Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Menembus Batas Api

Menembus Batas Api

Perjuangan Keluar Melintasi Hujan Belerang Panas

“Panas belerang membakar bahu Ghalib saat ia mendorong tubuh Nayla keluar dari ceruk batu sempit. Di atas mereka, langit malam Lembang tidak lagi gelap, melainkan menyala jingga keemasan oleh kepulan abu vulkanik Kawah Ratu yang membumbung ke angkasa. Ghalib menarik napas pertama udara segar pegunungan—campuran aroma pinus basah dan asap kawah—sebelum ia roboh ke atas rumput basah lereng bukit.”

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


[Bagian I: Di Dalam Kerongkongan Andesit]

━━━ ▲ ━━━

Batu andesit itu tidak sekadar dingin atau kasar; ia bernapas dengan kepedihan purba. Di kedalaman tiga puluh meter di bawah bibir kawah, dinding Ceruk Panyawangan bergetar dengan dengung frekuensi rendah yang merambat langsung menembus sol karet sepatu bot Ghalib, mendaki tulang keringnya, lalu menetap di dasar ulu hatinya seperti ketukan palu godam yang lambat dan tak kenal ampun. Itu bukan gempa tektonik biasa yang menghentak tiba-tiba lalu reda dalam hitungan detik. Itu adalah tremor harmonik—suara fluida magma dan uap superkritis yang merongrong celah-celah labirin perut Tangkuban Parahu, mendidih dalam ruang sempit, merengek dan menuntut jalan keluar menuju langit malam.


Setiap kali Ghalib menarik napas, udara yang masuk ke rongga dadanya berasa seperti bubuk kapur basah bercampur karat tembaga. Bau busuk khas hidrogen sulfida yang biasanya menyengat hidung bagai telur busuk telah lama lenyap—dan kenyataan itulah yang membuat bulu kuduknya meremang. Dalam protokol vulkanologi dasar, hilangnya bau belerang secara mendadak di zona rekahan aktif bukan pertanda bahwa udara telah aman; itu sinyal kepunahan sensorik. Saraf olfaktori di dinding hidungnya telah mati rasa, dilumpuhkan oleh konsentrasi gas racun yang sudah melampaui ambang batas seratus bagian per sejuta. Tubuhnya sedang diracuni secara perlahan dalam keheningan yang menyesatkan.


"Ghalib... aku tidak bisa... kakiku tersangkut di ceruk akar batu..." Suara Nayla terdengar seperti gesekan kertas amplas kasar di atas pecahan kaca. Di bawah kaki Ghalib, tergantung pada seutas tali kernmantle berdiameter sembilan milimeter yang kini licin berlendir oleh kondensasi uap asam, perempuan itu terengah-engah. Lampu di helm proyek Nayla berkedip-kedip redup, sirkuit baterainya sekarat dimakan kelembapan asam yang mencapai sembilan puluh delapan persen.


Ghalib menoleh ke bawah, menyipitkan mata melewati kacamata pelindung yang kacanya telah buram oleh jelaga belerang. Cahaya kekuningan memperlihatkan paras Nayla: wajahnya sepucat kain kafan, dengan bercak-bercak lumpur vulkanik kuning keemasan yang menempel di tulang pipinya. Bibir gadis itu membiru, gemetar hebat bukan hanya karena hawa dingin uap asam, melainkan karena rasa sakit yang meremukkan pergelangan kaki kirinya. Sendi kakinya terkilir parah ketika lempeng batuan tempatnya berpijak ambrol empat puluh menit yang lalu—saat stasiun pengamatan bawah tanah runtuh dan mengubur Baskoro hidup-hidup.


