Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Turun ke Kawah Upas

TURUN KE KAWAH UPAS

Ekspedisi Berisiko Tinggi ke Zona Gas Maut. "Tali karmantel 11 milimeter itu berdecit saat bergesekan dengan batu andesit yang lapuk oleh asam. Di bawah sana, dasar Kawah Upas terlihat seperti kuali raksasa berisi abu kelabu mati. Ghalib memeriksa manometer di dadanya: oksigen tersisa 45 menit. Kang Ujang di atas tebing hanya memberi isyarat dua jari—tanda bahwa angin sore mulai membawa turun gas hitam dari tebing atas."

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


##Bagian 01: Ambang Jurang Kematian

Bibir Kawah Upas — 2.084 mdpl | Batas Zona Terlarang. Densitas CO2:1.28 kg/m³ (Ambang Bahaya). Kadar O2:19.8% (Menurun di bibir). Tekanan Sulfat:4.2 kPa. Sisa Gas CCR:45:00 Menit

━━━ ▲ ━━━

Tali karmantel sebelas milimeter itu berdecit saat bergesekan dengan batu andesit yang lapuk oleh asam. Di bawah sana, dasar Kawah Upas terlihat seperti kuali raksasa berisi abu kelabu mati, terkepung dinding tegak setinggi seratus lima puluh meter yang mengurung keheningan purba. Tidak ada kicau burung, tidak ada desau dedaunan cantigi; hanya gelegak sayup dari pipa-pipa solfatara yang memuntahkan racun ke udara dingin dataran tinggi Priangan.

Ghalib memeriksa manometer analog di dada kanannya, mengetuk kacanya yang berembun dengan sarung tangan neoprene tebal. Jarum fosfor menunjuk angka merah yang tak kenal kompromi: cadangan campuran gas oksigen-helium pada sistem sirkuit tertutup mereka hanya menyisakan empat puluh lima menit kerja aman. Kang Ujang Sutisna yang berjongkok di atas pasak jangkar tebing hanya memberi isyarat dua jari yang terangkat kaku—tanda tanpa kata bahwa angin lembah dari arah timur laut mulai membelok turun, siap membawa gulungan gas hitam yang mematikan dari tebing atas ke dasar kawah.

"Tong lila teuing di handap, Jang Ghalib," bisik Kang Ujang melalui celah kerah jaket loreng lusuhnya yang telah memutih dimakan kerak sulfur bertahun-tahun. Suara sesepuh itu serak, ditekan oleh batuk kering menahun khas orang-orang yang menghabiskan separuh hidupnya menjaga bibir neraka belerang Tangkuban Parahu. "Matahari geus dengdek ka kulon. Lamun panonpoe surup, 'haseup leleus' turun pinuh saperti cai bendungan bedah. Lamun anjeun kasep di handap, anjeun moal balik deui mawa raga.

"Di samping Ghalib, Dr. Nayla Danasasmita sedang mengencangkan sabuk harness Black Diamond di pinggangnya hingga kulit pahanya tertekan kencang. Vulkanolog berambut pendek itu tidak memperlihatkan keraguan sedikit pun, kendati lingkaran hitam di bawah kelopak matanya mengkhianati malam-malam tanpa tidur sejak telemetry satelit memperlihatkan lonjakan anomali seismik di cekungan Upas tiga hari lalu. Masker rebreather Dräger FPS 7000 miliknya telah terpasang membungkus wajah, mengubah pandangan matanya menjadi tatapan kaca kedap udara yang dingin dan mekanis.

"Sistem scrubber sodalime kita baru diisi ulang satu jam lalu di pos Cikole," suara Nayla terdengar mendengung datar melalui transmiter radio mikrofon tenggorokan (throat mic) yang terhubung ke helm Ghalib. "Kapasitas absorpsi karbon dioksida aman untuk enam puluh menit. Tapi jika saturasi gas asam hidrogen sulfida di dasar melampaui delapan ratus part per million, membran filter sodalime kita akan mengeras dan pecah sebelum waktunya. Kita tidak punya ruang untuk bernostalgia tentang Baskoro di bawah sana, Ghalib. Kita turun, ambil kotak telemetri dan logbook-nya di ceruk dinding utara, lalu naik sebelum tabung ini membakar paru-paru kita."Ghalib menatap perempuan itu lekat-lekat. Kedinginan cara bicara Nayla adalah baju zirah yang ia kenakan untuk menyembunyikan rasa takut—atau rasa bersalah. Empat pekan lalu, ketika Baskoro memutuskan turun seorang diri tanpa melapor ke pos pemantauan PVMBG, Nayla adalah orang terakhir yang menerima pesan suara dari pria itu. Pesan yang hanya berisi deru napas tersengal dan satu kalimat patah: *"Mereka tidak mau mengakui apa yang ada di balik Panto Gaib. Ini bukan sekadar letusan freatik biasa..."*

