Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Rahasia Situ Hiang

# Rahasia Situ Hiang

## Bab IV: Sisa Air Danau Purba dan Tekanan Hidraulik Masif

Baskoro membuka rahasia terbesar yang ia simpan selama puluhan tahun penelitian: Danau Bandung Purba (Situ Hiang) tidak pernah sepenuhnya kering mengalir ke laut. Triliunan meter kubik air purba terjebak di akuifer rekahan batuan dalam di bawah Cekungan Bandung, terkurung oleh lempung lakustrin kedap air. Rongga magma mati Tangkuban Parahu kini terhubung langsung dengan akuifer raksasa ini; air tersebut mendidih akibat panas intrusi dan bertindak sebagai dongkrak hidrolik raksasa yang menahan sekaligus melumasi patahan Lembang.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 01: Di Kerongkongan Kawah yang Membatu

Kedalaman 820 Meter di Bawah Kaldera Kawah Ratu

━━━ ▲ ━━━

Ada keheningan aneh yang hanya bisa kau jumpai di kedalaman delapan ratus meter di bawah permukaan bumi—keheningan yang bukan ketiadaan suara, melainkan penumpukan getaran tak kasat mata yang merayap langsung ke sumsum tulang. Di lorong lava purba ini, udara terasa padat, kental, dan berminyak. Setiap kali aku menarik napas melalui katup silikon respirator, dadaku terasa seperti disiram air suam-suam kuku yang bercampur uap silika dan bau lumpur rawa yang telah membusuk selama ribuan tahun. Paru-paruku memprotes dalam setiap tarikan, merindukan hawa pegunungan Lembang yang dingin beraroma pucuk pinus yang kami tinggalkan di bibir kawah empat jam lalu.

Suhu di dalam rongga ini bertengger kaku di angka empat puluh sembilan derajat Celsius. Keringatku mengalir deras di balik baju pelindung Nomex yang kaku dan pengap, merembes ke lipatan paha dan membasahi pelipisku hingga perih menyengat mata. Kacamata pengamanku berkabut setiap kali aku menghembuskan napas pendek yang gelisah. Namun, yang membuat jemariku gemetar di atas gagang senter seismik bukanlah panas yang mencekik ini, melainkan getaran infrasonik yang terus berdenyut konstan di bawah sol bot kulitku: denyut berfrekuensi rendah sekitar empat belas Hertz, ritme purba yang menyerupai degup jantung seekor monster raksasa yang terkubur hidup-hidup di dasar kerak benua.

Di depanku, sosok Dr. Baskoro bergerak seperti siluet rangka kayu yang rapuh namun liat. Jas lapangannya yang telah pudar warnanya terkoyak di siku kiri, berlumur lumpur kelabu dan kerak gipsum putih. Lelaki tua itu sudah berusia enam puluh dua tahun, rambutnya yang memutih tak beraturan mencuat kusut dari balik helm pengaman berlampu sorot, namun cara ia melangkahi bongkahan andesit basaltik yang tajam mengingatkanku pada serigala pemburu yang mencium jejak mangsa terluka. Ia tidak berhenti melangkah sejak kami menuruni celah ventilasi gas mati di dinding selatan Kaldera Tangkuban Parahu. Selama tiga puluh tahun, reputasinya dihancurkan oleh para kolega di institut geologi; ia dianggap delusional, pembuat sensasi, atau ilmuwan yang kehilangan akal sehat karena terlalu lama menghirup gas solfatara. Kini, di lorong gelap ini, ia bergerak dengan kepastian yang menakutkan.

“Berhenti di sini, Arga,” suaranya tiba-tiba memecah dengungan interkom kami. Suara itu berderisik parau oleh interferensi elektromagnetik lokal yang pekat akibat medan panas bumi di sekitar kami. “Lihat dinding batuan di sebelah kananmu. Jangan sentuh dengan tangan telanjang jika kau masih menghargai kulit telapak tanganmu.”

Aku menghentikan langkahku yang goyah, menstabilkan ransel instrumen seberat delapan belas kilogram di pundakku, lalu mengarahkan sorot lampu halogen berkekuatan empat ribu lumen ke arah yang ia tunjuk. Di sana, lapisan dinding gua tidak lagi memperlihatkan batuan andesit vulkanik kering berlapis jelaga belerang kuning menyengat seperti yang biasa kami temukan di kawah aktif permukaan. Sebaliknya, dinding itu tampak aneh—berlapis-lapis material lempung hitam kebiruan yang sangat pekat, berkilat licin tertimpa tetesan air hangat yang tak henti-hentinya menitik dari langit-langit kubah batu.

