Reinal merebahkan tubuhnya di bangku panjang ruang BEM. Mata tajamnya meredup dan perlahan menutup. Kepalanya kembali terisi memori-memori yang sudah lama ia biarkan tersimpan. Daya ingatnya menghubungkan bagian kejadian lama dengan yang baru saja dialaminya.
“Kamu ingin bertarung denganku?” Suara Resya terngiang kembali.
“Ingin bertarung denganku, juga?” Suara gadis yang pernah ditemuinya dulu juga kembali di ingatan Reinal.
Reinal berusaha menampik kenyataan ini. Mana mungkin Resya adalah gadis itu? Reinal menggeleng cepat.
_Flashback_
Reinal remaja dicegat dua anak laki-laki sebayanya sepulang sekolah. Kedua anak itu saling menghajar Reinal bersamaan. Meski berusaha melawan, karena dua lawan satu, akhirnya Reinal roboh lebih dulu. Pukulan-pukulan mulai menghujaninya.
Dua orang itu adalah geng palak dari sekolah lain. Lebih tepatnya preman kecil, karena kerjaan mereka selalu meminta uang dari anak-anak sekolah lain, terlebih yang kalangan orang kaya seperti Reinal.
Saat salah seorang menariknya berdiri dan satu lagi mulai menggeledah pakaiannya, tiba-tiba ada yang menghentikan mereka.
Dakh!
Seorang gadis berkaos olahraga tampak feminim dengan rok seragamnya, juga rambut yang tergelung rapi nan cantik, tiba-tiba sudah menengahi keberadaan Reinal dengan dua anak lain.
Reinal terdorong ke belakang ketika tangan yang mencengkeram kerahnya dipukul dengan gagang ranting oleh gadis itu.
“Ingin bertarung denganku, juga?” ujar gadis itu tersenyum menantang, lalu kembali memukulkan ranting itu dengan cepat sebelum kedua anak itu menyadari siapa lawannya.
Reinal dari belakang hanya membuang tawa memperhatikan gerakan tangan yang cukup cepat dari gadis itu. Sebenarnya, di posisinya sekarang, bisa saja Reinal membantu. Namun, ia sudah cukup merasa aman, dan merasa hanya ingin terus memperhatikan gerak gadis yang tidak dia tahu siapa. Saat itu, Reinal merasa terhibur sekaligus terpesona.
Pada akhirnya, dua laki-laki itu lari kabur dengan beberapa lebam di tubuh karena pukulan ranting kayu dari tangan lincah gadis itu. Reinal tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah penyelamatnya saat itu. Karena setelah mereka lari, si gadis juga segera pergi tanpa mengatakan apa-apa padanya. Juga tidak menunggu dirinya untuk berterima kasih. Sungguh, pertemuan singkat dan berkesan bagi Reinal.
_Flashback Off_
“Kamu baik-baik saja?” tanya Dhika menyadarkan Reinal dari kenangannya.
Reinal berdeham lalu duduk dan memperbaiki sikap.
“Pakai ini,” lanjut Dhika menaruh kotak P3K di depan Reinal.