SANDI SANGKURIANG
Dekonstruksi Filologis: Membedah Mitos Bendungan Citarum. Stasiun Penelitian Geodinamika Bawah Tanah, Lereng Sesar Lembang, Parahyangan Purba
---
KUTIPAN PEMBUKA MANUSKRIP:
"Coba dengar baris ini, Ghalib. 'Kacaturkeun parahu ditajong ku suku kenca, ngaguling ka kaler jadi gunung.' Nenek moyang kita melihat magma terangkat miring ke utara seperti lunas perahu terbalik. Dan bendungannya bukan dari kayu jati, melainkan lahar dingin yang membeku di Curug Jompong. Mereka merekam geologi dengan bahasa yang mereka miliki saat itu."
━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━
BAGIAN 01: RESONANSI DI RUANG BERPENDAR LUMUT
Lembap Tuf Vulkanik dan Gemeretak Lantai Basalt
━━━ ▲ ━━━
Dingin merayap dari pori-pori dinding andesit, basah dan purba. Di ruangan bawah tanah yang dipahat langsung menembus formasi tuf vulkanik lereng Lembang itu, cahaya bukanlah kepunyaan lampu pijar yang benderang, melainkan milik koloni lumut fosforesen yang bernapas dalam pendar zamrud redup. Di celah rekahan batu yang tak pernah benar-benar kering, lumut-lumut itu menempel seperti beludru basah, memantulkan bias kehijauan ke atas meja kerja basalt hitam yang dipenuhi tumpukan kertas daluwang, lensa pembesar, dan serpihan sampel batuan piroklastik.
Ghalib menyandarkan punggungnya yang pegal pada dinding batu. Jaket lapangannya yang tebal masih berlumur debu kelabu dari singkapan Curug Jompong yang mereka susuri sepanjang siang tadi. Bau asam keringat beradu dengan aroma belerang samar yang senantiasa terperangkap di ceruk bawah tanah ini, ditemani kepulan uap dari cangkir enamel berisi kopi tubruk pekat yang mulai mendingin. Di sudut ruangan, jarum seismograf mekanik tua berderit halus, menggoreskan garis zigzag mikro pada silinder jelaga—sebuah denyut tak kasat mata dari sesar aktif yang tidur gelisah beberapa kilometer di bawah telapak kaki mereka.
"Kita sedang menyia-nyiakan waktu dengan dongeng anak-anak, Nayla," gumam Ghalib serak. Suaranya berat, parau oleh udara dingin pegunungan. Tangannya yang kapalan memutar-mutar sebongkah batu ignimbrite berwarna abu-abu gelap dengan pori-pori kristal plagioklas yang berkilau di bawah lampu senter kepala. "Tiga ratus gram sampel batuan ini bercerita tentang tekanan ratusan megapascal, tentang temperatur magma di atas seribu derajat Celsius yang meluluhlantakkan punggung Jawa Barat. Sementara kau... kau masih bersikeras mencari korelasi antara letusan katastropik zaman Pleistosen dengan kisah asmara terlarang seorang pemburu yang mencintai ibunya sendiri?"
Nayla tidak langsung menyahut. Jemarinya yang ramping bergerak dengan kehati-hatian seorang biarawati yang merapikan relik suci. Di hadapannya terbentang lembaran transliterasi Naskah Carita Parahyangan bersanding dengan salinan bait-bait Pantun Sangkuriang yang ditulis di atas kertas serat daluwang buatan Garut. Kuas bulu halus di tangan kirinya menyeka setitik debu halus yang hinggap di tepi lembaran. Ia menghela napas panjang, dan helaan napas itu membaur dengan aroma minyak atsiri cengkih yang ia gunakan untuk mengawetkan serat kertas dari kelembapan ekstrem.
"Kau selalu memandang masa lalu sebagai kebodohan yang belum tercerdaskan oleh spektrometer massamu, Ghalib," ujar Nayla pelan, namun setiap silabel kalimatnya menghantam udara lembap ruangan itu dengan presisi dingin. Ia mengangkat wajahnya. Di balik bingkai kacamata bulatnya yang tipis, matanya menyala dengan ketajaman yang selalu membuat Ghalib terbungkam. Ada kepedihan purba di sana, seolah Nayla memikul duka dari orang-orang yang suaranya telah diredam selama puluhan ribu warsa.
"Sains empirismu angkuh karena menuntut mereka berbicara dalam bahasa rumus kalkulus yang baru kita temukan dua abad lalu," lanjut Nayla, kini menatap lurus ke dalam manik mata Ghalib. "Seratus ribu tahun yang lalu, ketika langit Parahyangan runtuh menjadi lautan api dan bumi merekah selebar jurang maut, manusia purba kita tidak punya laboratorium isotop argon-argon. Mereka tidak punya akselerometer. Tapi mereka punya mata yang menyaksikan kehancuran, dada yang merasakan getaran horst yang meranggas, dan lidah yang gemetar ketakutan. Mereka merekam kiamat itu dengan satu-satunya perkakas yang mereka miliki: metafora."
Nayla mengetukkan ujung jarinya ke atas meja batu. Bunyinya berdentang padat, menyaingi detak metronom tetesan air tanah yang jatuh satu demi satu dari stalaktit mini di langit-langit ruangan. "Dan malam ini, di ruangan ini, aku akan membuktikan padamu bahwa Sangkuriang bukanlah sekadar tragedi Oedipus versi tanah Pasundan. Sangkuriang adalah jurnal vulkanologi tertua di Nusantara yang sengaja disamarkan dalam sandi puitis agar mampu melintasi zaman."
━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━
BAGIAN 02: AKSARA YANG MENGHIRUP ABU PURBA
Lontar Carita Parahyangan dan Dekonstruksi Leksikal Pantun
━━━ ▲ ━━━
Nayla menarik lampu meja kuningan lebih dekat. Lingkaran cahaya kuning hangat jatuh tepat di atas lembaran kertas beraksara Sunda Kuna yang disalinnya dengan tinta karbon tahan air. Udara di sekeliling mereka terasa semakin padat, sarat oleh ketegangan intelektual yang telah memercik di antara mereka selama berminggu-minggu penelitian mandiri di lembah Citarum.
"Coba dengar baris ini, Ghalib," kata Nayla, jemarinya menelusuri lembaran kertas transkripsinya dengan kelembutan yang sarat takzim. Ujung telunjuknya berhenti pada satu bait bertinta pekat.
"'Kacaturkeun parahu ditajong ku suku kenca, ngaguling ka kaler jadi gunung.'"
Suara Nayla mengalun rendah, memancarkan resonansi magis yang seolah membangkitkan arwah para penutur pantun di masa silam. Kata-kata Sunda kuno itu melayang di antara tetesan air ruangan bawah tanah, berdenting pelan di relung batin Ghalib yang semula keras membatu.
"Dengarkan leksikonnya," desak Nayla, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga bayangannya memanjang di dinding batu berpendar lumut. "'Ditajong ku suku kenca.' Ditendang dengan kaki kiri. Mengapa kaki kiri? Dalam kosmologi Sunda kuno, kenca—kiri—adalah simbol dari kekuatan destruktif, tenaga bawah tanah, anasir purba yang liar dan tak terduga. Dan 'ngaguling ka kaler jadi gunung'... berguling miring ke arah utara menjadi gunung. Nenek moyang kita melihat magma terangkat miring ke utara seperti lunas perahu terbalik! Dan bendungannya bukan dari kayu jati tebangan hutan, melainkan lahar dingin dan aliran piroklastik yang membeku di Curug Jompong. Mereka merekam geologi dengan bahasa yang mereka miliki saat itu!"