Jakarta, April 2026
Ia menatap maket rumah sakit tersebut dengan mata berlinang. Memegang pilarnya yang terbuat dari granit. Menatap halaman hijau yang basah. Bangunan dengan nuansa putih dan biru langit yang megah. Seorang wanita dengan seragam putihnya berdiri di sana. Kap mungil menghiasi kepala, seperti mahkota seorang ratu. Wanita itu memang ratu di hati Hermanto Hardiman. Perawat itu, Maryana Harahap.
Cintaku abadi, ucap Hermanto sambil menghapus air di pipi. Aku mencintaimu sampai kapan pun. Mungkin tak ada cinta seperti ini, tapi kau selalu ada, bukan hanya di hatiku.
Di hati semua orang.
Berbahagialah.
Aku tahu impian kita untuk menyatukan ikatan yang sempat terputus tidak akan pernah terjadi. Tapi kita pernah percaya—bahkan melakoninya—bahwa setiap orang berhak memperjuangkan cinta mereka, bukan? Sungguh pun tidak selalu sempurna dan benar di mata orang lain.
Tapi tidak ada cinta yang benar-benar sempurna, kecuali milik Tuhan.
==
Hermanto Hardiman memutar tubuh ketika mendengar ketukan di pintu ruang kerjanya. Ia menghapus air di sudut mata dan pura-pura menulis sesuatu ketika sang istri sudah berada di sisinya.
”Obat Bapak lupa diminum,” perempuan awal lima puluhan itu meletakkan cup kecil berisi dua butir obat dan segelas air putih.
”Ya, nanti saya minum, letakkan saja, Nuri.” Lelaki enam puluh lima tahun itu mengangguk, tampak serius dengan berkas-berkasnya.
Perempuan itu tersenyum kecil, memijat lembut bahu sang suami sekilas.
Sebelum keluar ruangan, ia melirik ke meja besar. Entah sudah berapa kali dia melihat maket rumah sakit itu, dan perempuan yang sudah menjadi istri Hermanto hampir dua puluh tahun selalu maklum kalau sang suami hampir setiap malam melihat maket tersebut. Entah sudah berapa ribu kali lelaki itu menatapnya. Nuri tahu, bagi Hermanto, itu bukan sekadar maket. Itu monumen cintanya.
Hemanto meletakkan pulpen ketika mendengar suara pintu ditutup. Kembali menatap maket, tangannya menelusuri deretan huruf di lantai tertinggi bangunan rumah sakit itu. Rumah Sakit Maryana Harahap. Ditulis dengan warna perak.
Maket ini ada dua. Satu lagi ada di Medan, diletakkan di lobi rumah sakit. Hermanto ingat ketika Sandrina membawa maket itu padanya. Ia tak tahan untuk tak berdecak kagum.
”Apakah sesuai, Pak Uda?” Perempuan itu menatap Hermanto dengan mata penuh harap, meski Hermanto tahu mata itu sudah lebih dulu berbinar. Ia, Sandrina, katanya, turun tangan langsung untuk mengerjakan maket ini karena ingin hasil yang sempurna. Dan ini memang sangat sempurna.
”Ini bagus sekali, Sandri.” Hemanto mengangguk dan senang ketika mendapati wajah Sandrina yang puas dan sedikit tersipu.
Sandrina Faiza Siregar. Ia tertawa pertama kali menyebut nama arsitek lokal yang terpilih mewakili HH Group dan mendampingi arsitek utama dari Singapura yang sudah berpengalaman membangun rumah sakit.
”Sedikit nepotisme, karena saya juga Siregar,” ucap Hermanto. ”Tapi kamu memang tidak mengecewakan, Sandri. Nepotisme yang tepat sasaran.”
Mereka sama tertawa.
Hermanto mengelus dagunya kini, mengenang masa itu.
Ia membuka ponsel. Ia baru menerima kiriman foto dari Mario, PR RSMH, beberapa waktu yang lalu. Lelaki berpakaian hitam dengan gaya sporty yang tengah menggendong seorang anak perempuan, itu pasti Doli. Sementara perempuan dengan gaun denim itu jelas Sandrina.
Hermanto membawa ponselnya lebih dekat ke wajah. Ia mengeluh ketika tak sedikit pun ia bisa melihat wajah bocah dalam dekapan Doli.
”Namanya Maryana , Pak,” lapor Mario. ”Nggemesin tapi ya, sepertinya dia kelelahan karena penerbangan jauh. Tidur terus bahkan saat sampai di hotel, nempel terus sama Pak Doli.”
Hermanto mengepalkan tangan. Hatinya bergejolak. Entah kenapa, ia ingin sekali melihat wajah bocah itu.
Dia cucunya kan?
Cucu? Setelah dia mengusir kedua orang tuanya seperti penjahat?
”Maafkan, Doli, Pa.”
”Aku mengaku salah, Pak Uda. Tapi aku mencintai Doli. Maafkan kami, Pak Uda. Jangan salahkan Doli. Tolong terima kami.”
Hermanto masih ingat ketika Sandrina dan Doli datang berlutut kepadanya. Itu setelah hubungan mereka terbongkar. Hubungan terlarang dan memalukan. Sembur Hermanto menahan marah.
”Jika kau memilih jalan ini, Doli, maka tanggalkan semua identitas yang kuberikan padamu,” suara Hermanto dingin, kecewa. ”Kau tak perlu marga itu, bukan? Itu berarti kau juga tidak perlu privilege sebagai anakku. Pergi dari kehidupanku!”
Lalu ia menatap Sandrina yang berlutut di samping Doli.
”Kau juga, Sandrina. Saya kecewa padamu. Sungguh kecewa. Padahal kalau hanya uang, aku membayarmu sangat mahal dan...”
”Papa…” Suara Doli mengandung kemarahan.