Tak Ada Cinta Seperti Ini

Risna Dabliyuti
Chapter #2

Kota ini, Tanah Tumpah Darahnya

Doli memeriksa ponselnya ketika mereka sudah keluar dari pintu bandara. Di area penjemputan sebuah mobil MPV premium berhenti di dekat mereka. Sandrina melirik Doli, meminta penjelasan. Namun, ketika melihat laki-laki yang menyopiri mobil tadi turun dan berlari cepat untuk mengambil koper bawaan mereka, barulah Sandrina mengerti.

“Aku meminta Mario menjemput kita, Sandri,” jelas Doli, meski Sandrina kini tak membutuhkan penjelasan itu. “Ayolah, jangan marah ya. Kita sudah sama-sama capek. Lihat, Yana juga sudah lelah,” Doli memeluk erat Maryana kecil dalam dadanya.

Sandrina mengangguk. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat soal jemputan. Dari kemarin Sandrina sudah mengusulkan agar Ovi, adiknya, yang menjemput, tapi Doli menolak.

“Aku bayar sewa mobilnya, Sayang,” Doli berbisik di telinga Sandrina, sangat tahu kalau istrinya sedang bergelut dengan banyak pikiran. “Jangan bilang mewah, karena ini mobil Mario sendiri.” Ia menyentuh sekilas lengan Sandrina saat sudah duduk di dalam mobil dan Maryana kembali tertidur di dekapannya.

Sandrina mengangguk lagi.

“Apa kabar, Kak Sandri,” Mario menyapa sesaat dia kembali ke kursi pengemudi dari menyimpan barang-barang bawaan mereka. “Pak Doli, apa kabar?” Ia menatap Doli dari spion tengah.

“Baik, Rio,” Sandrina dan Doli nyaris menyahut bersamaan.

“Apa kabarmu, Dek?” tanya Sandri kemudian.”Keluarga sehat?”

“Aku baik-baik, Kak. Keluarga juga sehat,” sahut Mario. 

“Apa kabar rumah sakit sekarang, Rio?” sambung Doli pula.

“Alhamdulillah, Pak, semua lancar dan tingkat kepercayaan masyarakat sangat tinggi terhadap RSMH.” Rumah Sakit Maryana Harahap. “Padahal baru lima tahunan, ‘kan?”

Mario adalah kepala Humas Rumah Sakit Maryana Harahap. Lelaki 33 tahun itulah yang  berperan dalam pengelolaan informasi dan komunikasi publik selama ini. Masih muda, tapi ulet dan wajar kalau dipercaya memegang posisi yang lumayan strategis.

Hermanto Hardiman, Papa Doli, mempercayainya sejak rumah sakit itu mulai berdiri. Mario sebelumnya sangat dekat dengan Doli dan Sandrina.

“Papa sering ke Medan?” tanya Doli hati-hati, melirik Sandrina yang tampak melamun, menatap jalanan. Entah apa yang menarik di jalan tol Kualanamu – Amplas ini. Ia seperti ingin mengenali kembali rute jalan di tanah kelahirannya ini. Kota yang katanya dulu adalah tanah tumpah darahnya.

Pohon sawit seperti ikut mendampingi mereka dalam perjalanan ini. Pohon pinang dan tanaman lain mengikuti berkejaran.

“Dibilang sering ya, tidak juga.” Mario menggeleng. “Tetapi bulan lalu waktu peresmian Poli Gigi yang baru, Pak HH datang ke Medan.”

Lihat selengkapnya