalam sana.
Resya sembunyi dan menguping di balik satu pintu yang masih tertutup. Suara itu tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mereka hanya terhalang pintu itu saja. Keadaan masih benar-benar sepi sekarang.
“Aku tidak akan membiarkan Dhika mengambil semuanya lagi,” ucap orang itu pada lawan bicaranya. Mendengar nama Dhika disebut. Ia buru-buru melepas headset di telinga. Resya berusaha ingin mendengar lagi, tapi sambungan itu sudah diputus. Ia menggeleng muak, ternyata semua belum berakhir. Resya mengintip dan kembali ternganga melihat siapa yang kini ada di kelasnya.
Reinal?
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Resya begitu pintu terbuka, ia menelan ludah tidak mengerti. Reinal menyunggingkan bibir mendekat.
“Menemuimu,” jawab Reinal santai.
“Aku mendengarnya. Kamu merencanakan sesuatu?” tanya Resya tanpa rasa takut.
“Kamu akan membantu? Kamu dipihak Revan, bukan? Aku juga sama,” jawab Reinal membuat Resya menggeleng pelan karena geram. Ia benar-benar tidak percaya mendengar semua ini.