“Ini bukan batuan beku produk letusan kuarter...” bisikku, melangkah mendekat dengan langkah ragu. Telapak tanganku yang terbungkus sarung tangan isolasi karet termal menyeka lapisan lendir mineral tipis dari singkapan tersebut. Teksturnya licin seperti sabun basah, tidak berbutir kasar, dan ketika kucium ujung sarung tanganku melalui celah kecil pelindung, tidak ada bau belerang belerang monoksida, melainkan aroma humus basah yang sangat purba—aroma lumpur danau air tawar yang tertutup dari sinar matahari selama beribu-ribu musim. “Ini sedimen lakustrin. Endapan danau tenang yang tebal. Lempung Formasi Kosambi?”

“Bagus. Syukurlah otakmu belum sepenuhnya terpanggang panas geotermal,” Baskoro mendengus pelan, sebuah tawa pahit yang lebih terdengar seperti batuk kering. Ia berjongkok di atas batuan landai, membiarkan ujung tongkat ukur paduan titaniumnya mengetuk lantai gua. Suara ketukan itu menghasilkan dengungan berongga yang mengerikan—seolah di bawah lapisan batu setebal dua puluh meter tempat kami berpijak ini tidak ada massa padat, melainkan ruang kosong tak berdasar yang bergolak penuh fluida mendidih.

“Para idiot di fakultas dan birokrat perizinan di kementerian selalu mengajarimu bahwa Danau Bandung Purba lenyap begitu saja ke udara dan samudra,” gumam Baskoro, sorot matanya yang cekung menyala di balik lensa kacamata bulatnya yang berdebu. “Mereka menulis buku teks tebal dengan infografis penuh warna ceria, menceritakan dongeng tentang air bah purba yang mengalir anggun melalui ngarai Citarum purba saat Curug Jompong terkikis, meninggalkan dataran tinggi kering yang permai bagi manusia modern untuk mendirikan pabrik tekstil, jalan tol beton, dan kompleks perumahan padat. Sebuah ilusi geologis yang memabukkan dan meninabobokan tiga juta nyawa.”

Pikiranku melayang sejenak ke permukaan tanah. Di atasku, berjarak ratusan meter lapisan batuan andesit dan lempung, terbentang kota Bandung yang berkilau. Aku teringat deretan kafe di perbukitan Dago Atas tempat orang-orang bercengkerama menikmati kopi senja, kompleks perumahan padat di Cimahi dan Lembang tempat anak-anak bermain sepeda, dan jalan layang Pasupati yang dipadati ribuan kendaraan bermotor. Tak seorang pun dari mereka menyadari bahwa di bawah kasur tidur dan ruang keluarga mereka, bumi sedang menyimpan rahasia gelap yang siap menelan segalanya.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 02: Gelembung Air Tawar di Kerongkongan Neraka

Anomali Connate Water dan Salinitas Purba

━━━ ▲ ━━━

Baskoro berlutut di tepi rekahan lantai lorong. Di sana, retakan selebar tiga puluh sentimeter membelah batuan dasar andesit hingga menembus kegelapan pekat di bawahnya. Dari celah itu, tidak ada asap kuning pekat yang membakar mata, tidak ada bau busuk telur busuk hidrogen sulfida yang lazim menyertai aktivitas vulkanik Kawah Ratu atau Kawah Domas. Yang mengepul perlahan ke udara hanyalah uap air bening yang sangat hangat, dan dari dasar rekahan terdengar suara gemericik air mendidih yang meletup-letup secara teratur.

“Tahukah Anda kemana perginya air Danau Bandung Purba saat Curug Jompong bobol enam ribu tahun lalu?” Baskoro menunjuk celah retakan di lantai gua yang memuntahkan gelembung uap air tawar bening itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Matanya menatapku lekat-lekat, menuntut sebuah pengakuan yang selama ini dihindari oleh seluruh komunitas geologi Indonesia.

“Sebagian mengalir ke laut Jawa... tapi jutaan ton lainnya merembes ke bawah, terperangkap di sini. Kita sedang berdiri di atas bom hidrolik terbesar di Asia Tenggara.”

