Tak Ada Cinta Seperti Ini

Risna Dabliyuti
Chapter #5

Bab 4 - PM dengan Double Projects

Bab 4

PM dengan Double Projects

Sandrina menjatuhkan tubuh ke kursi begitu sampai di direksi keet, kantor proyek. Ia mencampakkan tasnya begitu saja, meneguk air dari gelas yang terletak di meja kerja yang sedikit berantakan oleh berkas. Ia lalu mengambil tas plastik yang tadi dibawanya. Nasi padang.

Ia belum sempat makan siang. Tadinya Sandrina bermaksud mengajak Doli untuk mampir di rumah makan karena memang sudah waktunya makan siang, tetapi Doli menolak.

“Saya masih kenyang."Doli memegang perutnya.

Entah jam berapa dia makan. Sekarang hampir jam dua siang. Masih kenyang. Mungkin makan dalam penerbangan tadi. Sandrina tahu, Doli duduk di kelas bisnis dalam penerbangannya.

Aku yang lapar, kata Sandrina dalam hati. Tetapi dia tidak mungkin mengatakan terus terang. Jalan tengahnya, ia mengantar Doli ke mes. Ah, tidak tepat dibilang mes. Itu adalah rumah yang dibeli untuk tempat tinggal Hermanto Hardiman, atau Pak HH, pemilik HH Group, bila datang ke Medan. Sebuah rumah mewah yang berlokasi di dekat eks bandara lama, daerah Polonia.

“Ini rumah yang merangkap mes. Kalau kantor perwakilan ada di Jalan Sudirman. Karena ini sudah lewat tengah hari, sebaiknya besok saja kau kuajak ke kantor dan ke proyek, ya.”

Sandrina membunyikan klakson mobil beberapa kali ketika mereka sampai di depan rumah mewah.

“Bagaimana baiknya saja,” sahut Doli. “Kau guruku, pasti lebih tahu yang terbaik.”

Sandrina tertawa. “Murid yang penuh pengertian rupanya ito-ku ini.”

Seorang laki-laki paruh baya berlari membukakan pintu gerbang rumah.

“Oya, ada Pak Budin yang menjaga mes ini, bersama istrinya, Ibu Aini namanya,” Sandrina melambaikan tangan kepada laki-laki parobaya yang membukakan pintu tadi.

 ”Mereka akan melayani semua kebutuhanamu. Apa yang kau butuhkan, bilang saja, jangan sungkan! Pak Budin juga merangkap sopir. Kau bisa meminta dia membawamu ke mana saja, asal tidak ke bulan.”

Doli tertawa mendengar kalimat terakhir Sandrina.

“Kalau ke Padang Bulan masih bisa, dekat dari sini.”

“Padang Bulan?” Doli mengerutkan kening.

“Itu nama tempat,” sahut Sandrina. “Kampus USU ada di sana”

“Sadri tamatan USU?” tanya Doli lagi.

“Ya, arsitek, stambuk 2008.”

”Oh, saya stambuk 2007, setahun di atas Sandri.”

Sandrina tersenyum. ”Aku harusnya masuk tahun 2007 juga, tertunda setahun.” 

Tertunda. Kata yang terlalu aman. Ia tes dua kali hanya agar bisa kuliah di Bandung dan … ah … sudahlah.

Lihat selengkapnya