TAHTA

Deasy Astari Dawangga
Chapter #20

BAB 20: PENCULIKAN


Revan keluar dari halaman kampus dengan langkah santai, terasa ringan seolah tidak ada lagi beban yang dipikul. Setelah lebih dari setengah hari ia habiskan mengikuti kelas mata kuliah, Revan berniat ingin jalan-jalan.

Kebetulan pagi tadi Revan meminta sopir mengantarnya, jadi kini ia bisa bebas mau berjalan kaki menikmati suasana di kota kelahirannya ini. Terasa seperti lama sekali Revan tidak menghirup udara sebebas ini. ke mana saja ia selama ini?

Revan masih melangkahkan kaki, berjalan pelan menikmati sudut-sudut kota, pemandangan itu nyaris telah banyak ia lewatkan, banyak bangunan baru yang tidak ia perhatikan sebelum ini. Seperti pasar tradisional tempat ia menjejakkan kaki sekarang, misalnya.

Revan masuk ke gerbang masuk ke area dalam, nuansa tradisional dan modern saling berpadu karena sudah ada eskalator di sana. Ia tersenyum penuh melihat interaksi secara langsung dari para pedagang dan pembeli. Ia merasa terhibur.

Revan menghampiri seorang ibu penjual jajanan kecil khas pasar tradisional. Revan banyak bertanya nama jajan ini dan itu, ikut andil dalam kebisingan suasana sekitarnya. Mata Revan berbinar saat berhasil mencicipi kue lapis yang baru dia beli.

“Bagaimana aku bisa melewatkan makanan seenak ini,” gumamnya.

Kehadiran Revan cukup menjadi pusat perhatian di tempatnya berdiri, tapi ia bersikap biasa saja. Revan melanjutkan memilih kue yang menarik untuk dimakan. Tanpa menyadari ibu penjual melongo melihat kerakusannya.

Beberapa orang memandangnya heran namun takjub. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, mereka tidak menyangka ada anak muda kaya macam Revan bisa santai di tempat seperti ini. Para gadis dan ibu-ibu yang ikut nimbrung belanja di dekatnya saling berbisik memuji wajah tampan Revan, ada juga yang baru melintas melirik dengan senyum malu-malu. Sementara Revan hanya asyik dengan jajanan dan dirinya sendiri. Dasar!

“Tolong, aku mau ini, ini, ini dan ini,” ujar Revan semangat meminta penjual untuk membungkuskan jajan yang ia tunjuk. Revan sedikit heran saat ibu itu tidak segera meladeni keinginannya. Ia jadi salah tingkah sendiri.

Ibu penjual itu menoleh kesisi kirinya, Revan pun mengikuti arah pandang itu dan bisa ia dapati kerumunan wanita muda yang berkali-kali curi pandang ke arahnya dan saling berbisik entah apa. Saat mereka sadar Revan balik memperhatikan, mendadak kerumunan itu kembali berpencar ke aktivitasnya masing-masing. Revan hanya membuang tawa saja melihatnya.

Revan berjalan keluar ditemani seplastik kue pasar yang tadi di belinya dengan harga murah  meriah untuk ukuran kantongnya.

Ia melihat-lihat semua aktivitas dari dalam hingga ke luar pasar sambil sibuk mengunyah jajanannya dengan riang. Revan kembali berhenti saat matanya melihat tempat aksesoris. Tanpa berpikir panjang lagi, ia menghampiri gerobak itu.

Revan memperhatikan satu persatu ada apa saja di dalam gerobak, mencari sesuatu yang menarik. Tidak membutuhkan waktu lama, ia mendapat sebuah bando hitam dengan mawar merah di atasnya. Revan tersenyum puas melihat satu benda itu. Kembali Revan meminta agar dibungkuskan untuknya. Satu lagi, sepasang gelang couple, Revan juga mengambil benda itu.

“Akan kuberikan ini untuk Resya,” gumamnya senang dan memasukkan bando hitam itu ke dalam ransel. Sepasang gelang itu masih ditimang-timangnya sepanjang sisa perjalanan.

Gelang tali yang lebih cocok untuk ukuran anak-anak SMP atau SMA, Revan tersenyum karena merasa konyol saat berpikir untuk memberikan satu gelang itu pada Resya nanti. Untuk hadiah pertemanan mereka, bolehlah.

Mobil hitam tiba-tiba berhenti menghadang langkah ceria Revan. Revan terpaksa berhenti, sedikit mundur dan memasukkan gelang itu ke saku jaket. Revan mulai siaga, matanya menyipit menimbulkan kerutan di dahi. Mobil ini tidak asing baginya.

Ternyata Revan tidak salah, dua lelaki keluar dari dalam mobil itu. Bambang dan Laksa. Tentu mereka bukan orang asing baginya

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Revan tanpa prasangka apa pun.

Lihat selengkapnya