Jejak Kaki di Abu Panas
Sebuah Bab Thriller Geofisika & Vulkanologi. Hard Sci-Fi / Geophysical Disaster Thriller. Kawah Upas, Kompleks Gunung Tangkuban Parahu & Segmen Barat Sesar Lembang
━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━
BAGIAN 01: KABUT BELERANG DAN PUNGGUNGAN KAWAH UPAS
Infiltrasi ke Zona Eksklusi Radius 1.5 Kilometer | 23:42 WIB — 14 Jam Pasca Gempa Awitan | Punggungan Barat Kawah Upas, Kaldera Tangkuban Parahu (2.048 mdpl)
━━━ ▲ ━━━
Udara di punggungan barat Kawah Upas tidak lagi sekadar fluida gas yang dihirup; ia adalah bubur asam kental yang mengerat saluran pernapasan. Setiap kali hembusan angin malam berbelok dari arah timur laut, kabut belerang pekat berwarna kuning pucat menggulung dari bibir jurang, menelan kegelapan kaldera dan mengaburkan sorot lampu kepala Ghalib menjadi lingkaran temaram yang kerdil dan ringkih. Di balik respirator silikon penuh wajah tipe 3M 6800 yang menekan ketat tulang pipinya hingga nyeri, keringat dingin mengalir deras ke dagu, bercampur dengan remah debu abu piroklastik yang lolos dari katup buang. Rasanya pahit, getir, dan menusuk bagai uap asam sulfat pekat yang dibakar di ujung lidah. Sol sepatu bot tebal berbahan Vibram miliknya berderit tajam tiap kali menginjak lapisan tefra hangat yang masih menyimpan sisa kalor bumi. Panas itu merayap naik menembus sol karet padat, membakar telapak kakinya perlahan melewati dua lapis kaus kaki wol tebal, seolah tanah yang ia pijak hanyalah kerak tipis di atas tungku peleburan logam yang siap runtuh sewaktu-waktu.
Sudah empat jam Ghalib merayap sendirian menembus batas perimeter merah yang telah dinyatakan terlarang total oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana. Garis polisi kuning yang koyak dan plang seng berkarat bertuliskan 'ZONA MERAH: BAHAYA GAS BERACUN – DEADLY CO2 AND H2S CONCENTRATION' di dekat gerbang Jayagiri telah tergeletak roboh, terpelintir dan terkubur setengah badan oleh runtuhan material tefra dan bongkahan andesit pascagempa darat magnitudo 4,8 yang mengguncang kawasan itu subuh kemarin. Rekan-rekannya di pos pengamatan Maribaya dan kawan-kawan peneliti di gedung Geologi Bandung mengira Ghalib sedang terlelap di barak pengungsian karena kelelahan ekstrem menatap layar seismograf digital selama tiga puluh enam jam tanpa jeda. Mereka tidak pernah menduga bahwa ransel Cordura seberat dua puluh delapan kilogram di punggungnya kini tidak lagi berisi ransum logistik atau pakaian kering, melainkan dua unit geofon broadband tiga-komponen berfrekuensi sangat rendah, tabung oksigen darurat serat karbon bertekanan tiga ratus bar, sebuah laptop lapangan ruggedized berlapis titanium, dan sebongkah ketakutan purba yang menggerogoti dasar nuraninya.
Keheningan kaldera malam itu bukanlah kesunyian alam pegunungan yang menenteramkan, melainkan senyap yang sarat oleh kepungan ancaman purba—seperti jeda tarikan napas seekor binatang raksasa sebelum menerkam mangsanya di dalam kegelapan. Dari celah-celah lubang solfatara di dinding kawah yang curam dan tandus, terdengar desis uap bertekanan tinggi yang tak pernah berhenti. Suara 'sssshh-hiss' itu melengking tajam, menyerupai raungan pipa uap pabrik geotermal yang katup pelepas daruratnya terganjal karat. Namun, bukan desis uap itu yang membuat lutut Ghalib gemetar hingga persendiannya ngilu. Yang membuat bulu kuduknya meremang adalah getaran infrasonik yang merambat langsung dari batuan dasar menembus sol botnya. Gelombang mekanik berfrekuensi di bawah delapan Hertz itu tidak terdengar oleh indra pendengaran manusia biasa, melainkan diterjemahkan langsung oleh rongga dadanya sebagai denyut tumpul yang memicu mual hebat di ulu hati. 'Deg... deg... wubbb...' Denyut ritmis yang teratur, berat, dan mengerikan. Seakan-akan ada sebuah organ pemompa raksasa yang berdenyut di kedalaman lima kilometer di bawah batuan beku Kaldera Sunda purba.
