Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Goresan di Ceruk Kawah Domas

# Goresan di Ceruk Kawah Domas

## Petrografis Purba di Balik Endapan Belerang Mendidih

Air mendidih bersuhu 90 derajat mendesir di kaki mereka, mengalir di parit belerang putih. Nayla berjongkok, menyapukan kuas bulu halus ke permukaan dinding andesit hitam yang baru saja dikerik Ghalib. 'Lihat garis ini,' bisik Nayla pelan. 'Ini bukan rekahan alamiah. Ini goresan logam keras perunggu atau obsidian. Lihat bentuk busur ini... ini persis kurva Cekungan Bandung sebelum danau purba jebol di Padalarang.'

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### 01. Kabut Asam dan Desir Air Sembilan Puluh Derajat

Penurunan Menembus Solfatara Menuju Ceruk Cadas Bodas

━━━ ▲ ━━━

Air mendidih bersuhu 90 derajat mendesir di kaki mereka, mengalir di parit belerang putih dengan desis konstan yang menyerupai tarikan napas raksasa di bawah kerak bumi. Di antara celah batuan vulkanik, uap hidrogen sulfida pekat mengepul vertikal, merobek udara pagi Ciater yang dingin dan menggantung bagai tirai sutra kelabu di atas cekungan Kawah Domas. Bau belerang menyengat hidung, menembus filter ganda respirator karbon aktif yang merekat erat di wajah Nayla. Setiap tarikan napas terasa hangat, berbau mesiu dan telur busuk, mengingatkan bahwa mereka tidak sedang berdiri di atas tanah mati, melainkan di atas atap kubah magma yang terus bernapas.

Nayla melangkah hati-hati. Sol sepatu bot vibram miliknya terasa lembek setiap kali menapak di tepian kubangan lumpur mendidih yang berwarna abu-abu pekat. Di sampingnya, Ghalib memanggul tas ransel kanvas tahan air yang sarat oleh palu geologi Estwing, pahat paduan tembaga-berilium non-magnetik, botol larutan asam klorida encer, serta pemindai fotogrametri tiga dimensi berakurasi sub-milimeter. Keringat dingin merembes dari pelipis Ghalib, membasahi pelindung kacamata anti-asiditas yang mulai berembun akibat uap panas bersuhu 92 derajat Celsius yang meluap dari saluran geotermal alami.

'Baskoro mencatat lokasinya tepat tiga puluh meter di barat mata air Cadas Bodas,' ujar Nayla seraya menunjuk ke arah tebing curam di ujung timur ceruk kawah. Suaranya sedikit teredam di balik katup respirator, namun getaran intonasinya menyiratkan ketegangan yang tertahan berhari-hari. Di tangan kirinya, Nayla menggenggam salinan buku catatan lapangan bersampul kulit kusam milik Baskoro—seorang geolog independen yang menghilang secara misterius dua dekade silam di kawasan patahan utara Bandung, meninggalkan sketsa-sketsa kontur anomali yang selama ini dicap oleh komunitas akademisi sebagai sekadar halusinasi seorang penyendiri yang keracunan gas solfatara.

Jalur setapak berbatu menuju Kawah Domas bukan sekadar jalan setapak wisata biasa bagi orang yang tahu cara membaca topografi. Di bawah lapisan tanah lempung vulkanik dan humus pakis hutan tropis, tersimpan lapisan tefra tebal yang dimuntahkan oleh letusan purba Gunung Sunda—raksasa purba berketinggian empat ribu meter yang pernah mendominasi langit Jawa Barat sebelum tubuhnya runtuh dalam ledakan kaldera dahsyat sekitar seratus lima ribu tahun yang lalu. Domas adalah salah satu ventilasi sisa, kawah sekunder tempat energi panas bumi Tangkuban Parahu dilepaskan secara perlahan namun mematikan.

Mereka merayap menyusuri dinding tebing yang rapuh. Batuan di sekeliling mereka mengalami alterasi hidrotermal hebat; batuan andesit yang semula pejal telah memutih dan lapuk menjadi kaolinit dan silika amorf akibat terpaan uap asam sulfat selama berabad-abad. Satu pijakan yang salah dapat melesakkan kaki ke dalam kantong lumpur mendidih bersuhu mendekati titik didih air di ketinggian dua ribu meter, cukup untuk melepuhkan kulit dan jaringan otot hingga ke tulang dalam hitungan detik. Namun Nayla tidak memedulikan risiko itu. Matanya terpaku pada sebuah ceruk sempit yang terlindung oleh kanopi batuan andesit masif bertumpuk—sebuah struktur yang oleh penduduk lokal kerap disebut sebagai Batu Tumpeng.

