RETAKAN DI RAHIM SANGKURIANG
Intrik Konsorsium Geotermal: Konfrontasi di Ceruk Kawah
━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━
Bagian 01: Halimun Belerang dan Hantu di Kawah Ratu
Ceruk Solfatara Kawah Ratu, Lereng Tangkuban Perahu (Elevasi 1.830 mdpl) — Pukul 03.42 WIB — Menjelang Fajar Berkabut Asam
━━━ ▲ ━━━
Bau telur busuk dan asam sulfat menyengat itu bukan lagi sekadar aroma kawah; ia telah menjelma jarum-jarum mikro yang mengoyak dinding bronkus Ghalib setiap kali ia memaksakan napas masuk. Masker respirator industri berpenyaring arang aktif yang melingkari separuh wajahnya kini terasa lembap, berlendir keringat dingin bercampur kondensasi uap belerang pekat. Suara napasnya sendiri menderu di rongga masker seperti hembusan angin terperangkap dalam guci tembikar yang retak. Di sampingnya, dalam cekungan batu andesit yang menghitam oleh jelaga asam fumarol, Nayla bersandar dengan tubuh bergetar hebat. Lutut kiri gadis itu bengkak membiru akibat terperosok ke celah runtuhan pasir tuf vulkanik setengah jam yang lalu.
"Ghalib... tabung katup oksigenku tinggal lima belas bar," bisik Nayla, suaranya serak dan patah-patah di balik corong silikon. Tangannya yang berlumuran lumpur belerang kuning keperakan mencengkeram lengan jaket tahan bara Ghalib dengan keputusasaan yang sunyi namun mematikan. Ujung jari gadis itu dingin seperti pualam kuburan. "Jika kita memutar balik ke arah punggungan barat, sensor termal drone mereka pasti menyapu punggung kita. Kita akan jadi bangkai sebelum mencapai jalan setapak Jayagiri."
Ghalib menoleh ke belakang, menatap jurang kawah yang membentang di bawah keremangan malam. Di dasar kawah sana, di balik tirai halimun kuning kehijauan yang mendidih perlahan, cahaya halogen raksasa dari rig pengeboran ilegal Aethel Energy berkedip-kedip bagai mata monster purba yang baru terbangun. Desing mesin kompresor raksasa berkekuatan puluhan ribu tenaga kuda menyusup melalui rongga telinga mereka, bukan sebagai dengungan biasa, melainkan denyutan infrasonik yang merambatkan rasa mual langsung ke ulu hati. Logam beradu dengan batu di kedalaman ribuan meter. Konsorsium itu sedang mencabik-cabik perut bumi tanpa henti, memompakan mimpi gila tentang laba tak terbatas di atas bom waktu tektonik yang terus berdetik.
Di dalam ransel kanvas dekil militer yang melekat di punggung Ghalib, buku bersampul kulit hitam peninggalan Profesor Baskoro terasa menekan tulang belikatnya laksana lempeng timbal seberat tonase gunung. Sampul buku itu masih meninggalkan jejak noda kecokelatan yang telah mengering—darah Baskoro sendiri saat orang tua itu ambruk di samping pipa penukar panas tiga pekan lalu. Kematian yang disamarkan oleh humas konsorsium sebagai 'kegagalan jantung akibat kelelahan usia senja di medan ekstrem'.
Omong kosong terkutuk. Ghalib tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi. Jantung Baskoro tidak berhenti karena uzur; jantungnya dihentikan paksa setelah sang profesor menolak memalsukan tanda tangan persetujuan AMDAL geotermal untuk proyek perekahan hidrolik di zona merah sesar aktif. Dan kini, buku jurnal itu—lengkap dengan grafik pemantauan mikrotremor, salinan telemetri borehole, dan pemodelan tensor tegangan batuan—menjadi satu-satunya bukti otentik bahwa sebuah bencana katastropik buatan manusia tengah direkayasa di bawah selimut kabut Lembang.
