Tak Ada Cinta Seperti Ini

Risna Dabliyuti
Chapter #4

Bab 3 - Welcome to Medan, Ito

Bab 3

Welcome to Medan, Ito

Doli membaringkan Yana dengan hati-hati di tempat tidur begitu sampai di kamar hotel. Sandrina mendorong koper. Mario sudah pergi. Doli mengatakan akan menghubunginya  lagi nanti.

Sandrina membuka koper, mengeluarkan pakaian mereka, mencoba menyusunnya, atau sekadar mencari kesibukan. Doli mendekat dan duduk di sebelahnya. “Sandri,” ia memegang lembut bahu sang istri. “Tinggalkan saja, kamu istirahat ya.”

Sandrina menatap Doli, menggeleng kecil.

“Ayolah, Sayang,” Doli menariknya ke pelukan. “Jangan begini. Kita sudah sampai di sini. Jangan sampai kamu juga sakit saat kita bertemu Ayah dan Mamak.” Doli mengelus bahu Sandrina. “Dari kemarin kamu tidak tidur. Jangan bohong.”

“Aku takut, Doli.” Suara Sandrina teredam di dada Doli.

“Kita sudah sejauh ini, apa yang kamu takutkan, Sandri?”

“Aku takut hal buruk terjadi pada Ayah dan Mamak, tapi mereka belum memaafkanku.” Sandrina terisak.

Doli makin mempererat pelukannya. Tak pernah Sandrina serapuh ini. Perempuan ini sudah melewati banyak badai dalam hidupnya, dan Doli tidak mengizinkan apa pun dan siapa pun lagi menyakiti perempuan ini.

Ia ingin Sandrina yang tegar, kuat dan riang seperti saat awal dia bertemu dulu.

===

Medan 2018

Doli meerat pegangan pada koper kabinnya. Matanya menyapu kerumunan di pintu kedatangan Bandara Kualanamu yang bising. Sandrina Faiza Siregar. Dia sudah menghapal nama itu sejak dua hari yang lalu, sejak Papa bilang dia akan punya mentor, asisten, atau apa saja sebutan untuk sosok yang akan ‘memudahkan’ semua urusannya di Medan.

Jika menyebutnya PA, personal assistant agak berlebihan. “Anggaplah dia mentormu,” jelas Papa. “Dia akan memberimu pencerahan, bukan hanya soal proyek rumah sakit, tapi adat istiadat, termasuk nanti dia yang akan membawamu ke rumah Tulang.”

Tulang, itu tujuan besarnya. Tulang, atau paman, bukan hanya sebutan untuk saudara laki-laki Mama, tapi bagi Doli, ada hal lebih besar. Jembatan.

Penghubung masa lalu dan masa kini. Penghubung semua yang sempat terputus oleh luka.

Pada pikiran Doli, mentornya ini  adalah sosok wanita paruh baya bersanggul rapi yang akan menceramahinya tentang silsilah keluarga sepanjang jalan dari bandara. Namun, ia sedikit terkejut ketika mendapati seorang perempuan yang justru jauh dari bayangan tersebut.

Ia melihatnya. Seorang perempuan berdiri di antara para penjemput, mengenakan kemeja linen putih yang lengan bajunya digulung asal saja. Rambutnya diikat sembarangan, meninggalkan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya, yang di mata Doli kelihatan  cerdas. Memikat. Doli hampir tak yakin andai perempuan itu tidak  mengangkat kertas dengan tulisan besar DOLI HUTAMA SIREGAR. Namanya.

Doli mendekat. “Mbak Sandrina Faiza Siregar?” tanyanya menyapa.

Sandrina mendongak, matanya tajam menatap langsung ke manik mata Doli.

“Doli Hutama?” suara itu rendah namun tegas. Dan ketika Doli mengangguk, ia menarik napas lega.

“Selamat datang, aku Sandrina,” tangannya terulur hangat. Telapak tangan yang kuat, tangan seorang pembangun. Doli ingat, Papa bilang ia arsitek.

Doli terpaku. Jantungnya, berdetak liar di luar kendali logikanya. “Terima kasih, Mbak Sandrina karena berkenan menjemput,” gumam Doli saat mereka berjalan menuju area parkir.

Lihat selengkapnya