'Di sana,' bisik Nayla, menghentikan langkah Ghalib dengan sentuhan di pundaknya. 'Ceruk itu terlindung dari arah angin lembah. Uap belerang dari mata air utama tidak langsung menerpanya, melainkan hanya melintas tipis di depan mulut ceruk bagai tirai isolasi. Jika ada inskripsi buatan manusia yang mampu bertahan dari erosi kimiawi kawah ini, hanya ceruk itu satu-satunya tempat yang memungkinkan.'

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### 02. Litologi Andesit dan Tabir Silika Sinter

Pengerikan Kerak Sulfur dan Pengukuran Enkapsulasi Geyserite

━━━ ▲ ━━━

Ceruk itu berukuran tidak lebih dari tiga meter lebar dengan tinggi langit-langit sekitar dua meter. Lantainya dipenuhi butiran kerikil piroklastik yang terlapisi kristal belerang kuning kenari menyerupai bunga es vulkanik. Di dinding terdalam ceruk, terlindung dari tetesan air hujan asam dan hempasan angin barat laut, membentang sebuah panel batuan andesit hitam legam. Namun, seluruh permukaannya tertutup oleh kerak tebal berwarna kuning pucat dan putih kapur—endapan sublimasi sulfur yang bercampur dengan lapisan mineral silika padat.

Ghalib menurunkan ranselnya ke atas matras terpal tahan panas, lalu mengeluarkan palu geologi berujung pahat datar serta sikat pembersih berbulu kawat nilon halus. 'Batu ini keras sekali,' gumam Ghalib seraya mengetukkan ujung palu ke sudut batuan yang tidak tertutup kerak. Suara dentang yang nyaring dan padat bergema di dalam ceruk sempit itu. 'Bukan batuan tuf atau breksi yang gembur. Ini andesit porfiritik murni berbutir rapat. Fenokris plagioklas dan piroksennya terlihat jelas di bawah loupe.'

Nayla berjongkok di samping Ghalib, menyalakan senter inspeksi LED berspektrum siang hari (5000 Kelvin). Berkas cahaya putih netral menembus kepulan uap tipis, memperlihatkan tekstur permukaan dinding yang tidak rata. 'Ghalib, jangan pakai palu baja langsung ke bidang tengah. Gunakan pahat getar bertenaga baterai dengan ujung tembaga. Kita tidak boleh membuat goresan sekunder pada batuan dasar. Kikis hanya lapisan sublimasi luarnya saja.'

Dengan ketelitian seorang pemulih benda purbakala, Ghalib mulai mengelupas lapisan belerang kuning yang rapuh. Butiran-butiran kristal sulfur berjatuhan ke terpal bagai debu emas yang terbakar, menebarkan bau belerang yang menusuk saat tergesek logam. Namun di bawah lapisan sulfur kuning setebal dua sentimeter itu, mata pahat Ghalib membentur lapisan kedua yang jauh lebih keras dan bening keabu-abuan. Lapisan itu menolak mata pahat dengan resistensi yang luar biasa.

'Ini bukan sulfur,' kata Ghalib seraya menyeka keringatnya dengan punggung sarung tangan kevlar. 'Ini silika sinter. Geyserite amorf!'

Nayla mendekatkan mikroskop saku digital berkekuatan pembesaran 40x ke permukaan lapisan bening tersebut. Layar monitor saku langsung menampilkan struktur mikrokristalin yang rapat bagai kaca laminasi. 'Luar biasa... Mata air hidrotermal purba yang pernah menyembur di ceruk ini ribuan tahun lalu memiliki kejenuhan silika terlarut yang sangat tinggi. Ketika air panas itu menguap dan mendingin di dinding ceruk, silika amorf mengendap membentuk cangkang sinter geyserite. Tebalnya sekitar 4.2 milimeter. Cangkang silika inilah yang membungkus dinding andesit di bawahnya bagai resin akrilik abadi.'

Parameter geofisika di layar instrumen menunjukkan angka yang mencengangkan. Uji kekerasan mikroskopis dengan jarum penggores Mohs membuktikan batuan andesit dasar memiliki kekerasan 6.5 Skala Mohs—sangat keras, melebihi baja biasa dan hanya bisa dipahat dengan usaha luar biasa menggunakan batuan yang setara atau perkakas keras tertentu. Sementara itu, lapisan enkapsulasi silika sinter setebal 4.2 mm tersebut telah berfungsi sebagai pelindung kimiawi sempurna, memblokir penetrasi ion hidrogen asam sulfurik (H2SO4) yang biasanya menghancurkan batuan silikat di lingkungan vulkanik aktif.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


Lihat selengkapnya