Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Pertemuan Tak Terduga

# Pertemuan Tak Terduga

## Menemukan Prof. Baskoro di Balik Tirai Api Dingin. Lokasi: Celah Sesar Lembang Sektor Barat Daya – Dinding Kaldera Sub-Permukaan Kawah Upas / Tangkuban Parahu.

“Kamu terlambat dua puluh menit, Ghalib,” suara parau itu memecah dengungan kawah. Di sudut gua, sosok kurus berpakaian seragam lapangan PVMBG yang robek-robek menatap mereka sambil tersenyum tipis. Baskoro menurunkan pensil grafitnya. “Tapi setidaknya kamu membawa Nayla. Bagus. Sains kita butuh seseorang yang mengerti bahasa para penyair kuno.”

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 01: Di Ambang Celah Belerang dan Dengungan Purba

Infrasound, masker neoprena, dan bau asam yang menggerus paru-paru. (Bibir Sesar Sektor Barat – Celah Solfatara 110 mdpl)

━━━ ▲ ━━━

Setiap embusan napas di kedalaman ini terasa seperti menelan serbuk kaca yang dibasahi cuka pekat. Masker gas neoprena ganda yang kukenakan bergetar pelan seiring tarikan paru-paruku yang kian pendek, berderit tertahan oleh katup penyaring silika aktif yang nyaris mencapai batas jenuhnya. Udara tidak lagi berupa oksigen netral; ia adalah sup racun yang kental dan panas—hidrogen sulfida yang berbau telur busuk pekat, sulfur dioksida yang mencekik tenggorokan seperti cakar tak kasatmata, dan uap air bersuhu dua ratus derajat Celsius yang mendesis keluar dari pori-pori batuan andesit berlumur kerak kuning kenari.

Di belakangku, Nayla terbatuk pendek di balik kaca helm lapangan. Suara batuknya teredam membran silikon, terdengar rapuh dan putus-putus melalui radio interkom gelombang pendek yang berderak di telingaku. Aku menoleh ke belakang, menyorotkan senter kepala berkekuatan dua ribu lumen ke arahnya. Kaca visor Nayla telah diselimuti lapisan embun asam keabu-abuan. Sarung tangan vulkanologi berlapus serat kevlar miliknya mencengkeram tali karmantel statis berdiameter sebelas milimeter dengan buku-buku jari yang memutih pucat. Di bawah sol sepatunya, tebing andesit itu basah oleh kondensasi asam belerang yang membuat permukaan batu selicin lapisan minyak pelumas. Jika pegangan tali itu terlepas satu jengkal saja di ceruk vertikal ini, tubuh kami akan meluncur bebas ke dasar Kawah Upas yang mendidih seperti bubur lumpur silikat tanpa dasar.

“Ghalib... instrumen seismometer digital di ranselmu bergetar lagi,” bisik Nayla terengah. Suaranya serak di saluran radio, diselingi deru desis solfatara yang memekakkan telinga. “Tre-mor tremor frekuensi nol koma delapan Hertz. Amplitudonya meningkat dua belas persen dibanding setengah jam lalu. Dengungannya bukan berasal dari kolom konveksi magma utama. Batuan di bawah tumit kita... batuan ini sedang meratap. Seperti kaca tebal yang sedang diregangkan hingga batas melengkungnya.”

Aku tidak perlu memeriksa layar log data di dadaku untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Tulang kering dan sendi lututku sudah merasakan getaran itu sejak kami merayap menuruni punggung sesar dua jam lalu. Itu adalah infrasound—getaran berfrekuensi teramat rendah di bawah dua puluh Hertz yang tidak mampu ditangkap oleh daun telinga manusia biasa, namun mampu meremas isi dada, mengacaukan ritme denyut jantung, dan mengirimkan sinyal purba tentang bahaya mematikan ke sumsum tulang belakang. Dinding kaldera ini tidak sekadar diam membeku dalam kegelapan malam; ia bergesekan, merintih di bawah tekanan tektonik jutaan ton massa kerak bumi yang terkunci rapat sejak berabad-abad lampau.

Selama dua puluh satu hari terakhir, sejak kabar kematian Prof. Baskoro Suhardi diumumkan oleh otoritas resmi sebagai 'kecelakaan tragis tergelincir ke rekahan freatik aktif', duniaku runtuh ke dalam pusaran kepalsuan yang menyesakkan. Media nasional memuat foto upacara tabur bunga di bibir kawah dengan narasi pahlawan konservasi yang gugur dalam tugas mulia. Para birokrat kementerian memasang wajah berduka di layar televisi, menyampaikan belasungkawa formal yang dingin. Sementara itu, sebuah konsorsium raksasa properti bernilai ratusan triliun rupiah diam-diam merayakan kematian itu di balik dinding kaca gedung pencakar langit Jakarta dengan menggelar seremoni peletakan batu pertama kawasan kota mandiri terpadu—tepat di atas bentang Sesar Lembang yang membelah perbukitan asri Bandung Utara.

Kematian Baskoro adalah kebohongan yang dirancang dengan terlalu rapi. Aku masih ingat bagaimana dua agen berjas rapi mendatangi meja kerjaku di laboratorium geodinamika hanya dua belas jam setelah sang profesor dinyatakan hilang, menyita tiga unit komputer jinjing, menghapus berkas simulasi numerik di server lokal, dan memperingatkanku dengan nada ramah yang mengerikan agar tidak 'menciptakan kepanikan yang merugikan iklim investasi nasional'. Mereka mengira suara sang profesor telah dibungkam selamanya oleh kabut belerang dan tumpukan dokumen rahasia yang dibakar.