Ghalib berhenti sejenak, bertumpu pada tongkat treking berbahan serat karbon yang ujung tungstennya mulai terkelupas akibat panas permukaan tanah yang menyengat. Ia mengangkat pergelangan tangan kirinya, menyeka jelaga abu pada kaca jam tangan taktis altimeter-barometernya. Ketinggian tercatat dua ribu empat puluh delapan meter di atas permukaan laut. Suhu udara di luar mantel Nomex-nya berkisar empat derajat Celsius, namun sensor inframerah termometer genggam yang ia arahkan ke tanah mencatat angka lima puluh sembilan koma empat derajat Celsius. Perbedaan gradien termal yang ekstrem itu menciptakan pusaran uap konvektif yang menari-nari bagai siluet jemari hantu kelaparan di atas hamparan batu apung yang menghitam.
'Baskoro... di mana kau menyembunyikan kegilaanmu ini?' bisik Ghalib serak di balik membran respiratornya. Suaranya memantul di kaca visor transparan, terdengar asing, kering, dan tercekik di telinganya sendiri. Rasa bersalah kembali meremas jantungnya bagai cengkeraman ragum baja. Tiga hari yang lalu, di auditorium megah ber-AC sejuk di pusat kota Bandung, dialah yang melempar berkas kalkulasi Baskoro ke atas meja seminar dan mencapnya sebagai 'delusi geofisika yang tidak didukung data empiris konsensus'. Kini, ketika tanah di bawah kakinya benar-benar memompa uap panas dengan irama yang persis seperti yang diramalkan oleh sang mentor tua, Ghalib sadar bahwa keangkuhan ilmiahnya telah mendorong Baskoro masuk ke dalam pusaran maut sendirian tanpa pelindung apa pun.
Di saku radio jaketnya, perangkat handy-talkie Motorola berderak pelan di tengah desis statis atmosferik yang kacau. Suara Dr. Raras, kepala stasiun pemantau Maribaya, terdengar sayup-sayup menembus gangguan medan elektromagnetik: 'Ghalib... ganti... stasiun Maribaya memanggil Ghalib... Kamu di mana? Gelombang geser di stasiun Tangkuban kembali melonjak... Tiltmeter segmen barat menunjukkan inflasi tiga mikro-radian dalam sepuluh menit... Jika kamu berada di lereng utara, segera balik kanan! Ghalib, jawab!' Ghalib menatap pemancar itu beberapa detik dengan jemari yang ragu, sebelum akhirnya mematikan sakelar volumenya hingga hening. Tidak ada jalan untuk berbalik sekarang. Menyerah saat ini berarti membiarkan Baskoro lenyap ditelan abu tanpa pernah ada saksi yang mengerti kebenaran di balik kematiannya.
━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━
BAGIAN 02: BIVAK DI BALIK DINDING PIROKLASTIK
Artefak Kehidupan di Antara Tumpukan Belerang Kering | 00:15 WIB — Punggungan Celah Upas | Kantung Topografi Tersembunyi, Sisi Barat Daya Tebing (2.012 mdpl)
━━━ ▲ ━━━
Di balik sebuah singkapan tebing breksi piroklastik yang terbelah membentuk rekahan vertikal selebar tiga meter akibat guncangan tektonik baru-baru ini, Ghalib melihat sekelebat bayangan geometri yang tidak wajar. Formasi alamiah di kawah vulkanik selalu terdiri atas kontur batuan yang compang-camping, lereng talus yang acak, dan bongkahan lava beku yang tak simetris. Alam tidak pernah menyusun sudut siku-siku yang tegas. Dengan napas yang memburu dan otot paha yang berkedut perih terbakar asam laktat, ia merangkak menaiki gundukan batu belerang kuning kenari yang rapuh. Bebatuan kristal itu berderak renyah bagai serpihan kaca tebal di bawah tekanan botnya, melepaskan kepulan gas belerang murni yang menusuk mata hingga berair di balik pelindung lensa polikarbonatnya.
