TAHTA

Deasy Astari Dawangga
Chapter #23

BAB 23: MASA SULIT ITU BERAKHIR


Resya membuka kamar rawat dimana seseorang tengah mengulum senyum menyambut kedatangannya. Tangan gadis itu melambai, menyapa si tuan bangkar.

“Ada apa denganmu?” tanya Revan  sedikit tertawa karena Resya yang baru datang langsung memeluk lehernya sambil berdiri.

“Revan, semua memang terasa berat. Kamu menjadi seperti ini. Baik Reinal, juga Dhika. Kalian sama-sama menerima kesakitan. Aku tidak pernah mengira akan terlibat dalam keadaan konyol seperti sebelumnya. Tapi, orang-orang seperti kalian, ternyata benar-benar ada di dunia ini. Aku lega semua baik-baik saja kini. Meski menyedihkan, tapi aku sangat bahagia bisa datang diantara kalian. Terima kasih, Revan,” ujar Resya membuat Revan melepas pelukan gadis itu, ia menyuruh Resya duduk di sisinya.

Mata teduh itu menatap gadis yang kini bersamanya dengan penuh kasih. Tidak ada yang berubah akan perasaan Revan sejauh ini.

“Semua sudah selesai. Jangan lagi memikirkan hal yang terjadi kemarin, “ucap Revan, Resya tersenyum mengangguk.

Revan teringat sesuatu, kemudian ia meraih laci di meja pasien dan mengeluarkan bando yang masih tersimpan. Pelan dipakaikan itu pada Resya. Resya sedikit tertawa mendapat perlakuan ini, begitu pun Revan.

“Aku tidak membelinya di tempat yang biasa kamu kunjungi. Ini bukan barang mahal dan aku mendapatkannya juga dengan mudah. Aku membeli ini, saat keadaanku yang sangat baik. Jadi, ini lebih berarti. Simpanlah, sebagai hadiah selamat datang dariku,” ucap Revan mengatakannya dengan tulus. Ia benar-benar senang, Revan kira ia tidak akan pernah punya kesempatan untuk memberikannya pada Resya. Hanya itu yang tersisa, karena gelangnya sudah jelas hilang waktu itu.

“Benar saja. Sekali lihat, ini memang benda murahan,” ujar Resya asal menilai, membuat Revan mendelik menyun. Melihat kekesalan di wajah Revan sontak membuat Resya tertawa.

“Meski begitu, aku menyukainya. Terima kasih,” lanjutnya membuat senyum Revan kembali. Resya memasang bando itu lagi di kepalanya, cantik.

***

Reinal menikmati embusan angin di pelataran kantor polisi. Ia meminta waktu sejenak pada petugas. Sebelum masa tahanannya dimulai, setidaknya sebentar saja ia ingin melihat hamparan langit biru. Rasa tenangnya bertambah karena ini adalah tempat yang sama dengan laki-laki paruh baya itu di penjarakan.

Dulu ia sering datang kesini, diam-diam selalu menjadi tamu yang mengunjungi bapak itu. Siapa sangka ia juga akan berakhir disini. Reinal membuang tawa, menertawakan takdirnya sendiri.

“Kakak menyesal?” tanya seseorang yang membuat Reinal menoleh. Seorang anak laki-laki menginjak remaja itu ikut duduk di sampingnya. Reinal melipat kening. Anak ini sungguh tidak asing baginya. Meski tidak pernah bertemu secara langsung, mana mungkin ia tidak mengenali wajah yang selalu ia perhatikan di setiap ada kesempatan.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Revan, anak itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Reinal.

Lihat selengkapnya