Tetapi mereka tidak pernah benar-benar mengenal Baskoro Suhardi. Pria tua berkacamata tebal yang telah menghabiskan empat puluh tahun hidupnya mendengarkan detak jantung bumi itu tidak akan mati semudah tergelincir di tanah becek lereng wisata. Pria itu adalah anomali geologi itu sendiri: keras kepala seperti mineral korundum yang tak tergores, licin dan ulet seperti lempung montmorilonit, dan selalu selangkah lebih cepat daripada jebakan politis apa pun yang dirancang manusia.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 02: Menembus Tirai Api Dingin

*Pendaran kobalt sublimasi belerang dan lorong rahasia Kawah Upas* (Dinding Sesar Sub-Permukaan – Kedalaman -135 meter)

━━━ ▲ ━━━

Kami tiba di ujung lintasan ceruk yang tampak buntu di hadapan tebing batu andesit masif. Di hadapan kami, sebuah retakan sesar selebar satu setengah meter menganga vertikal, membelah formasi batuan purba kaldera Sunda. Namun, tidak ada jalan masuk yang tampak ramah bagi makhluk bernyawa. Retakan itu dipagari oleh kobaran lidah api biru cerah yang menjulur berdesis dari celah-celah pirit yang berkilau di bawah kegelapan malam kaldera.

Tirai api biru. Di siang hari bolong, fenomena vulkanik ini sama sekali tidak kasatmata—pembakaran uap belerang murni bersuhu di atas dua ratus delapan puluh derajat Celsius dalam fraksi oksigen terbatas tampak seperti udara bergelombang tak kasatmata yang mematikan. Namun dalam pekatnya malam di dasar kawah, api itu membentang seperti tirai sutra berwarna biru kobalt menyala yang berpendar dingin, anggun, dan mistis. Api yang terlihat dingin dan tenang di mata, namun sanggup menguapkan pakaian sintetis dan memanggang daging manusia dalam hitungan detik jika didekati tanpa kalkulasi matang.

“Apakah ini koordinat yang kau dekripsi dari sinyal anomali stasiun GPS Dago Pakar?” tanya Nayla, melangkah maju setengah langkah sebelum terhuyung mundur akibat hembusan gelombang panas radiasi yang menerpa pelindung dadanya. Cahaya biru kobalt memantul di kaca matanya, melukiskan bayangan wajahnya yang pucat pasi.

“Bukan hanya koordinat stasiun geodetik,” sahutku sambil menatap layar perangkat spektrometer gas inframerah di tanganku. “Perhatikan dinamika api birunya, Nayla. Api ini tidak menjilat ke atas mengikuti arah konveksi alami udara panas menuju bibir kawah. Nyala apinya tersedot melengkung ke dalam retakan horizontal di dasar celah batuan. Ada aliran udara masuk bertekanan negatif di balik sana. Udara dingin disedot masuk ke sistem gua bawah tanah melalui efek cerobong venturi. Seseorang telah merekayasa sirkulasi gua ini dengan memasang kanopi deflektor uap dari lembaran aluminium penahan panas.”

Keluarkan tabung pemadam bertekanan nitrogen kering berbobot enam kilogram dari kompartemen samping ranselku. Dengan gerakan terlatih yang telah kuulang puluhan kali dalam simulasi darurat laboratorium, kusemprotkan kabut pendingin nitrogen cair ke dasar tirai api biru. Kabut putih membubung pekat dengan suara mendesis tajam seperti puluhan ular kobra yang terusik. Penurunan suhu mendadak itu memadamkan pembakaran belerang selama jeda kritis beberapa detik, membuka koridor aman selebar pundak manusia.

Di balik kabut yang terbelah, tampaklah mulut lorong sempit yang tertutup oleh lembaran terpal kanvas militer tebal berlumur abu vulkanik basah—sebuah kamuflase visual sempurna yang mustahil terlihat oleh citra satelit optik maupun patroli drone penjaga hutan.

“Masuk sekarang, Nayla! Jangan ragu!” seruku serak sambil mendorong punggung Nayla melewati celah sempit itu. Bau hangus yang menyengat menyerang sol sepatu gunungku saat aku melompat menyusulnya ke dalam rongga di balik tirai api. Kami berguling di atas hamparan pasir kasar bertabur kristal kuarsa dan belerang sublimasi, terengah-engah dalam kegelapan pekat yang langsung menyergap ketika lembaran terpal kanvas kembali menutup rapat di belakang punggung kami.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 03: Kutipan Pembuka Manuskrip: Suara Parau dari Sudut Gua

*Reuni emosional, bidai bambu, dan pensil grafit di perut bumi* (Kamar Solfatara Purba – Ruang Instrumen Tersembunyi)

━━━ ▲ ━━━

“Kamu terlambat dua puluh menit, Ghalib,” suara parau itu memecah dengungan kawah.

Suara itu. Begitu kering, bergetar oleh residu sulfur pekat yang mengikis pita suara, namun intonasi ritmisnya yang sinis, dingin, dan menuntut ketepatan waktu matematis tidak mungkin keliru. Jantungku serasa dihantam palu geologi seberat lima kilogram tepat di ulu hati.

Lihat selengkapnya