TAHTA

Deasy Astari Dawangga
Chapter #17

BAB 17: PERKELAHIAN LAGI


Resya kembali memarkirkan mobil di kampus setelah ia memutuskan untuk pergi lebih dulu dari Rumah Istana Dhika. Ia meninggalkan Dhika yang tengah berbincang serius dengan seseorang, entah siapa Resya tidak tahu.

Luka bekas pukulan Revan tadi sudah ia obati, namun sepertinya Dhika tidak pernah punya waktu yang cukup untuk sejenak beristirahat. Untuk sesaat Resya benar-benar sedih membayangkan kesibukan Dhika. Selain di BEM, bukankah Dhika juga seorang pewaris tunggal keluarganya?

Resya kembali ke kampus dan berharap masih bisa menemui Revan disana. Ia mempercepat langkah. Resya nyaris memeriksa seluruh ruang yang dia rasa kemungkinan Revan ada di dalamnya. Namun, tetap saja nihil.

“Apa mungkin ia sedang ada di Taman?” gumamnya menyebutkan alternatif tempat terakhir yang bisa dituju. Masih dengan menyeret paksa kakinya, ia melangkah ke Taman Central. Kembali ia menuruni anak tangga yang makin terasa tiada habisnya itu dengan lesu.

 Resya sampai di jalan masuk Taman Central dari arah fakultasnya, ia sudah bisa mencium aroma khas di Taman ini. Sebentar ia menikmati udara di taman, sedikit kembali memberinya kesegaran. Tidak mau niatnya terlupakan, Resya masuk ke area tengah taman, tempat dimana ia sering menemukan keberadaan Revan.

Perasaan Resya tidak enak karena mendengar suara gaduh saat ia makin mendekat. Ternyata benar, pandangannya langsung disuguhi perkelahian Revan, lagi. Kali ini, lelaki itu bersama Reinal.

Bruk!

Satu pukulan terakhir dan Revan terjerembap jatuh ke lantai taman yang keras. Wajahnya meringis kesakitan, namun masih tetap memberikan senyum pada Reinal di hadapannya.

“Masih ingin memukulku? Lakukan saja, jika itu bisa membuatmu berhenti setelah ini,” ujar Revan menawarkan diri dengan mudah. Padahal sekujur tubuhnya sudah remuk.

Reinal membuang tawa, “Kamu kira, aku akan berhenti? Kamu memang pantas mendapatkan ini!” geram Reinal lalu kembali menarik kerah kemeja Revan yang terbalut rompi dengan kasar. Memaksa tubuh yang sudah babak belur itu berdiri.

“Ini untuk keringat kami yang sudah kamu sia-siakan!” geram Reinal. Revan menutup mata, siap menerima pukulan itu. Benar. Ia menyadari ini sangat pantas diterima. Setelah Revan memutuskan untuk benar-benar menyerah secara sepihak, setidaknya hal seperti ini bisa sedikit menebus rasa bersalah terhadap orang-orang yang pernah berjuang bersamanya selama ini.

Revan merasakan Cengkeraman Reinal semakin kuat. Resya mematung di tempat melihat hal mengerikan kembali terjadi pada Revan. Resya menahan agar air matanya tidak keluar mengingat keadaan Revan yang sangat memilukan beberapa hari ini. Bahaya seolah terus mengancamnya. Bagaimanapun, Resya juga pernah terlibat. Inilah alasan ia tidak bisa melihat Revan terluka seorang diri.

Sebelum beranjak Resya melihat ada ranting pohon tergeletak tidak jauh darinya. Kedua kakinya mulai melangkah mengambil ranting itu dan melemparnya tanpa ragu.

Dakh!

“Akh!” pekik Reinal saat ranting kayu lapuk terlempar memukul lengannya. Membuat cekalannya di kerah Revan lepas. Laki-laki itu mendesis geram. Ia melihat siapa yang berani melakukan ini padanya. Resya datang dan segera menangkap tubuh Revan yang terhuyung tidak seimbang.

Lihat selengkapnya