Angin pegunungan mendadak bertiup kencang, menggulung bau tajam menyengat menyerupai telur busuk yang bercampur asam klorida pekat menampar wajah mereka. Pohon-pohon cantigi kerdil di bibir tebing tampak meranggas, cabang-cabangnya hitam menghitam tanpa pucuk hijau, menjadi saksi bisu betapa udara di sini tak pernah bersahabat bagi kehidupan. Di kejauhan, kawah tetangga—Kawah Ratu yang luas—masih memantulkan gemerisik turis yang dibatasi pagar kawat dua kilometer jauhnya. Namun di Kawah Upas ini, pagar itu telah lama rubuh oleh gempa vulkanik 1992 dan tak pernah diperbaiki lagi. Pemerintah kolonial Hindia Belanda telah memancangkan plang seng berkarat bertuliskan *VERBODEN ZONE* pada tahun 1928 setelah tiga orang insinyur tambang belerang tewas lemas dalam hitungan detik di dasar cekungan ini.

Ghalib melangkah ke tepi jurang, menguji ketegangan tali karmantel yang tertancap pada dua baut ekspansi baja tahan karat di bongkahan batu andesit purba. Dinding tebing di bawah kakinya jatuh tegak lurus, menembus lapisan kabut putih kelabu yang mengambang tak bergerak di ketinggian delapan puluh meter. Di balik kabut itu, misteri lenyapnya sahabat karib sekaligus mentornya menanti untuk diungkap—atau mengubur mereka berdua di kuali yang sama.Catatan Log Lapangan Vulkanik:

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


Bagian 02: Tali Karmantel & Dinding Andesit Asam

Tebing Sulfur Vertikal — Kedalaman 80 Meter | Titik Kritis Penurunan. Densitas CO2:1.52 kg/m³ (Meningkat Cepat). Kadar O2:14.2% (Hipoksia Sedang). Tekanan Sulfat:9.8 kPa

Sisa Gas CCR:34:00 Menit

━━━ ▲ ━━━

Gesekan logam descender Petzl Stop pada tali karmantel mengeluarkan suara mendecit panjang yang memilukan telinga. Ghalib menuruni tebing dengan teknik rappel terukur, menjejakkan sol sepatu bot vibram-nya pada tonjolan batu andesit yang rapuh. Setiap kali sol sepatunya menghentak, permukaan tebing melepaskan lempengan batu pipih yang berderak hancur menjadi serpihan abu-abu kekuningan, meluncur bebas ke dalam kehampaan di bawah sana tanpa mengeluarkan suara benturan sama sekali.

Asam sulfat yang merembes keluar dari pori-pori dinding tebing selama ribuan tahun telah mengubah andesit yang semula sekeras granit menjadi seperti gipsum basah yang busuk. Kelembapan di dinding ini bukan air, melainkan embun asam pekat yang membakar sarung tangan Ghalib hingga mengeluarkan uap tipis kecokelatan. Bau belerang menembus filter sekunder masker, menusuk pangkal lidahnya dengan rasa tembaga yang getir dan logam.

"Nayla, jaga jarak lima meter di atasku!" teriak Ghalib ke mikrofon tenggorokannya. Napasnya mulai memburu, dipaksa menghirup campuran gas kering dari kantung pernapasan sirkuit tertutup. "Dinding di sektor ini lapuk total! Jangan tumpukan berat badanmu pada tonjolan batu! Gunakan ketegangan tali penuh!"

"Dimengerti! Tapi sensor partikulatku mendeteksi peningkatan sulfur dioksida dua kali lipat!" sahut Nayla di atasnya. Siluet tubuh ramping wanita itu terlihat samar di antara kepulan kabut kuning belerang yang mulai menebal. "Ghalib, lihat ke sisi kiri rekahan di ketinggian delapan puluh meter! Ada lapisan alterasi hidrotermal berwarna merah bata. Itu bukan batuan vulkanik biasa—itu sesar patahan aktif yang merekah!

