Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Bayangan di Balik Asap Fumarol

## BAYANGAN DI BALIK ASAP FUMAROL

Sabotase Sensor Geofisika dan Pemburu Jurnal

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


## BAGIAN I: Tirai Belerang dan Kabel Terputus

Punggung Jayagiri, Elevasi 1.834 mdpl – Anomali Sabotase 100 Mbps.

━━━ ▲ ━━━

Lumpur vulkanik meletup hangat di samping sepatu bot Ghalib. 'Tiarap!' desisnya seraya menarik kerah jaket Nayla ke balik punggungan batu kapur. Dua puluh meter di depan mereka, sorot senter berkekuatan ribuan lumen menyapu tirai belerang. Cahayanya dingin dan terarah—bukan senter bambu penduduk lokal pencari getah pinus, melainkan peralatan militer bersenjata peredam.

Hawa lembap lereng Jayagiri yang bercampur bau menyengat hidrogen sulfida menusuk hidung kendati keduanya telah mengenakan respirator setengah muka berspesifikasi asam pekat. Tanah di bawah lutut Ghalib bergetar lembut—bukan getaran tektonik dalam yang bergemuruh di perut bumi, melainkan desau statis mesin kompresor berdaya tinggi yang disamarkan oleh deru angin pegunungan.

Hanya sepuluh menit sebelum bayangan-bayangan bersenjata itu muncul, Ghalib masih berlutut di bibir parit drainase kabel stasiun pemantau JYR-04. Sebagai teknisi instrumentasi senior Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), ia telah memanjat hampir seluruh rekahan kawah di tatar Sunda. Ketika layar monitor pusat di Jalan Diponegoro nomor 57 Bandung kehilangan umpan sinyal digital stasiun seismik Jayagiri tepat pukul dua dini hari, kepala pos menduganya sebagai kasus klasik: selubung kabel digerogoti tikus belerang atau rapuh terpapar kondensasi hujan asam ber-pH di bawah dua koma nol.

Namun pemandangan di parit tanah cadas itu membalikkan logika geofisika.

Kabel serat optik lapis baja berkekuatan tinggi yang ditanam sedalam setengah meter tidak meleleh atau hancur lapuk. Selubung poliuretan hitamnya terpotong bersih, rata, dan miring bersudut empat puluh lima derajat. Inti serat kaca mikronnya terburai seperti serat sutra yang dibabat pedang laser. Itu bukan luka gigitan binatang pengerat, bukan pula terkikis sulfat asam. Itu adalah jejak gunting hidrolik industri—alat potong presisi bertekanan ribuan pascal yang biasa dipakai teknisi peledak tambang bawah tanah atau regu sabotase taktis.

'Seratus megabit per detik data seismogram hilang seketika,' bisik Ghalib dengan napas tertahan di balik filter karet respiratornya, jemarinya meraba ujung potongan kabel yang masih menyisakan bubuk pelumas pemotong sintetis berbau minyak mineral. 'Data triaksial Güralp CMG-3T, data inclinometer, dan pembacaan gas Mini-DOAS... semuanya terputus dalam satu detik yang sama. Di kantor Diponegoro, sistem otomatis hanya akan menandainya sebagai malfungsi biasa akibat cuaca buruk. Mereka sengaja membutakan mata Bandung.'

Di sebelahnya, Nayla mendekap tas kanvas berlapis lilin anti-air erat-erat ke dadanya. Tas itu berisi satu-satunya peninggalan fisik ayahnya, Dr. Baskoro Wiryasaputra—buku catatan lapangan bersampul kulit kusam bernoda pirit dan garam belerang, penuh coretan kalkulasi tensor tegangan tanah serta koordinat anomali yang selama enam bulan terakhir dianggap oleh sebagian pejabat kementerian sebagai racauan seorang ilmuwan uzur yang mengidap demensia pasca-pensiun.

'Mereka tahu kita datang ke stasiun JYR-04, Mas Ghalib,' bisik Nayla bergetar. Sorot matanya di balik kacamata pelindung memancarkan kengerian yang teramat nyata. 'Di Bandung kemarin sore, server cadangan kampus tiba-tiba diretas. Catatan geodetik Ayah dihapus dari pangkalan data digital. Mereka tidak ingin sekadar mencuri data seismik; mereka ingin memastikan data gelombang mikro yang direkam Ayah tidak pernah dicocokkan dengan stasiun pemantau resmi.'

