Tahukah Anda...?

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Sebuah Pertanyaan yang Menuntut Jawaban

[partImg:[0]]

# Epilog: Sebuah Pertanyaan yang Menuntut Jawaban

## Puncak Tangkuban Parahu, Angin Dingin, dan Pertanyaan Abadi

Manuskrip ini ditulis dengan mengacu pada prinsip Keseimbangan Dinamis Kuaterner (Quaternary Dynamic Equilibrium) dan dinamika seismotektonik Cekungan Bandung serta Patahan Lembang. Masa tenang bukanlah ketiadaan bahaya, melainkan fase pengumpulan energi elastis yang tak bersuara.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 01 : Senja di Pematang Belerang

Ketika bayang-bayang kawah menelan ingatan yang belum pupus

━━━ ▲ ━━━

Matahari terbenam di balik siluet punggung Kawah Upas, melukis langit barat dengan guratan jingga keunguan yang dingin. Di ketinggian dua ribu delapan puluh empat meter di atas permukaan laut, angin bertiup kencang mempermainkan ujung selendang tenun Nayla.

Kain tenun bermotif mega mendung berpewarna tarum kelam itu berkibar liar, mencambuk udara tipis yang sarat dengan bau belerang basah. Setiap desau angin terasa bagai pisau cukur es yang disesapkan ke balik kerah jaket tahan air Ghalib. Kulit pipinya telah lama mati rasa sejak mereka menempuh punggungan terjal satu jam lalu, melewati sisa-sisa pos pantau darurat yang kerangkanya kini hanya berupa tiang besi berkarat dimakan uap asam hidrogen sulfida.

Ghalib berdiri di tubir jurang, hanya terpaut setengah meter dari tebing batu andesit rapuh yang runtuh ke kedalaman empat ratus meter di bawah kakinya. Di dasar sana, Kawah Upas menganga seperti luka bakar raksasa yang menolak untuk sembuh. Uap fumarol putih tipis mengular dari rekahan-rekahan belerang kuning keemasan, meliuk malas sebelum tersapu oleh pusaran angin dingin senja. Satu tahun telah berlalu sejak malam celaka itu. Tiga ratus enam puluh lima hari sejak tanah di bawah telapak kakinya bergemuruh, meremukkan keyakinannya pada segala angka probabilitas matematis, kurva regresi linier, dan grafik seismograf yang ia puja sepanjang kariernya sebagai geofisikawan muda.

Bagi mata wisatawan yang biasa memadati pelataran beton di siang hari, pemandangan ini adalah keagungan alam pariwisata yang membisu—sebuah panorama akhir pekan yang menenangkan jiwa di batas utara Cekungan Bandung. Mereka datang, menghirup udara sejuk, membeli telur rebus belerang, lalu pulang dengan keyakinan palsu bahwa bumi adalah panggung ramah yang diciptakan untuk kenyamanan mereka. Namun bagi Ghalib, setiap lekukan tebing ini adalah peta anatomi dari sebuah monster purba yang sedang bernapas teratur dalam tidurnya yang ringkih.

Pohon-pohon cantigi yang kerdil dan meliuk aneh di sekeliling mereka bukanlah sekadar flora estetis dataran tinggi; ranting-rantingnya yang menghitam, kering, dan meranggas adalah saksi bisu dari ratusan kali embusan gas beracun yang keluar diam-diam dari pori-pori magma dangkal. Di balik kerak tanah yang mereka pijak, terdapat jaringan rekahan hidrotermal yang mendidih pada tekanan puluhan bar, bersiap mencari celah sekecil apa pun untuk meledak menjadi semburan freatik.

"Kau masih menciumnya, Ghalib?" Suara Nayla terdengar lirih, nyaris terberai disambar embusan angin kencang yang menghantam dinding kaldera.

Ghalib menoleh. Rambut sebahu Nayla sebagian terbebat di balik syal tebalnya, namun beberapa helai lolos dan menempel di sudut bibirnya yang pecah-pecah oleh hawa beku. Perempuan itu berdiri dengan kedua tangan terkepal di dalam saku mantel kanvasnya, menatap lurus ke dalam kabut putih yang mulai membuncah dari dasar Kawah Ratu di sebelah timur. Ada keletihan purba di matanya—keletihan yang sama yang selalu Ghalib temukan di pantulan cermin setiap kali ia terbangun pukul tiga dini hari dengan keringat dingin membasahi pelipis dan degup jantung yang berkejaran tanpa sebab.

"Belerang di sini tidak pernah benar-benar pergi, Nayla," jawab Ghalib serak. Tenggorokannya terasa gatal dan kering, seperti dilapisi debu halus silika. Di ketinggian ini, setiap tarikan napas harus dibayar dengan rasa perih di dada. "Tetapi konsentrasinya berbeda sore ini. Tidak ada hidrogen sulfida yang pekat seperti malam letupan itu. Hanya sulfur dioksida biasa yang terbawa aliran konveksi termal. Bumi sedang berperilaku sopan di hadapan kita, seolah-olah ia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya setahun lalu."

