Resya turun dari taksi sedikit ragu. Berkali ia memastikan pada sopir apa mereka tidak salah alamat, tapi jawabannya tentu saja tidak.
Resya berdiri tepat di depan rumah berpagar besi warna emas yang mengkilap saat berpantul dengan cahaya matahari. Pagar itu menjulang tinggi, pucuk runcingnya seperti hendak menembus langit. Dari sela-sela pagar, bisa dinikmati bentuk bangunan yang terlihat fantastis dimata. Rumah megah yang menjadi bangunan sentral terpampang apik dari jauh.
Resya ternganga, menggeleng takjub. Sungguh, istana negeri dongeng terpampang nyata di hadapannya.
“Bagaimana caraku masuk ke dalam?” gumam Resya bingung.
Resya celingukan seperti orang bodoh. Sesaat kemudian ia menggerutu sendiri. Menyesali, harusnya ia tidak datang seorang diri. “Apa yang harus kulakukan?” lirihnya makin bingung. Apalagi melihat ada penjaga di sisi kanan dan kiri pagar emas itu, membuat Resya menelan ludah dan memilih sedikit menjauh.
Cukup lama Resya pontang-panting dengan pikirannya sendiri yang berdebat untuk masuk atau tidak, lalu dari kejauhan matanya menangkap sosok yang keluar setelah pintu gerbang itu terbuka, Dhika. Benar, karena cukup lama tidak bertemu, hari ini Resya pergi ke rumah lelaki itu setelah mendapat alamat dari salah satu temannya.
Angin menyibak helai rambut lurusnya. Pandangan Resya perlahan menjadi sayu, tanpa mau beralih sedetik pun dari seseorang disana. Tanpa aba-aba kakinya berlari menyongsong seseorang yang duduk dan didorong pada kursi roda. Air mata meleleh deras, jatuh tanpa seizin tuannya.
“Kamu sakit? Dimana? Dimana yang sakit?” serbunya dengan berbagai pertanyaan bersama isak tangis tertahan.
Dhika sedikit tertawa melihat Resya tiba-tiba memperlakukannya sepeti sekarang. Ia tertawa menyembunyikan rasa haru karena perbuatan gadisnya ini. Resya berjongkok memegang sebelah kaki Dhika sambil menangis khawatir, juga entah segudang perasaan luka tengah bersarang menjadi satu kini di dada Resya.
“Apa kamu kesakitan? Katakan!” ujar Resya lagi masih dalam isakan. Membuat Dhika setengah mati menahan diri agar tidak memeluk gadis ini.
“Apa yang kamu lakukan? Aku hanya lelah karena bekerja terlalu keras belakangan ini. jadi, aku menggunakan kursi roda seperti sekarang.” Kedua tangan Dhika menangkup bahu Resya sehingga gadis itu bisa melihatnya yang tengah tersenyum tulus untuk berterima kasih. Terima kasih karena telah mau memikirkan dan menghawatirkan keadaannya. Resya ikut tersenyum dan menyeka air mata. Hatinya merasa tenang bisa melihat Dhika. Namun, juga membuatnya semakin ketakutan seorang diri. Ia tidak pernah melupakan apa yang dikatakan Reinal kemarin.
***