Kilatan cahaya senter LED taktis kembali menyapu tebing kapur di atas kepala mereka. Cahaya itu memantul di kristal-kristal belerang kuning kenari yang menempel di dinding andesit, menciptakan bayangan memanjang seperti raksasa tanpa kepala. Terdengar derak sol sepatu bot taktis beralas komposit karbon menginjak kerikil tajam. Bukan langkah pincang atau ragu, melainkan ritme terlatih pemburu profesional yang bergerak dalam formasi baji dua orang.

'Cari sampai ke dasar jurang solfatara,' terdengar perintah lirih bernada datar melalui walkie-talkie berfrekuensi terkunci, hanya terpisah belasan depa dari tempat Ghalib dan Nayla meringkuk. 'Baskoro punya salinan kedua seismogram frekuensi sembilan Hertz. Anak perempuannya membawa buku itu. Kontraktor tidak ingin ada selembar kertas pun yang sampai ke meja wartawan atau gubernur sebelum tahap rekahan kedua diledakkan. Gunakan amunisi subsonik. Jangan biarkan gema letusan memicu kecurigaan pos jaga bawah.'

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


## BAGIAN II: Lompatan di Atas Lumpur Mendidih

Parit Solfatara Kawah Domas – Perburuan Amunisi Berperedam. Catatan Instrumentasi Geofisika: Lumpur Vulkanik Hidrotermal & Solfatara. Manifestasi panas bumi bersuhu antara 90°C hingga 105°C yang kaya akan lempung montmorilonit terasamkan dan larutan pirit jenuh. Terpeleset ke dalamnya menyebabkan luka bakar kimiawi dan termal derajat tiga instan.

━━━ ▲ ━━━

Tanpa peringatan, desisan peluru subsonik mencabik udara malam yang berbau belerang. Pluk! Butiran batu kapur meledak di samping telinga kanan Ghalib, menyemburkan debu kalsium karbonat yang perih di mata. Pemburu itu telah mendeteksi siluet jaket oranye khas tim mitigasi bencana geologi yang dikenakan Nayla, meskipun Nayla telah membalutnya dengan kain kamuflase abu-abu arang.

'Lari ke arah parit kawah!' seru Ghalib sambil menyentak lengan Nayla. Ia menolak untuk panik; otaknya yang terbiasa memetakan kontur topografi kawah secara tiga dimensi langsung memproyeksikan denah lembah dalam kegelapan pekat.

Keduanya melompat keluar dari balik punggungan pelindung tepat saat dua butir proyektil berikutnya mendesing di tempat mereka tadi merayap. Bau ozon tajam dari percikan bubuk mesiu tercium sekilas sebelum kembali ditelan oleh pekatnya kabut hidrogen sulfida. Lereng yang mereka pijak memiliki kemiringan empat puluh lima derajat, ditutupi lapisan lempung vulkanik basah yang licin bagai minyak mentah. Setiap langkah kaki menuntut keseimbangan mutlak antara mencengkeram tepi batu beku dan menghindari retakan rapuh yang bisa runtuh ke dalam rongga uap superpanas.

Dua sosok pemburu berpakaian hazmat Nomex hitam militer meluncur turun dengan kelincahan menakutkan. Di dada mereka tersemat harness taktis bersenjatakan senapan serbu kompak laras pendek berperedam panjang. Kacamata penglihatan malam berteknologi termal (FLIR goggles) bersinar kehijauan di wajah mereka, menembus kabut asap fumarol dengan mudah karena tubuh Ghalib dan Nayla memancarkan panas biologis tiga puluh tujuh derajat Celsius di tengah dinginnya udara malam pegunungan lima belas derajat.

'Mereka punya penglihatan termal!' teriak Nayla terengah-engah, uap napasnya mengembun di visor respirator. 'Kita seperti sasaran tembak berjalan di tanah terbuka ini!'

