Resya menaiki tangga fakultas sedikit riang dari biasanya. Sesaat sebelum akhirnya kedua mata bulat itu tidak sengaja menangkap dua sosok asing berpenampilan sedikit aneh melintas dan melewatinya menuju arah yang juga ingin dia tuju. Resya memang ingin mampir ke fakultas Revan, rasanya ia perlu untuk melihat keadaan laki-laki itu. Resya memutuskan untuk mengikuti karena merasa janggal. Resya heran, kenapa semua tidak mengindahkan kehadiran mereka? Semua tetap sibuk dengan kegiatan masing-masing. Resya mulai tidak nyaman dengan keadaan yang membuatnya terlihat seperti penguntit, beruntung semua tidak memperhatikan.
Resya masih terus mengikuti sosok yang berjalan naik ke lantai atas, lokasi ruang untuk semester akhir. Ia tetap menjaga jarak, otaknya semakin bertanya-tanya. Dua orang bertopi dan bercadar baft itu terus menuju ke lantai atap gedung, dimana saat ini seseorang berjaket tengah berdiri menikmati embusan angin di sana.
Langkah mereka semakin cepat. Resya merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Kedua orang itu saling memberi kode, keduanya tersenyum karena Resya masih mengikuti. Tentu saja, ini disengaja dan Resya tidak menyadari.
“Re-van?” lirihnya panik dan makin cemas saat ia melihat salah satu dari pria bertopi itu mengeluarkan pisau dari sakunya. Tubuh Resya bergetar, apa yang harus ia lakukan? Revan belum menyadari kedatangan mereka.
“Revan!” teriaknya mengalihkan perhatian laki-laki di kejauhan.
Revan pun menoleh dan mendapati dua orang itu juga Resya disana. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Resya berteriak cemas di kejauhan memanggil namanya, dan dua laki-laki ini. Siapa?
Kedua orang itu kembali saling memberi aba. Beberapa detik kemudian Revan terbelalak tidak percaya.
Grebh! Jleb!
Darah terciprat di tempat Resya. Revan pun berlari kesetanan menuju tempat mereka. Satu orang lainnya belum bergerak sampai Revan berhasil menarik satu lainnya dari hadapan Resya. Baru ia ingin melayangkan tinjunya satu orang itu mendorong Revan dan segera membawa lari partner satunya dengan cepat dari tempat itu. Revan hendak mengejar tapi terhenti, sadar ada Resya di belakang yang terjatuh dengan banyak darah.
Nafas Resya memburu karena shock. Tangannya berlumuran darah segar milik sendiri. Saat laki-laki itu menerjang ke arahnya dan Resya juga sudah tahu dia membawa pisau, ia jadi bisa memperkirakan bagaimana yang akan terjadi setelah itu. Perhitungannya cukup sempurna, saat pisau mengarah ke sisi perut ia bisa cepat mengerti dengan mengorbankan kedua tangan untuk menahan benda dingin mulus yang hampir merobek sisi perutnya dengan tajam.
Kedua orang tadi membelah keramaian kampus. Semua mulai bertanya apa yang terjadi. Tidak sengaja, mereka menabrak Dhika dan Tera yang baru datang. Pisau berlumur darah itu terjatuh. Semua terkejut dan berteriak panik melihat benda berlumur darah segar, entah milik siapa, termasuk Dhika dan Tera, mereka saling pandang panik penuh tanya.
“Atap! Atap! Mereka di atap!” teriak seseorang tidak kalah panik menyeru yang lain.
Semua segera berlari menuju atap gedung, tidak terkecuali Dhika dan Tera. Napas Dhika terengah-engah karena tiba-tiba punya firasat buruk. Ia cepat membelah kerumunan itu.
“Resya! Hei! Kamu mendengarku? Bertahanlah, kumohon!” Revan terus berujar panik berusaha membuat Resya tetap sadar. Mata Resya mulai berkedip lemah. Revan semakin panik, darah menodai jaket putih halusnya. Revan memeluk gadis itu sesaat, ia sendiri masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi.
“Resya!”
Satu suara lain mampu Resya dengar sebelum akhirnya ia menutup mata tidak sadarkan diri. Dhika cepat membopong tubuh Resya yang terkulai, dan melepas paksa tangan Revan. Dhika segera membawa Resya pergi, kembali membelah kerumunan dan meninggalkan Revan sendiri, terduduk tidak berdaya dengan darah yang mengotori tangan dan sekujur pakaiannya. Tera menghampiri, merasa iba melihat keadaan mantan Presmanya itu.
“Kamu baik-baik saja?”
***
Resya terbaring di bangkar rumah sakit. Baju yang ia pakai sudah diganti dengan baju pasien. Telapak tangannya juga dibalut perban dengan sempurna, menutupi bagian luka dari sayatan pisau tadi. Dhika setia duduk menemani di sisinya. Mata tajam itu kini memancarkan kesedihan tanpa beralih dari wajah tenang Resya yang sedang tidur.