Kata-katanya jatuh seperti batu timah ke dalam danau sunyi di benakku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanku terasa kesat dan panas. “Tapi Dok... itu secara termodinamika dianggap mustahil. Jika ada kontak hidrologis langsung antara air permukaan purba dan sistem hidrotermal kawah Tangkuban Parahu, air itu seharusnya sudah menguap habis dalam fase freatik berulang jutaan tahun lalu, atau terasamkan menjadi larutan sulfat pekat dengan pH di bawah nol koma lima. Kita berada di jantung gunung berapi aktif!”

“Ambil tabung titrasi dan refraktometer digitalmu,” perintah Baskoro dingin tanpa menoleh sedikit pun. “Buktikan sendiri kebodohan teori kampusmu itu.”

Dengan tangan yang kaku karena lonjakan adrenalin dan rasa gentar, aku merogoh ransel lapangan kedap airku. Kuambil tongkat pipet kaca kuarsa bersuhu tinggi, lalu secara perlahan kuturunkan ujungnya ke dalam celah retakan yang menyemburkan gelembung uap. Begitu ujung pipet menyentuh cairan yang bergolak di kedalaman tiga meter di dalam celah, katup vakum bekerja dan menyedot cairan bening itu ke dalam tabung isolator transparan.

Air itu mengepulkan kabut tipis di dalam tabung ukur. Cairan itu sama sekali tidak keruh; tidak ada endapan belerang koloid, tidak ada buih besi oksida kecokelatan. Aku meneteskan beberapa mililiter cairan itu ke atas prisma refraktometer digital bertenaga baterai litium. Layar LCD kecil itu berkedip tiga kali, melakukan kalibrasi suhu, lalu menampilkan angka konduktivitas listrik dan padatan terlarut (TDS): enam puluh delapan miligram per liter. Tingkat keasaman: pH enam koma sembilan.

Aku terperangah hingga tak mampu berkedip. Udara di dalam helm pengamanku terasa semakin panas. “Ini... ini air tawar murni. Netral. Nyaris tanpa ion sulfat atau klorida vulkanik. Bagaimana mungkin ada air tawar murni mendidih di kedalaman delapan ratus meter tepat di bawah kubah magma Tangkuban Parahu?”

“Karena air itu bukan air meteorik yang merembes kemarin sore dari hujan di perkebunan teh Subang atau hutan pinus Cikole!” Baskoro berseru, suaranya meninggi dengan getaran histeria ilmiah yang telah ia pendam puluhan tahun dalam kesendirian. “Itu adalah connate water! Air fosil! Air murni dari Situ Hiang yang terperangkap dalam perangkap sesar turun sejak pertengahan zaman Holosen!”

Lelaki tua itu mengusap wajahnya yang berlumur debu vulkanik dengan punggung tangannya yang bertulang menonjol. “Enam ribu tahun lalu, ketika bendungan alam di Curug Jompong jebol oleh erosi mudflow dan getaran gempa tektonik purba, air danau seluas hampir empat ratus kilometer persegi itu memang tumpah ruah ke barat menuju lembah Citarum purba. Tetapi Danau Bandung Purba bukan danau dangkal biasa; ia adalah danau intramontana di atas graben tektonik yang koyak-moyak oleh puluhan sesar geser sekunder.”

“Ketika permukaan danau surut drastis dalam hitungan ratusan tahun, bobot air yang hilang melepaskan beban vertikal di dasar cekungan secara mendadak,” lanjut Baskoro, napasnya tersengal di balik respirator. “Fenomena isostatic rebound purba membuat batuan dasar merekah terbuka seperti luka robek raksasa. Triliunan meter kubik air danau tersedot masuk ke dalam celah rekahan Formasi Cikapundung dan batuan dasar andesit tua, sebelum kemudian lapisan lempung lakustrin Formasi Kosambi yang tebal dan kedap runtuh menutupi bagian atasnya seperti tutup bejana besi yang dilas mati!”

Aku menatap tabung reaksi di tanganku. Gelembung-gelembung kecil masih menempel di dinding kaca kuarsa. Molekul-molekul air ini... pernah menjadi tempat berenang ikan-ikan purba dan cikal bakal peradaban manusia prasejarah Gua Pawon. Kini, air itu mendidih dalam gelap, menjadi saksi bisu dari bencana yang tak pernah tuntas.

Lihat selengkapnya