'Masuk ke zona solfatara aktif!' balas Ghalib seraya menarik Nayla menuruni ceruk patahan yang dipenuhi kubangan lumpur mendidih. 'Suhu kubangan itu mencapai sembilan puluh lima derajat Celsius! Panas lumpur akan mengacaukan sensor inframerah mereka dan menciptakan suar panas raksasa di kacamata FLIR!'

Taktik bertahan hidup geofisika itu terbukti jitu. Begitu mereka meluncur masuk ke cekungan Kawah Domas bagian timur, ratusan kubangan lumpur abu-abu menggelak dan meletup dengan gelembung-gelembung gas karbondioksida dan belerang cair. Suhu radiasi permukaan melonjak drastis, membanjiri spektrum inframerah lawan dengan tirai termal putih yang menyilaukan sensor digital mereka. Para pemburu melambatkan langkah, mengumpat kasar seraya melepas kacamata termal dan beralih ke lampu senter halogen konvensional.

Namun bahaya baru menghadang di depan mata Ghalib dan Nayla.

Di hadapan mereka membentang parit rekah hidrolik alami selebar hampir tiga meter. Di dasar parit sedalam lima meter itu, lumpur sulfat cair mendidih meletup-letup bagai bubur semen cair panas, menyemburkan gas uap yang mampu melelehkan daging manusia dalam hitungan detik. Di seberang parit terdapat dinding andesit terjal Jayagiri dengan akar-akar pohon cantigi yang menjuntai kuat—satu-satunya jalur tikus menuju pos kehutanan tua di puncak punggung bukit.

'Kita tidak mungkin melompat sejauh itu!' seru Nayla ngeri menatap gelembung raksasa meletus di bawahnya dengan suara 'bluk-bluk' yang mengerikan.

'Harus, Nay! Tidak ada jalan memutar! Lempar tas jurnalmu ke seberang dulu!'

Nayla menggeleng keras kepala seraya mendekap tas ayahnya ke dada. 'Jika tas ini jatuh ke lumpur asam, semua bukti pembunuhan Ayah musnah selamanya! Aku melompat bersama buku ini!'

Sorot senter pemburu menyala di bibir bukit di belakang mereka, disusul kilatan moncong senjata. Daun-daun cantigi di samping kepala Ghalib terpotong rapi oleh berondongan peluru tanpa suara. Tidak ada waktu untuk berdebat. Ghalib mencengkeram tangan kiri Nayla, mengumpulkan seluruh momentum tenaga dari otot tungkainya, lalu berteriak sekuat tenaga:

'Satu... dua... lompat!'

Keduanya melayang di atas jurang lumpur mendidih. Waktu seolah melambat di tengah kepulan asap belerang. Di bawah sepatu bot mereka, semburan uap bersuhu seratus derajat menjilat udara, membakar sol karet sepatu Ghalib hingga berbau sangit menyengat. Tangan kanan Nayla terulur ke depan, namun bobot tubuh dan tas kanvas menariknya ke bawah saat mendarat di tebing seberang.

Brukk! Kaki Nayla menghantam bibir tebing gembur. Tanah runtuh seketika! Tubuh bagian bawahnya tergantung di atas kawah mendidih, hanya jari-jemarinya yang mencakar akar cantigi rapuh seraya menjerit tertahan.

'Nayla!'

Ghalib yang mendarat di atas batu andesit padat langsung menjatuhkan badannya, menjulurkan kedua tangan menembus kabut belerang, dan mencengkeram erat pergelangan tangan Nayla tepat saat akar cantigi putus terburai. Otot bahu Ghalib berdenyut perih menahan beban tubuh Nayla dan hentakan tas jurnal. Di bawah kaki Nayla yang menjuntai, semburan lumpur meletup menyenggol tumit sepatunya, melarutkan lapisan karet luar dalam hitungan detik.

'Tarik napas, cengkeram jaketku!' raung Ghalib dengan urat leher menegang. Dengan satu sentakan bertenaga penuh yang didorong kepanikan murni, ia menarik tubuh Nayla ke atas punggungan batu kapur. Keduanya terguling di semak-semak perdu cantigi tepat ketika peluru pemburu menghantam batu tempat Ghalib tadi menelungkup, meninggalkan bekas gosong timah panas.

Lihat selengkapnya