Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Peta di Balik Punggung Kawah

# Peta di Balik Punggung Kawah

## Korelasi Topografi 3D LiDAR dengan Naskah Lontar Kuno

Sadar dari trans halusinasi, Ghalib memproyeksikan data model elevasi digital (DEM) LiDAR 3D Tangkuban Parahu dan Patahan Lembang di tablet lapangannya. Nayla menumpangkan foto naskah lontar Sunda buhun 'Amanat Galunggung' di atas model LiDAR. Keajaiban terjadi: kontur jurang, sungai bawah tanah, dan ceruk kawah purba cocok 100% dengan peta simbolik naskah kuno. Mereka menemukan pintu masuk ke 'Bilik Danghiang'—ruang magma mati tempat Baskoro bersembunyi.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 01: Kabut Welirang dan Jerat Halusinasi di Tubir Upas

━━━ ▲ ━━━

Hawa dingin di punggung Kawah Upas tidak sekadar menusuk pori-pori kulit; ia merayap pelan bagai pisau bedah tumpul yang mengikis lapis demi lapis kehangatan dari sumsum tulang sang pengelana. Di ketinggian lebih dari dua ribu meter di atas permukaan laut, kabut malam tidak turun dari langit yang gulita, melainkan tergelincir naik dari dasar kaldera yang menganga—kelabu, pekat, berminyak, dan sarat bau tengik hidrogen sulfida yang membakar selaput lendir rongga tenggorokan.

Ghalib berdiri membatu di bibir jurang andesit yang rapuh. Angin pegunungan menghantam jaket tahan angin tiga lapis yang dikenakannya dengan kepakan liar menyerupai sayap burung bangkai raksasa. Di bawah sol sepatunya, butir-butir kerikil vulkanik dan serpihan kerak belerang berwarna kuning pucat berderak pelan. Batuan itu sangat getas, seolah hanya menanti sedikit saja getaran tambahan sebelum ambrol meluncur bebas ke dalam jurang berkedalaman seratus lima puluh meter di bawah sana.

Tubuh sang pria gemetar hebat tak terkendali. Rahangnya mengatup rapat hingga giginya bergemeretak ngilu. Namun gigil itu bukan semata karena jarum termometer digital di pergelangan tangannya telah anjlok menyentuh angka tiga koma dua derajat Celsius, melainkan oleh getaran purba yang menjalari rongga dadanya sendiri. Tanah tempatnya berpijak terasa berdenyut, bagai punggung monster raksasa yang tertidur gelisah di bawah timbunan lava membeku.

Ia telah menatap jurang itu terlalu lama. Kegelapan kawah yang sunyi memiliki daya hipnotis yang ganjil. Kabut putih kekuningan yang membubung dari fumarol-fumarol aktif di dasar kaldera tampak mulai berpilin, membentuk sulur-sulur tak kasatmata yang menari di pelupuk matanya. Dalam pusaran uap solfatara itu, Ghalib tidak lagi melihat formasi batuan piroklastik atau tumpukan breksi vulkanik hasil letusan freatik masa lalu.

Pikirannya yang mulai teracuni gas sulfur tipis dan kelelahan fisik selama empat belas jam pendakian tanpa henti mulai merajut halusinasi mengerikan. Di antara ceruk bebatuan tajam yang tertutup kerak belerang keemasan, ia melihat wajah Baskoro. Wajah rekan sekaligus mentor geodinamikanya yang lima tahun silam menghilang tanpa jejak di zona sesar timur, kini tersenyum dingin di tengah kepulan asap beracun.

"Kau terlalu lambat, Ghalib," bisikan itu berdesir di telinganya, begitu bening hingga menenggelamkan raungan angin kawah. Suara Baskoro, atau barangkali igauan rasa bersalah yang telah membusuk di sudut kesadaran Ghalib sejak tim riset mereka dibubarkan paksa oleh kementerian. "Bumi tidak pernah menunggu moralitas manusia yang rapuh. Di bawah telapak kakimu yang gemetar, naga purba itu sudah mulai meregangkan otot-ototnya. Bergabunglah denganku. Di dasar jurang ini, tidak ada lagi rasa dingin, tidak ada lagi ketakutan."

Ghalib melangkah maju. Satu sentimeter. Sepatunya menginjak tepian tebing yang hanya disangga oleh tufa lapuk. Di dasar kawah, danau lumpur asam meletupkan gelembung kelabu tanpa suara, siap melahap siapa pun yang terjun ke pelukannya. Bau belerang yang semula menyengat tiba-tiba berubah menjadi aroma manis yang menipu—tanda klinis paling mematikan bahwa reseptor olfaktori di hidungnya telah lumpuh total akibat saturasi sulfur dioksida.

Dunia di sekelilingnya memudar menjadi kabut keemasan yang tenang. Ia tidak lagi merasakan dingin yang membekukan darahnya. Yang ada hanyalah tarikan hampa dari dasar kawah, mengundangnya untuk menjatuhkan diri dan mengakhiri seluruh kelelahan ini untuk selamanya.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 02: Tarikan Nayla dan Terjangan Realitas Lapangan

━━━ ▲ ━━━

"Ghalib! Mundur, demi Tuhan!"

Sebuah sentakan keras menghantam sabuk pengaman di pinggangnya. Tubuh Ghalib terpelanting ke belakang, terhempas menghantam gundukan batu breksi yang kasar. Udara malam yang dingin menyengat paru-parunya saat masker respirator silikon bermata dua dipaksa menelungkup ke wajahnya oleh sepasang tangan bersarung tebal.

"Tarik napas panjang! Kunci katupnya!" suara Nayla menembus dengung pekak di kedua telinga Ghalib. Suara itu bergetar hebat antara amarah yang meluap dan kepanikan murni. Gadis itu berlutut tepat di sampingnya, celana kargo lapangannya berlumuran lumpur asam kekuningan dari lereng atas. Di balik kacamata pelindung balistik yang berembun, mata Nayla berkilat tajam di bawah sorotan lampu kepala berkekuatan delapan ratus lumen.

Ghalib terbatuk-batuk hebat hingga dadanya nyeri. Rasa mual yang pekat mengocok perutnya saat pasokan oksigen murni yang tersaring lewat tabung karbon aktif mulai menyapu kabut hipoksia dari sel-sel otaknya. Siluet Baskoro di dasar jurang lenyap seketika, buyar menjadi dinding kaldera compang-camping yang membisu kedinginan. Yang tersisa di hadapannya hanyalah kegelapan liar Kawah Upas, di mana bebatuan andesit tajam mencuat bagai gigi taring raksasa yang dililit uap welirang beracun.

"Kau hampir melangkah ke udara kosong, bodoh!" desis Nayla, napasnya terengah-engah membentuk gumpalan uap putih di udara beku. Tangannya masih mencengkeram erat karabiner pengait di pinggang Ghalib, seolah takut pemuda itu akan melompat lagi. "Konsentrasi gas hidrogen sulfida di tubir tebing ini sudah melampaui tiga puluh delapan part per million! Sensor portabel kita sudah menjerit sejak lima puluh meter tadi, tapi kau terus berjalan seperti mayat hidup!"

"Aku... aku melihatnya, Nay," suara Ghalib tercekat di balik diafragma karet respirator. Suaranya serak dan pecah, bagai gesekan dua bilah batu apung kering. Tangannya yang kaku meraba saku dada jaketnya, memastikan kantung pelindung tablet lapangan dan modul GPS geodetik masih utuh. "Baskoro tidak mati lima tahun lalu di sesar timur. Dia ada di sini. Di bawah rongga kawah ini... memanggilku."

Lihat selengkapnya