Suasana hati Dhika sedang kurang baik, sehingga lagi-lagi membuat Tera mematung di sisinya dengan tampang melas, tidak mengerti harus mulai dari mana untuk mengingatkan agar Dhika berhenti. Presma baru itu tampak sibuk sendiri di mejanya.
Tera uring di tempat, sungkan untuk bicara lebih dulu, tiga puluh menit sudah lewat dan Dhika seperti tidak melihat ada orang lain di dekatnya. Tera kembali melihat perputaran jarum di pergelangan tangan, sebentar dan kembali melenguh pelan menyaksikan kesibukan Dhika yang tiada berkesudahan.
“Kamu tidak ingin istirahat?” tanya Tera mulai khawatir karena Dhika terus berkutat dengan dokumennya. Bukan apa-apa, meski Dhika jarang sekali membuat kesalahan. Tapi, saat ia dalam mood kurang bagus seperti ini, sekalipun ia tetap menyelesaikan tugasnya secara kilat, tapi lihat! Dokumen-dokumen itu pasti akan tercecer dan terpisah dari kumpulannya masing-masing dan itu hanya akan membuat kerjaan orang lain bertambah. Siapa yang akan membereskan semua itu nantinya? Tera mendesah pasrah kali ini. Dokumennya buyar kemana-mana.
“Ada Reinal, dia akan mengerjakannya. Jadi, berhentilah bermain dengan kertas dan laptop itu, Tuan!” gerutu Tera mengiba.
Dhika tidak terganggu di tempat. Sesaat ia berhenti, melempar tatapannya ke Tera yang sedikit terkejut akan perubahannya. Rahang Dhika tampak bertaut keras dan menampakkan sisi ketegasannya.
“Cari tahu siapa yang membuatku lumpuh saat itu!” perintah Dhika tiba-tiba membuat Tera membulatkan mata penuh tanya. Apakah ia tidak salah dengar?
Tanpa memedulikan Tera lagi, Dhika langsung pergi dari ruangan itu, tidak lupa menyabet jas hitam di kursi kebesarannya. Tera masih terpaku, belum percaya dengan perintah Dhika.
Tera menoleh ke pintu ruang BEM yang kini tertutup rapat, menyisakan dirinya sendiri. Detik berlalu, Tera baru sadar kenapa ia masih di sana?
“Eh? Dia benar-benar meninggalkanku?” tanya Tera sendiri dengan napas memburu, ia baru saja berlari namun mobil merah Dhika sudah enyah dari pandangannya.
Tera menggerutu putus asa, “Tuanku, kamu tega sekali!”
“Tera! Apa yang kamu lakukan disini?” Suara Resya dari belakang membuatnya berpaling.
“Kalian belum pulang? Di mana Dhika?” tanya Resya sambil melihat kesana kemari, membuat Tera semakin menyun. “Dia meninggalkanmu?” lanjutnya menahan tawa. Tera hanya bisa menghela napas pasrah.
“Ayo, biar aku antar!” ucap Resya membuat Tera tersenyum senang.
“Kamu memang yang terbaik. Kemarikan itu, aku yang akan menyetir,” ujar Tera dengan senang hati. Resya melempar kunci mobil di tangannya. Membiarkan Tera yang mengambil mobil ke tempat parkir.
“Resya, apa kalian hari ini bertengkar lagi?” tanya Tera memulai pembicaraan di dalam mobil. Tera masih merasa aneh tentang perintah yang diberikan Dhika. Tidak biasanya Dhika membahas lagi kecelakaan itu, apalagi dia yang mulai meminta lebih dulu untuk menyelidikinya.
Jujur, Tera malah khawatir melihat Tuannya seperti itu. Dhika membuat gelagat aneh kali ini, setelah sekian lama kenapa baru sekarang Dhika ingin mencari tahu? Tera merasa belum bisa memahami Dhika sepenuhnya. Ia penasaran apa yang membuat Dhika ingin mengungkit masalah itu saat ini.