Itu adalah bivak darurat. Sebuah lembaran terpal tahan api berbahan kain NOMEX aluminized berwarna jingga kusam direntangkan miring bersandar pada dinding tebing andesit, diikatkan dengan tali Kevlar berdiameter lima milimeter pada pasak pasak titanium yang dihujamkan kuat ke celah batuan beku. Salah satu sisi terpal itu telah hangus berlubang akibat tertimpa lontaran bom vulkanik seukuran kepalan tangan, menyisakan jelaga hitam dan serat kain yang meleleh di pinggirannya. Namun struktur darurat itu masih berdiri kokoh. Di sekeliling terpal, sebuah dinding penahan setinggi setengah meter tersusun rapi dari tumpukan bongkahan batu belerang dan andesit padat—sebuah tanggul pelindung yang sengaja dibangun oleh tangan manusia berpengalaman untuk menahan sapuan gas berat CO2 dan lontaran kerikil panas.
Jantung Ghalib berdegup begitu kencang hingga ia merasa getaran nadinya mendentum di pelipis. Harapan liar yang selama tiga hari ini ia kubur dalam-dalam tiba-tiba mencuat kembali ke permukaan kesadarannya bagai semburan geiser. 'Baskoro...!' teriaknya di dalam ruang sempit respiratornya, meski suara itu teredam menjadi gumaman parau yang tak terdengar dari jarak lima langkah. Ghalib berlutut di tepi terpal, mengabaikan serpihan tajam batu kaca vulkanik obsidian yang menggores lutut celana taktisnya. Sorot senter kepalanya menyapu bagian dalam bivak yang sempit, berdebu, dan lembap oleh kondensasi uap belerang.
Di atas selembar terpal lantai tahan air berlapis busa insulasi termal, terhampar sebuah kantung tidur oranye tebal berstandar ekspedisi kutub kutub. Resleting kantung tidur itu terbuka penuh dan bagian dalamnya berantakan, menandakan penghuninya keluar dengan tergesa-gesa dalam kegentingan mendadak. Namun bukan kantung tidur itu yang membuat pandangan Ghalib terpaku membeku. Di sudut terpal, di sebelah botol minum berbahan baja tahan karat yang penyok parah akibat benturan, tergeletak tiga bungkus aluminium foil ransum militer MTP-3 TNI pembagian pasukan reaksi cepat penanggulangan bencana. Salah satu bungkus—nasi daging bumbu rendang—baru dibuka bagian ujung atasnya dengan sobekan tangan yang kasar. Di dekatnya, sebuah sendok lipat berbahan titanium masih menyisakan remah nasi yang berminyak.
Ghalib menyentuh remah makanan itu dengan ujung sarung tangannya. Remah itu belum mengeras menjadi fosil kering; minyaknya masih terasa licin saat ditekan. Bungkus ransum itu baru dibuka maksimal tiga hari yang lalu—kurang dari tujuh puluh dua jam sebelum fajar ini merekah. Itu artinya Baskoro tidak tewas saat longsoran tebing barat terjadi minggu lalu sebagaimana kesimpulan gegabah tim SAR gabungan daerah. Mentornya tidak hancur lebur terkubur di dasar danau kawah yang mendidih. Orang tua keras kepala itu masih hidup ketika seluruh pejabat di kota menganggap pencariannya telah selesai, dan ia telah mendirikan pos pengamatan gerilya tepat di garis depan maut tanpa rasa takut sedikit pun.