Mata kuliah pertama usai, Resya juga beberapa teman sekelasnya masih memilih tinggal meski banyak yang langsung pulang karena mata kuliah selanjutnya sudah dipastikan kosong.
Resya menoleh ke meja Deni juga Tera. Entah kemana dua orang itu hari ini. Kalau Tera, Resya bisa mengerti, pasti ada urusan di BEM, tapi tidak biasanya Deni tidak hadir begini. Ketua Tingkat itu termasuk salah satu mahasiswa teladan.
“Duluan, ya!” ujar Resya pada beberapa teman di dekatnya.
“See you, Res?” jawab salah satu dari mereka mewakili. Resya tersenyum seraya melambaikan tangan, namun belum sempat beranjak, kehadiran Mela, Raya, dan Maimuna mengurungkan niatnya.
Melihat hawa kurang bersahabat dari ketiga orang itu, membuat teman-teman Resya memilih pergi lebih dulu.
Ketiganya melihat Resya dengan tatapan jengkel dan rasa penghinaan. Resya terpaksa diam di tempat. Ia bisa menebak apalagi yang akan terjadi padanya kini. Mela makin menatap tidak suka padanya, juga Raya, bahkan Maimuna pun ikut andil bersama mereka.
Resya menelan ludah, khawatir. Meski bagaimanapun, jika mereka melakukan hal buruk tidak mungkin ia berani membalas. Resya tidak berkutik dan pasrah di tempat. Mereka pasti sedang kesal terhadapnya, dan itu benar.
“Bagaimana? Kamu pasti senang melihat kami berpenampilan seperti ini,” ujar Mela memulai aksi.
Resya benar-benar mati di tempat. Ia memutuskan tidak akan melawan mereka, biar saja. Resya hanya berharap setelah mereka puas, mereka akan melupakan semuanya.
Mata Resya memperhatikan dalam diam. Memang, mereka tampak aneh tanpa jas hitam kebanggaannya. Mereka yang biasanya selalu menarik perhatian karena almamater BEM, kini terpaksa harus turun kasta menjadi mahasiswa yang tidak ada bedanya dengan anak-anak lain. Apa pun yang akan terjadi, Resya merasa pantas mendapatkan amukan mereka. Resya memahami perasaan mereka, setelah mereka pertaruhkan semua untuk mendapat dan mempertahankan jas hitam itu, namun kini pada akhirnya hanya tinggal tergantung di lemari sia-sia. Perasaan siapa yang bisa semudah itu menerimanya?
“Maafkan aku,” ujar Resya lirih, tulus memohon maaf. Ketiga orang itu semakin bersungut mendengar pernyataannya.
“Maaf? Kamu bisa membeli apa dengan kata itu, ha!” jawab Mela menghardiknya keras. Ia mendekati Resya yang masih menunduk pasrah. Mela melepas bando merah di rambut Resya, pelan namun membuat Resya bergidik. Sedetik kemudian, benda itu terlempar ke lantai tidak jauh darinya.
“Akh!” Resya memekik saat jari-jari lentik Mela dengan kasar menjambak rambut panjang miliknya.
Kerumunan makin banyak yang ingin melihat apa yang terjadi di antara mereka. Mahasiswa-mahasiswa lain semangat menonton adegan live tersebut. Masing-masing seolah mulai menjagokan pilihannya dalam hati. Sungguh kebiasaan buruk.
“Lepaskan tanganmu!” Suara dingin Tera memecah kerumunan.
Tera mendekati para gadis itu dengan tatapan tajam memberi peringatan, tidak mau kalah sengit dengan Mela dan kawan-kawan. Mela memicingkan mata sinis melihat Tera berjongkok mengambil bando di lantai.