“Kumohon hentikan, Reinal!” pinta Resya dalam tangis. Melihat Dhika menjadi tidak berdaya seperti ini benar-benar membuatnya miris. Laksa bertubi-tubi melayangkan pukulan pada tubuh yang sudah remuk itu.
“Apa kamu puas?” tanya Dhika melihat Reinal mendekat, napasnya memburu menahan semua perih dan sakit yang terasa menjalar ke sekujur tubuh. Resya berpaling, tidak mampu melihat itu. Ingin rasanya ia segera berlari dan membawa tubuh Dhika ke pelukan, tapi hanya menangis yang bisa ia lakukan.
“Orang sepertimu tidak pantas mendapatkan semua ini. Bagaimana? Aku menahan diri untuk tidak memukulmu selama ini. Padahal hanya itulah tujuanku berada disisimu!” ujar Reinal membuka narasinya. Dhika memicingkan mata tidak mengerti, kenapa Reinal menjadi seperti ini?
“Bagaimana bisa kamu masih hidup nyaman setelah menghancurkan hidup orang lain!” bentak Reinal tiba-tiba lalu melayangkan tinjunya pada sebelah sisi wajah Dhika. Semua saling pandang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Reinal. Resya pun bingung mendengar itu.
“Kamu ingat? Seseorang yang kamu penjarakan karena ia mencuri?” lanjut Reinal. Dhika tersentak, memorinya kembali melayang pada kejadian yang sudah sangat lama.
_Flashback_
Dhika remaja membantu seorang ibu yang berteriak karena kemalingan. Dhika kebetulan ada di sekitar tempat kejadian dan menjadi orang yang berhasil menyeret pria setengah baya itu ke kantor polisi. Keluarga Dhika menuntut agar memenjarakan orang itu, karena telah membuat Dhika terluka. Benar, saat Dhika menghadangnya, pria itu panik dan tidak sengaja membuat Dhika terjatuh sehingga membuatnya terbentur. Sungguh, pria itu tidaklah sengaja mencelakai Dhika.
Dalam satu waktu, Reinal juga mengikuti kejadian itu. Pria paruh baya adalah seorang ayah yang selama ini ia perhatikan dari jauh. Ia begitu berharap, setelah Dhika selesai dengan perawatannya, ia mau membujuk keluarganya untuk mencabut tuntutan itu. Bahkan, Reinal mengirim surat tanpa nama pada Dhika saat di rumah sakit, agar Dhika mau memaafkan pria itu. Ternyata, semua yang Reinal harapkan tidaklah terjadi. Dhika menyetujui agar pria itu dihukum atas kejahatannya. Sejak itulah, Reinal benar-benar marah pada Dhika.
Meski mengulang lagi kenangan itu di kepala, Dhika masih tidak mengerti, apa hubungannya orang itu dengan Reinal?
“Seharusnya kamu mencari tahu kenapa ia melakukan semuanya? Jika kamu tahu, pasti kamu akan memaklumi alasannya melakukan itu. Tapi, orang sepertimu tidaklah mengerti apa pun. Karena, hidupmu yang selalu mudah. Dia hanya butuh uang karena anaknya sakit,” ucap Reinal lagi dengan melankolis.
Dhika hanya mampu termenung mendengar semua perkataan Reinal yang tengah menghakiminya.
“Benar. Aku hanya ingin melihatmu menderita setiap kali mengingat itu. Kamu pasti tahu, kan? Orang itu mati di penjara," lanjut Reinal dengan dada berdesir.
Reinal menoleh ke Resya sebentar. Rahangnya saling bertaut keras. Namun, juga ada kesedihan terpancar jelas disana.
“Bagaimana bisa kamu selalu mendapatkan semua!” gumam Reinal membuat amarahnya kambuh lagi.
Dhika juga memperhatikan gadis itu, Resya tidak berpaling darinya. Reinal merasa tidak terima, ia memberi perintah agar Bambang membawa Resya masuk ke dalam. Resya kaget saat tubuhnya kembali dibawa paksa.