Deni menunggu seseorang di tempat parkir. Ia bersandar pada salah satu mobil yang ada disana. Tangannya sibuk menekan-nekan layar ponsel karena bosan.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya seseorang menghentikan aktivitas jarinya. Deni memasukkan kembali ponsel itu ke saku. Ia menatap sosok di depannya cukup lama. Saling bertatapan tanpa ingin menyapa.
“Kemarin, apa yang terjadi?” tanya Deni tanpa basa-basi. Reinal sedikit menoleh, paham dengan apa yang Deni maksud. Namun ia tetap berusaha mengabaikan pertanyaan itu, tepatnya memang merasa tidak perlu memberi jawaban. Tangannya memencet tombol pembuka kunci mobil otomatis.
“Urus urusanmu sendiri,” jawab Reinal terdengar samar. Sebelum masuk ke dalam mobil dan pergi, Reinal balas menatap ke arah Deni, Deni sangat paham arti sorot mata itu, jangan lagi ikut campur dan mengacaukan semua!
“Orang itu. Masih saja berhati dingin,” gumam Deni berembus pelan. Sedetik berikutnya kembali ia menatap tajam pada mobil Reinal yang baru berbelok keluar dari gerbang kampus.
***
Kampus sudah mulai lenggang, sebelum ia enyah sepenuhnya dari sana, Deni menghentikan motor saat tidak sengaja melihat Resya berjalan menuju arah yang sama dengannya. Ia mengamati dari balik spion. Gadis itu masih berjalan tidak terlalu jauh di belakang.
“Ikut aku!” ujarnya sedikit menarik Resya yang memang terlihat tidak memperhatikan sekitar.
“Eh? Apa yang kamu lakukan?” tanya Resya menatap heran.
“Naik!” pinta Deni lagi.
“Ke mana?” Deni tidak menjawab, hanya mengaba dari sorot mata agar gadis itu cepat menurutinya. Resya menghela napas, ia tidak mengerti, tapi Resya akhirnya menuruti pinta Deni.
Deni kembali melajukan sepeda motor membelah jalan yang nyaris tidak pernah sepi setiap harinya. Kedua orang itu sama-sama duduk tenang di atas jok motor dengan pikirannya sendiri. Resya semakin terlihat lesu dengan semua hal yang kini terjadi. Antara ia dan Revan, ia dan Reinal, juga ia dan Dhika, mereka semua membuatnya benar-benar pusing.
Sejak di Taman Central lalu, Dhika sungguh semakin sulit dihubungi apalagi untuk ditemui. Membuat Resya semakin bingung juga khawatir akan keadaannya. Resya terus-terusan membayangkan hal buruk akan terjadi pada Dhika, juga kemungkinan yang akan terjadi pada Revan. Ucapan Reinal kemarin yang membuatnya seperti sekarang. Bingung dengan pikirannya sendiri.
Deni memarkir motor di depan sebuah taman kota. Resya turun dengan raut penuh tanya melihat tempat yang mereka datangi.
“Kamu ingin mengajakku kencan?” tanya Resya memasang tampang polos. Membuat Deni melirik sinis dan kembali mengabaikan. Resya tersenyum, lalu mengikuti Deni yang sudah berjalan masuk lebih dulu meninggalkannya.
Seperti biasa Resya menyejajarkan langkah dengan Deni, ide jail selalu muncul tiap ia bersama sang Ketua Tingkat ini.
“Kalau Dhika tahu, dia pasti akan membunuhmu!” bisik Resya mulai mengusik Deni yang terus mendiamkannya.
Kini Deni memicingkan mata. Ia berhenti sejenak, berencana membalas balik gurauan Resya. “Sejak kapan kamu resmi menjadi Ibu Negara, hm?” ujar Deni tidak mau kalah.
Deni menyeringai melihat wajah Resya mulai memerah. Gadis itu mendesis sebal padanya. Resya tidak menjawab dan langsung pergi mendahului Deni yang tersenyum menang di belakang. Resya menggerutu sendiri, merasa malu juga kesal. Ia malu karena ketahuan jika dirinya berharap jadi orang penting di sisi Dhika.
“Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?” tanya Resya sugal pada Deni yang masih terus memperlihatkan senyum mengejeknya.
“Ayo duduk!” ajak Deni kemudian.
Resya mengikuti Deni ke salah satu kursi taman, kursi sederhana yang dibuat secara kreatif dari bahan semen dibaurkan dengan material lainnya sehingga menjadi sebuah karya seni berguna seperti ini. Kedua orang itu masih bisu. Beruntung, Resya selalu senang berada di taman mana pun. Taman adalah tempat kesukaannya. Sebentar kemudian ia melirik sinis ke Deni yang sibuk membuka jaketnya.
Bagus sekali ia bisa tahu aku suka taman