Di punggung Ghalib, ransel nilon hitam seberat sembilan kilogram menekan tulang belikatnya bagai bongkahan timah cair. Di dalam ransel itu, tersimpan rapi dalam pelindung kedap air dan busa tahan panas, terbaring hard drive eksternal serta buku jurnal lapangan bersampul kulit milik Baskoro. Baskoro—mentor yang telah mengajarinya membaca detak jantung gunung berapi sejak ia masih mahasiswa tingkat pertama. Baskoro, yang tubuhnya kini terjepit di bawah runtuhan andesit seberat puluhan ton di dasar celah. Suara teriakan terakhir sang mentor masih memantul di tempurung kepala Ghalib dengan kepedihan yang menyayat: 'Bawa datanya, Ghalib! Jangan biarkan orang-orang di Lembang mati buta tanpa peringatan!'


Rasa bersalah itu adalah racun yang lebih ganas daripada hidrogen sulfida. Mengapa dirinya yang memanjat keluar? Mengapa bukan Baskoro yang memiliki dua anak kecil di Cimahi? Setiap tarikan napas terasa seperti penghakiman moral. Ghalib menempelkan keningnya ke dinding batu yang berkeringat asam. Kerikil tajam menusuk kulit pelipisnya, mengalirkan darah hangat yang langsung bercampur dengan lumpur belerang. Jika ia menyerah pada keputusasaan sedetik saja, mereka berdua akan menyusul Baskoro ke dalam jurang ketiadaan.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


[Bagian II: Anak Tangga Neraka Vertikal]

━━━ ▲ ━━━

Ceruk Panyawangan bukanlah jalur pendakian manusia; itu adalah retakan vertikal di dinding kaldera tua yang tercipta dari ledakan uap berabad-abad lampau. Di beberapa titik, celah cerobong ini menyempit hingga kurang dari tujuh puluh sentimeter. Di kedua sisi tubuh Ghalib, batuan andesit menjepit seperti dua lempeng rahang raksasa yang perlahan mengatup untuk meremukkan tulang rusuknya. Dinding batu itu basah dan licin, berlumur lendir lumpur silika yang mengikis lapisan teflon jaket lapangannya dengan desisan halus yang mengerikan.


Ghalib mengulurkan tangan kanannya ke atas, meraba dalam kegelapan pekat yang hanya disinari sorot tipis senter kepalanya. Sarung tangan kulit sintesisnya telah koyak di bagian ibu jari dan telunjuk, memperlihatkan kulit jari yang melepuh merah dan bersimbah darah bercampur jelaga abu-abu. Jari-jarinya merayap seperti kaki laba-laba buta di atas permukaan batu yang berpori tajam. Ketika ujung jemarinya menemukan tonjolan rekahan horizontal selebar tiga sentimeter, ia mencengkeramnya sekuat sisa tenaga hidupnya.


Butiran kristal kuarsa di dalam batuan mengiris daging telapak tangannya, mengirimkan denyut nyeri yang menyengat langsung ke sumsum tulang lengannya. Ghalib menggertakkan rahangnya begitu keras hingga giginya berderak. Ia tidak peduli pada darah yang menetes. Dalam jurang ini, rasa sakit adalah satu-satunya bukti bahwa saraf-saraf motoriknya belum mati total oleh racun gas.


"Tarik kakimu, Nay! Cari tonjolan di dinding sebelah kirimu! Sekarang!" teriak Ghalib ke bawah. Suaranya bergema aneh di dalam cerobong yang sempit, terdengar seperti ratapan parau dari dasar liang kubur purba.


Nayla merintih panjang. Suara rintihan itu begitu menyayat hati hingga Ghalib merasa jantungnya diremas tangan tak kasatmata. Tangan kiri gadis itu yang bersarung tangan compang-camping mencoba menggapai tali pengikat di pinggang Ghalib. Napas Nayla pendek-pendek dan mengeluarkan bunyi mendesing serak—bunyi ronki basah yang menunjukkan alveoli paru-parunya mulai terendam cairan akibat edema akut. Uap asam sulfat telah merusak membran pernapasannya.


"Ghalib... ransel itu... lepaskan ransel Mas Baskoro..." bisik Nayla terputus-putus di antara batuk darah yang tertahan. "Ransel itu menarikmu ke belakang... kamu tidak akan sanggup mengangkat kita berdua melewati cerukan ini... tinggalkan saja... biarkan aku yang tertinggal..."


Lihat selengkapnya