"Kita tidak punya pilihan, Nayla. Kita harus masuk ke terowongan peninggalan Belanda itu sekarang," ujar Ghalib seraya menyentuhkan telapak tangannya ke dinding batu tebing yang terasa hangat menjilat kulit sarung tangannya. Suhu batuan di sini telah melonjak abnormal hingga mencapai enam puluh derajat Celsius. Batuan itu seperti demam tinggi yang meracau. "Pintu terowongan drainase tahun 1923 itu menembus langsung ke punggungan Curug Cimahi. Di sana sinyal enkripsi darurat kita bisa menembus satelit. Kuatkan dirimu, tahan sakitnya sebentar lagi."
Bagian 02: Lorong Hindia Belanda 1923
Mulut Adit Drainase Tambang Belerang Kolonial, Dinding Kawah Utara — Pukul 04.05 WIB — Kegelapan Abadi dan Dinding yang Berkeringat Asam
━━━ ▲ ━━━
Mulut terowongan itu menganga laksana kerongkongan binatang purba yang membatu. Dinding bata merah berlumut hitam dengan plester semen era kolonial tampak telah melengkung dan retak-retak di banyak titik, menahan tekanan massa tebing yang terus bergerak perlahan selama satu abad terakhir. Gemericik air asam menetes dari langit-langit lengkung terowongan, jatuh menimpa genangan lumpur silika di lantai dengan irama ritmis yang mencekam: *tik... tik... tik...* Setiap tetesan yang mengenai jaket pelindung Ghalib mendesis halus, membakar serat kain sintetis dengan keasaman mendekati pH 1.5.
Ghalib memapah Nayla melintasi ambang pintu besi berkarat yang sudah terlepas dari engselnya. Udara di dalam lorong terasa jauh lebih pekat dan pengap; percampuran antara uap tanah basah, gas radon yang merayap dari pori-pori batuan tertekan, dan hembusan panas dari cerobong bawah tanah. Di lorong ini, suara deru rig pengeboran Aethel Energy di kawah luar memang sedikit teredam, namun getaran mekanisnya justru terasa berlipat kali lebih intim merambat melalui telapak sepatu bot mereka.
"Ghalib, rasakan ini..." bisik Nayla tiba-tiba, menahan langkahnya seraya menyandarkan bahu ke pilar bata yang retak. Dadanya kembang-kempis, napasnya memburu cepat. Jemarinya yang gemetar meraba retakan selebar telapak tangan pada dinding terowongan. "Ini bukan retakan fondasi lama. Plester bata ini patah segar. Lihat butiran silikat putih yang baru luruh ini... rekahan ini baru terjadi beberapa jam yang lalu!"
Ghalib mengarahkan sorot lampu kepalanya ke titik yang ditunjuk Nayla. Cahaya putih pucat menyinari retakan melintang yang membelah dinding andesit setebal setengah meter. Debu halus batuan masih berjatuhan perlahan di udara yang diam. Di dalam retakan itu, alat mikrometer digital mini yang terpasang di saku ransel Ghalib mulai mendengung lirih, menangkap getaran harmonik frekuensi rendah yang tak tertangkap oleh telinga manusia biasa.
Rasa dingin yang ganjil merambat dari tengkuk hingga ke tulang ekor Ghalib. Sebagai seismolog muda yang dididik langsung oleh Baskoro, ia mengenali tanda-tanda itu luar dalam. Batuan penudung kaldera ini telah kehilangan modulus elastisitasnya. Pengeboran rekahan hidrolik yang dilakukan Aethel Energy telah memecahkan batas toleransi mekanik formasi batuan penopang. Sesar Lembang bukan lagi sekadar garis patahan pasif di peta geologi Jawa Barat; ia sedang dibangunkan paksa dengan tusukan jarum-jarum baja bertekanan puluhan megapascal.
"Mereka sudah menaikkan debit pemompaan fluida malam ini," gumam Ghalib dengan bibir kering gemetar. Kemarahan dan ketakutan bergulat ganas di dalam dadanya. "Data yang dicatat Profesor Baskoro sebelum dibunuh menyebutkan batas kritis formasi batuan ini adalah enam puluh megapascal. Jika mereka melampaui angka itu..." Belum sempat Ghalib menyelesaikan kalimatnya, seberkas sinar merah tipis menembus pekatnya kegelapan terowongan dari arah belokan depan.
━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━
Bagian 03: Moncong Runduk di Ujung Remang