TAHTA

Deasy Astari Dawangga
Chapter #21

BAB 21: ALAT BALAS DENDAM

Telunjuk kanan Dhika masih membuat irama ketukan di atas meja, berusaha sabar menunggu jawab panggilan di ponselnya. Sudah kesekian kali, tapi yang ia dengar selalu suara operator, membuatnya geram saja.

Tit.

“Dimana kamu? Kenapa baru mengangkatnya? Kamu baik-baik saja?” berondong Dhika dengan sejuta pertanyaan saat ponsel Resya akhirnya menerima telefon darinya.

Disisi lain, Resya kini tengah terduduk di kursi tidak sadarkan diri. Tubuhnya terikat pada kursi kayu tua yang kokoh. Reinal duduk tenang berhadapan dengannya, ia tampak begitu memperhatikan gadis itu, sedikit prihatin. Berbagai pertanyaan kembali terngiang bersamaan setiap memori lamanya kembali terputar. Reinal hanya membiarkan ponsel digenggamnya itu, tanpa berniat menjawab suara Dhika yang terus memanggil.

Mata Resya mulai mengerjap. Gadis itu belum menyadari apa yang tengah terjadi pada dirinya. Kepala masih terasa pusing akibat obat bius yang tadi digunakan Reinal. Benar, Reinal membekapnya beberapa saat lalu, dan entah sudah berlalu berapa lama ia pingsan.

Resya mendongak setelah kesadarannya kembali. Mata itu mendapati Reinal tengah menyilangkan kaki angkuh melihat keadaannya, seolah tidak peduli apakah kini ia sudah sadar atau belum.

“Apa yang kamu lakukan!” bentak Resya dengan kesal mendapati dirinya terikat dengan mengenaskan. Laki-laki di depannya hanya menyeringai puas mendapat bentakan itu.

Dhika yang diujung sana masih terhubung terkejut mendengar suara Resya. Reinal kembali tersenyum penuh kemenangan, ditekannya tombol loudspeaker ponsel Resya di tangannya.

“Resya? Apa yang terjadi? kamu dimana!” suara panik milik Dhika yang kini terdengar jelas itu membuat Resya tergagu di tempat.

Tangan Resya menggenggam geram karena Reinal. Ternyata benar, ia pasti akan dijadikan alat oleh Reinal untuk mengancam Dhika. Resya tergugu menahan tangis, benar-benar merasa sangat tidak berguna sekarang.

“Resya! Resya jawab!” kesal Dhika menahan rasa khawatir. Resya semakin gugup. Mana mungkin ia menjawabnya sekarang. Semua ini disiapkan untuk mencelakai Dhika. Mata gadis itu memerah menahan tangis sekaligus amarah.

“Kamu tidak ingin menjawab?” tanya Reinal menawarkan, membuat Resya semakin mengeratkan rahang jengkel.

“Reinal? Kalian bersama?” tanya Dhika tampak ragu-ragu diujung sana. Resya menutup mata. Kali ini saatnya Dhika untuk merasakan pengkhianatan. Dhika menelan ludah, berusaha tidak percaya dengan suara siapa yang ia dengar dari sambungan ponselnya. Meski berusaha seribu kali meyakinkan diri sendiri agar jawabannya bukan, tidak mungkin ia tidak mengenali suara orang yang selama ini telah menjadi rekannya.

“Kalian dimana?” tanya Dhika lagi, kali ini suaranya terdengar melunak. Reinal tersenyum puas.

Tut! Tut! Tut!

Panggilan Berakhir

Dhika kesal karena sambungan selulernya terputus. Kembali ia menghubungi nomor Resya, namun kini panggilan itu hanya diabaikan. Dhika menjambak rambutnya putus asa. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi. Kenapa Resya bisa bersama Reinal?

“Kamu baik-baik saja? Sudah bisa menghubungi Resya?” tanya Tera yang baru datang dan menghampiri. Dhika tidak menjawab pertanyaan itu. Ia bangkit berdiri dari sofa empuk di ruang tamu keluarganya.

“Acara besok kuserahkan padamu,” ujar Dhika singkat lantas meninggalkan Tera. Tera menahan diri untuk tidak kembali bertanya. Ia sangat tahu, sepertinya Dhika sedang tidak bisa diajak bicara. Ia pun hanya bisa memandangi punggung yang makin jauh menaiki tangga rumah istana.

Ponsel Tera disaku berdering mengalihkan perhatian. Beberapa detik kemudian ia mengernyit membaca satu pesan yang dia dapat. Tanpa pikir panjang lagi ia berlari keluar dan pergi dari ruang tamu keluarga Dhika.

***

“Apa yang terjadi?” tanya Tera setelah ia sampai di ruang tunggu dan melihat keberadaan Deni disana. Deni bangkit dan membawa Tera untuk menunjukkan sesuatu. Mereka memasuki ruang pasien, Tera masih mengernyit tidak mengerti.

Lihat selengkapnya