Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Labirin Bawah Tanah Jayagiri

# Labirin Bawah Tanah Jayagiri

## Siklus Basal dan Sumpah yang Tertinggal. Pelarian hidup-mati menembus bunker KNIL 1914 yang memotong tabung lava purba Gunung Sunda kuaterner, diteror desing peluru, racun belerang, dan klaustrofobia runtuhan geoteknik.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 01: Desingan Timah dan Sumpah yang Tertinggal

*Pintu Besi Berkarat dan Ledakan Belerang* (Tekanan Geoteknik: 3.2 MPa - Stabil Menegang)

━━━ ▲ ━━━

Peluru mendesing di atas kepala Ghalib, menghantam dinding bata tua peninggalan KNIL dan menyemburkan percikan kapur perih ke kedua pelupuk matanya. Suara hantamannya bukan sekadar letupan mesiu; itu adalah raungan logam buas berkecapatan supersonik yang mengoyak ketenangan sunyi hutan pinus Jayagiri yang basah kuyup oleh kabut senja. Bau belerang mesiu bercampur amis humus pinus lapuk menampar indra penciumannya dengan kejam, memaksa dadanya mengembang kencang dalam kepanikan murni yang membakar urat nadi.

"Lewat sini! Jangan melamun kalau masih sayang nyawa!" seru Kang Ujang. Suaranya serak tertahan, ditekan sekuat tenaga agar tidak terpental keluar dari celah parit perlindungan berbatu.

Lelaki paruh baya berurat kawat itu menghantamkan sol sepatu bot berlumpurnya ke daun pintu besi berkarat tebal yang nyaris terkubur sulur-sulur akar gantung beringin gunung. Engsel baja Belanda bertahun cetak 1914 menjerit ngilu dalam gesekan logam aus, merontokkan kerak karat kemerahan yang berhamburan ke udara lembap seperti remah darah kering yang membusuk. Di balik pintu itu, udara dingin menghembus tajam—bukan terowongan beton berbau apek biasa, melainkan hawa beku menusuk tulang yang bersumber dari tabung bundar batu basal hitam pekat yang dibentuk oleh lava pijar ratusan ribu tahun silam.

Di belakang mereka, derap langkah sol sepatu lars para pemburu bayaran menjejak semak pakis liar dengan kecepatan mematikan. Tiga letusan senapan serbu kembali menyalak beruntun dalam pola tembakan taktis. Daun pintu jati di bibir pos penjagaan terkelupas berkeping-keping, menghamburkan serpihan kayu runcing yang menyayat pelipis dan pipi kiri Nayla.

Nayla tersentak keras. Erangan tertahan lolos dari sela bibirnya yang memucat pasi. Jemari kanannya mencengkeram erat bahu kirinya sendiri yang basah kuyup oleh darah merah segar—rekoset peluru pertama di lereng curam tadi telah merobek jaket gore-tex miliknya, mengalirkan cairan kental hangat yang kini terasa lengket dan berbau besi tembaga di sela jari-jemarinya yang bergetar tak terkendali.

"Nayla, pegang tanganku! Jangan pernah melihat ke belakang!" Ghalib menyambar pergelangan tangan perempuan itu tanpa ragu. Kulit Nayla sedingin bongkahan es Jayagiri, kontras yang menyakitkan dengan suhu tubuhnya yang mulai merayap naik akibat demam syok traumatis.

Ghalib merasakan degup denyut nadi Nayla memukul liar di bawah ibu jarinya, cepat dan kacau seperti sayap burung gereja yang terperangkap dalam sangkar kawat berduri. Ada rasa bersalah yang menghantam ulu hati Ghalib bagai godam beton: andai saja ia tidak bersikeras memvalidasi anomali rekahan seismik di sektor Jayagiri ini demi pembuktian hipotesis akademiknya, Nayla masih berada di laboratorium geologi Bandung yang hangat, meneguk kopi sambil mencatat koordinat peta, bukan berlari menyabung nyawa di parit berdarah ini.

Kang Ujang merogoh ransel karungnya dengan kegesitan liar seorang mantan penambang kawah. Tangannya yang dipenuhi parut luka bakar menari cepat, menarik keluar tabung silinder pipa tembaga berisi adonan belerang padat Kawah Ratu yang dicampur serbuk kalium klorat dan arang pinus gunung. Dengan satu gesekan korek api gas yang menyala merah temaram di balik telapak tangannya yang kapalan, sumbu kain menyambar kilat membakar serbuk mesiu.

"Tutup hidung kalian rapat-rapat! Tahan napas lima langkah ke depan!" raung Kang Ujang sebelum memutar badannya dan melemparkan tabung tembaga itu tepat ke mulut lorong semen benteng terluar.