"Bumi tidak punya rasa bersalah, Ghalib," tukas Nayla pelan tanpa menoleh. Pandangannya tetap terhunjam ke dalam lubang kawah yang semakin kelam. "Bumi tidak mengenal pertobatan. Dia hanya membiarkan kita mendekat seperti seekor laba-laba yang membiarkan serangga hinggap di jaring sutranya sebelum memutuskan kapan saat yang tepat untuk menyentakkan benangnya."

Ghalib menelan ludah yang terasa pahit. Nayla selalu memiliki cara untuk meruntuhkan benteng teknis yang susah payah ia bangun. Sebagai peneliti paleogeomorfologi dan lanskap purba, Nayla tidak melihat bumi sebagai kumpulan matriks angka atau konstanta elastisitas batuan, melainkan sebagai organisme purba yang memiliki ingatan, dendam, dan kehendak yang tak terjangkau akal sehat manusia modern.

━━━ °˖✧✿✧˖° ━━━


### Bagian 02 : Frekuensi Tujuh Koma Delapan Puluh Tiga

Sebuah denyut purba yang melampaui batas pendengaran manusia

━━━ ▲ ━━━

Ghalib merogoh tas pinggang tahan air yang tergantung menyilang di dadanya. Jari-jarinya yang kaku oleh gigitan hawa beku meraba permukaan dingin sebuah perangkat perekam mikro-infrasonik portabel seukuran telapak tangan. Alat itu telah ia modifikasi sendiri selama berbulan-bulan di sudut laboratorium bawah tanah kampus yang remang—sebuah konverter frekuensi akustik rendah dengan mikrofon piezokeramik bertekanan tinggi yang mampu menangkap osilasi mikrobarometer di bawah dua puluh Hertz dan menaikkannya ke rentang pendengaran manusia.

Kabel earphone putih tua yang sudah agak menguning dan retak-retak di bagian pangkalnya ia uraikan dengan hati-hati. Ghalib memasang satu earphone di telinga kirinya, lalu menoleh dan menyodorkan earphone kanan ke hadapan Nayla. Jemari mereka bersentuhan sesaat di udara terbuka. Sentuhan itu sedingin batu basalt yang baru diangkat dari dasar sungai es, namun menyengat dengan memori yang seketika membuat otot-otot di balik tulang rusuk Ghalib berkontraksi kencang.

Nayla menatap kuncup earphone itu ragu-ragu selama beberapa detik yang terasa berjalan lambat seperti leleran lava bantal. Setahun lalu, bunyi dari kabel yang persis sama inilah yang terakhir kali didengar oleh Arga sebelum tanah amblas dan melahap stasiun pengamatan lereng timur. Bunyi yang waktu itu mereka abaikan sebagai anomali instrumen. Tetapi Nayla tidak mundur. Dengan gerakan yang tegas dan sedikit pasrah, ia menyelipkan earphone itu ke liang telinga kanannya, lalu menarik selendang tenunnya menutupi telinga agar terlindung dari deru angin pegunungan.

Ghalib menggeser tuas sakelar kecil di samping bodi aluminium perangkat itu. Lampu LED hijau berpendar redup di tengah temaram senja yang kian pekat menelan cakrawala.

Mulanya, hanya desau statis lembut yang merayap masuk ke gendang telinga mereka—bunyi deburan elektron murni yang bergesekan dengan sirkuit dingin, suara derau putih yang hampa seperti desis radio antar-bintang. Namun perlahan, saat filter digital band-pass mengunci frekuensi dasar ambien bawah permukaan, sesuatu yang lain mulai merangkak naik dari kedalaman mantel bumi.

Duk... ssshh... Duk... ssshh... Duk... ssshh...

Itu bukan desau angin yang membentur mikrofon. Itu bukan pula gemercik lumpur mendidih di Kawah Domas yang terletak ratusan meter di lembah bawah. Ketukan itu begitu dalam, teratur, lambat, dan memiliki berat massa yang tak terbantahkan. Sebuah denyut mekanis purba yang bergetar persis pada angka tujuh koma delapan puluh tiga Hertz.

"Tujuh koma delapan puluh tiga..." bisik Nayla. Pupil matanya melebar saat ritme itu menyusup langsung ke korteks pendengarannya. Selendang tenunnya terlepas dari jepitan jemarinya, terhempas angin ke belakang pundak, namun ia tak memedulikannya lagi. Pandangannya membeku.

"Ya," sahut Ghalib, suaranya tercekat di kerongkongan, seperti ada kepalan pasir panas yang menyumbat pita suaranya. "Secara teori fisika atmosfer, ini adalah Resonansi Schumann. Frekuensi rongga elektromagnetik alami antara permukaan bola bumi dan lapisan konduktif ionosfer. Gelombang tegak yang dipicu oleh ribuan kilatan petir yang menyambar bumi setiap detik di seluruh khatulistiwa. Namun di tempat ini... di dalam pipa konduit magma Tangkuban Parahu, gelombang elektromagnetik itu mengalami kopling mekanik dengan fluida hidrotermal di kedalaman tiga kilometer. Dengarkan baik-baik resonansinya, Nayla. Itu bukan sekadar derau listrik udara."

Nayla memejamkan mata rapat-rapat. Napasnya memburu, mengembuskan kepulan uap putih ke udara senja yang semakin membeku. Bahunya yang terbalut mantel gemetar halus seirama dengan ketukan itu. "Ketukan lambung perahu..." gumamnya parau.

Lihat selengkapnya