Hari minggu sore, kehadiran Dhika yang tiba-tiba di rumahnya membawa Resya berakhir di kamar tidur megah milik lelaki itu.
Resya tengah menunggu Dhika, entah sedang menyiapkan apa. Sebelum jadi pergi untuk kencan berdua, laki-laki itu menerima pesan dan mendadak harus mengajak Resya pulang dulu ke rumah istana.
Kedua mata Resya sibuk mengamati ruang tempatnya kini berada, tertata dengan style sederhana. Simpel dan rapi, sesuai dengan kamar yang bernuansa hitam dan putih itu. Tempat tidur king size berada di ujung tengah. Perabotnya juga ditata tanpa menghilangkan kesan luas dan megahnya yang alami.
Resya membawa langkah mendekati dipan kecil di sisi tempat tidur. Ada tiga foto terbingkai indah di atasnya. Ketiga bingkai ini satu-satunya benda yang memiliki warna emas. Satu warna wajib bagi keluarga Dhika. Warna emas menandakan ciri khas dan warna kehormatan keluarga Dhika.
Pandangannya terpaku pada salah satu bingkai yang berisi foto seseorang yang membuatnya menatap bertanya.
“Kenapa dia punya foto ini?” gumam Resya heran sekaligus penasaran.
“Apa yang kamu lihat?” Suara bariton Dhika muncul dari balik pintu besar dan mengalihkan perhatiannya.
“Sejak kapan kamu punya foto ini?” tanya Resya menunjuk dengan dagu.
“Sejak umur dua belas tahun,” jawab Dhika. Ia yakin, Resya juga mengenali siapa gadis kecil di foto itu.
“Kamu menyukainya? Kenapa mengambil foto diam-diam, hm?” tanya Resya lagi membuat Dhika ingin tertawa.
“Aku bisa langsung mengenalimu saat kali pertama bertemu, anehnya kamu tidak,” jawab Dhika membuat Resya berdeham. “Sekarang apa kamu sudah ingat? Kita bahkan pernah bermain bersama saat kecil,” lanjut Dhika.
“Itu hanya terjadi sekali, aku lupa kita pernah mengambil foto bersama,” jawab Resya. Dhika mengangkat bahu, memang benar dulu mereka hanya pernah bertemu sekali. Itu pun saat tidak sengaja karena sama-sama sedang bermain di taman.
“Jadi, anak yang dulu mengambil foto ini, Tera?” lanjut Resya bertanya. Ingatannya sedikit kembali ke masa itu.
“Benar,” jawab Dhika mengangguk.
“Pantas saja Tera sangat setia padamu,” ucap Resya lalu beranjak menjauh dari tempat itu.