Dentuman tumpul mengguncang fondasi tanah di bawah kaki mereka. Asap putih kekuningan yang luar biasa pekat, panas, dan beracun meledak seketika, membentuk tirai belerang tebal bersuhu tinggi yang membakar kornea dan melumpuhkan saluran pernapasan. Jeritan batuk panik, umpatan bahasa asing, dan rentetan tembakan buta para pengejar tenggelam dalam kabut kimiawi yang membutakan. Memanfaatkan kepanikan sesaat itu, Kang Ujang menyentak tali ransel Ghalib, menyeret mereka bertiga melompati ambang pintu besi, lalu membanting daun baja berat itu menutup rapat dengan dentang gema yang memekakkan gendang telinga.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 02: Celah yang Menelan Cahaya

*Peralihan Beton 1914 ke Lorong Lava Kuaterner* (Tekanan Geoteknik: 6.8 MPa - Fluktuasi Kompresi)

━━━ ▲ ━━━

Grendel pasak besi jatuh mengunci liang masuk. Suara hantaman peluru musuh yang menerpa sisi luar daun pintu baja kini teredam menjadi ketukan palu jauh di bawah timbunan selimut tebal. Namun kelegaan itu fana dan rapuh. Dalam sekejap mata, kegelapan mutlak menelan mereka seutuhnya—kegelapan hening yang begitu padat, pekat, dan purba hingga pupil mata yang membesar maksimal pun tidak mampu menangkap batas antara udara kosong dan dinding batu.

Ghalib menyalakan lampu senter kepala LED berspektrum hangat. Seberkas cahaya 400 lumen membelah pusaran debu mikro yang melayang lambat di udara kedap.

Pemandangan di hadapan mereka membuat napas Ghalib tercekat di kerongkongan. Selama tiga meter pertama, dinding terowongan masih memperlihatkan struktur blok beton bertulang cetakan kolonial tahun 1914, lengkap dengan lekuk bekisting papan jati dan inskripsi stempel militer Hindia Belanda bertuliskan *KNIL Geniedepot 1914* yang setengah terhapus kerak lelehan garam kapur putih. Namun persis di titik lengkungan kubah yang retak menganga, konstruksi manusia itu terputus kasar seolah diamputasi oleh kekuatan raksasa yang lapar.

Di sanalah dinding benteng beton itu menabrak dan menembus saluran tabung lava purba Gunung Sunda Kuaterner.

Dinding di hadapan mereka bukan lagi permukaan datar buatan alat cetak. Itu adalah terowongan silinder raksasa yang meliuk anggun namun mengerikan, terbentuk dari batu basal piroklastik hitam pekat bergelombang, menyerupai isi perut naga raksasa yang membeku seketika saat magma andesitik bersuhu lebih dari seribu derajat Celsius terkuras habis ke lembah Bandung ratusan ribu tahun lalu. Permukaan batu basal itu bergelombang halus dengan guratan-guratan aliran linier alami, berkilau dingin oleh lapisan silika glasial yang memantulkan sinar senter bagai pecahan cermin obsidian hitam.

"Bunker ini... mereka tidak sekadar menggali pos pantau pertahanan," bisik Nayla terengah-engah, suaranya tercekat menahan gelombang nyeri yang berdenyut di sendi bahunya. Tubuhnya bersandar gemetar pada tonjolan dinding basal. Dinginnya batu beku itu langsung menyerap kehangatan jaketnya bagai spons kering menyerap air. "Zeni Belanda membobol tabung lava purba ini untuk membuat terowongan tembus rahasia menuju punggungan Gunung Sunda... tapi mereka terpaksa menghentikannya."

"Mereka menghentikannya karena gunung ini menolak mereka, Neng," sahut Kang Ujang dengan nada datar yang dingin menusuk sukma. Pria itu menyalakan senter obor kuning redupnya, menyapu stalaktit-stalaktit pendek yang menggantung di langit-langit lengkung. Stalaktit itu bukan terbentuk dari kapur biasa, melainkan lelehan andesit piroklastik yang membeku mendadak saat udara dingin luar menerobos jutaan tahun silam.

Tetesan air jatuh berirama dari langit-langit batu: *tik... tik... tik...* Bunyinya bergema konstan di dalam tabung hampa, menakutkan seperti detak jam dinding di kamar jenazah yang sepi. Ketika setetes air mendarat di punggung tangan Ghalib, ia mengernyit perih seketika. Kulitnya terasa terbakar seperti disengat asam pekat.

"Air rembesan asam sulfat hidrotermal," gumam Ghalib seraya buru-buru menyeka punggung tangannya ke celana kanvas. Ia meraba modul telemetri di saku rompinya—sensor deformasi piezoelektrik piezoresistif yang telah ia kalibrasi dengan kristal kuarsa mikro. Angka digitalnya berkedip gelisah di angka 6.8 Megapascal. "Tingkat keasaman air di atas kita melarutkan semen kalsium beton Belanda. Pertemuan antara beton kaku dan lengkungan basal ini sedang menahan tegangan geser yang sangat labil."

Tiba-tiba, dari arah pintu besi di belakang mereka, terdengar suara dentuman berdentang keras yang berulang-ulang. Bukan lagi tembakan senapan, melainkan hantaman linggis baja berat dan desis tajam semprotan las karbit berkekuatan industri. Musuh tidak berniat berbalik arah; mereka menyadari bahwa mangsa mereka telah terjebak di lorong buta tanpa jalan keluar selain menjadi mayat yang terkubur dalam sunyi.

Lihat selengkapnya