"Sebelum Ghalib sempat menolehkan kepalanya yang terkungkung helm keselamatan, suara gemeretak tajam meledak dari atas tebing. Bukan suara guntur, melainkan suara retakan batuan padat yang putus akibat erosi asam dari dalam."Batu runtuh! Awas!" jerit Nayla parau.

Sebuah bongkahan andesit sebesar kepala manusia terlepas dari dinding sepuluh meter di atas Nayla, membawa serta longsoran kerikil tajam yang meluncur deras bak peluru senapan tabur. Ghalib memiringkan tubuhnya sekuat tenaga ke arah kanan, menempel rapat ke dinding tebing sambil melindungi katup inspirasi rebreather di dada kirinya. Batu besar itu melesat hanya sejengkal dari bahu kirinya, memotong udara dengan dengung mengerikan sebelum lenyap ke dalam kabut dasar kawah.

Namun malapetaka tidak berhenti di situ. Serpihan batu tajam berkecepatan tinggi menghantam helm Nayla dengan dentuman keras. Hentakan itu membuat tubuh Nayla terpelanting ke udara bebas, berputar liar di ujung tali karmantelnya. Yang lebih mengerikan: salah satu pecahan batu bergerigi menyambar selang corrugated breathing loop di sisi kanan leher Nayla.*

BEEP! BEEP! BEEP!

*Alarm nada tinggi langsung memekakkan saluran audio radio Ghalib. Di layar HUD mini kacamata Nayla, indikator tekanan parsial oksigen berkedip merah terang: *PRESSURE DROP - LOOP LEAK DETECTED*.

"Ghalib! Selang inspirasiku robek!" suara Nayla tercekat, panik yang murni dan dingin mulai merayapi nada bicaranya. "Tekanan loop anjlok ke empat puluh milibar! Udara luar mulai tersedot masuk!

"Di ketinggian delapan puluh meter, menggantung di atas jurang gas maut tanpa pijakan kaki yang stabil, kebocoran pada sistem sirkuit tertutup adalah hukuman mati seketika. Jika udara luar yang dipenuhi aerosol klorin dan sulfur dioksida masuk ke paru-paru Nayla, ia akan mengalami spasme laring akut dalam sepuluh detik, kehilangan kesadaran, dan tergantung tak bernyawa di tali harness-nya sebelum ada yang bisa menolong.

"Nayla, tahan napasmu sekarang juga! Tutup katup mouthpiece!" raung Ghalib sambil mengunci descender-nya pada tali utama. Darah berdesir kencang di pelipisnya. Kenangan buruk enam tahun lalu di lereng selatan Merapi—ketika seorang rekannya tewas akibat menghirup gas piroklastik beracun karena katup masker yang terlambat dikunci—menghantam benaknya seperti palu godam. *Tidak hari ini,* batin Ghalib membakar ketakutannya. *Tidak di hadapanku lagi.

*Dengan gerakan terlatih yang menentang rasa takut akan ketinggian, Ghalib mengayunkan tubuhnya meniti dinding tebing, menjejakkan kakinya pada satu-satunya bongkahan batu basal padat yang tersisa. Menggunakan karabiner cadangan di pinggangnya, ia mengaitkan harness-nya langsung ke tali Nayla, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dekapannya di tengah ayunan tali yang bergoyang di atas jurang maut.

Jari-jari Ghalib yang bergetar namun presisi menyambar gulungan pita vulkanisir silikon darurat berkekuatan militer dari kantong dadanya. Sambil menahan tubuh Nayla dengan satu lengan melingkari punggungnya, tangan kanannya melilitkan pita itu ke sobekan selang karet Nayla dengan tarikan maksimum hingga silikon itu menyatu sendiri menambal lubang. Ia membuka katup by-pass oksigen darurat di tangki diluent Nayla untuk membilas (flush) sisa udara luar yang sempat menyelinap ke sirkuit pernapasan.

Desis gas oksigen murni terdengar mendesis tajam di dalam masker Nayla. Layar manometer wanita itu berangsur stabil, jarum tekanan kembali merangkak ke batas aman. Nayla terengah-engah di balik kaca visor-nya, matanya membesar menatap wajah Ghalib yang hanya berjarak sepuluh sentimeter darinya. Keringat dingin mengalir di dahi Nayla, membasahi kaca helmnya.

"Kau... kau menyelamatkanku," bisik Nayla terputus-putus melalui radio, dadanya naik turun dengan ritme cepat.

Lihat selengkapnya