BAB 5
Dia Sudah Sampai di Kota Mama
Medan, sebuah kota heterogen yang tak pernah berhenti berdetak dari subuh hingga subuh lagi. Kota yang sejatinya tak pernah terlelap. Terus menyala. Seperti denyut kehidupan, pusat jajanan bahkan tak pernah sepi. Orang tak perlu takut kelaparan jika berada di kota ini, asal ada uang . Dari subuh orang sudah bisa melihat setiap sudut kota penuh dengan para penjual makanan untuk konsumsi sarapan . Lontong sayur, nasi lemak, berbagai jenis bubur, berbagai kue tradisional, sampai mi balap, semuanya tersaji dengan cita rasa yang majemuk. Mau rasa Melayu, Jawa, India, Tionghoa atau Batak, silakan coba!
Malam, lebih memesona lagi. Hampir di setiap sudut kota Medan seperti berlomba memamerkan kekayaan kuliner dan jajanan kota ini. Ketika gelap mulai menyapa, lampu-lampu pun menyala. Pusat-pusat jajanan berlomba menyajikan yang terbaik untuk menemani penghuni kota menghabiskan malam, sebelum berangkat ke peraduan.
Mau makanan jenis apa? Semua ada, semua tersedia. Soal harga dan rasa, itu tergantung selera saja. Mau murah-meriah atau yang agak mahal, silakan. Mau Chinese food, silakan ke Jalan Semarang atau Selat Panjang. Mau makanan Melayu, setiap sudut kota ada, mau cita rasa India, ada di jalan Pagaruyung. Mau yang serba komplit, tradisional food, Chinese food, western food, sambil menikmati udara malam, mari mampir ke Merdeka Walk.
Lokasi-lokasi lain masih banyak lagi. Ringroad Gagak Hitam juga punya pesona sendiri. Kawasan Dr Mansyur di seputaran kampus USU tak kalah ramainya.
“Kita makan di seputaran sini saja ya,” kata Sandrina ketika mereka sudah berada di jalanan Medan yang ramai.
“Terserah kamu, aku tidak punya referensi apa-apa soal makan di Medan,” kata Doli. Ia tampak rileks dan terlihat tidak sungkan lagi saat berbincang dengan Sandrina.
“Aneh juga, kau tidak tahu kampung halaman ibumu, padahal orang lain sudah berkali-kali ke sini. Apa kau tidak berminat sebelumnya datang ke Medan, Doli?”
“Jujur saja ya, aku punya keinginan ke Medan sejak masih SMA. Saat itu teman-teman sudah bicara soal Danau Toba, Berastagi dan lain-lain. Aku bilang ke Papa kalau aku ingin jalan-jalan ke Medan, tapi Papa melarang,” Doli tersenyum. “Papa bilang, untuk apa ke sana?”
“Mungkin Papamu masih menyimpan kenangan buruk.”
“Ya.”
“Lalu, setelah itu kau tidak punya keinginan lagi datang ke sini?”
“Aku tidak lagi memikirkan untuk datang ke Medan, ketika mulai kuliah dan banyak kesibukan. Teman-teman mungkin ada yang liburan ke kota ini, membawa oleh-oleh khas Medan, tapi aku lebih memilih menghabiskan waktu ke Bandung atau ke Yogya, kampung Papa. Atau malah ke luar negeri.”
“Tinggallah Medan sebagai negeri antah berantah!” Sandrina tersenyum kecil.
Doli tertawa mendengar ucapan Sandrina. ”Ya,” dia mengangguk, tidak menyangkal,
“Oya, kita makan yang netral saja ya, yang di Jakarta ada juga. Aku takut perutmu belum terbiasa,” tawar Sandrina. “Sudah bisa makan berat, kan? Jangan bilang masih kenyang.”
“Sudah,” sahut Doli. “Aku malah sudah minum kopi tadi.” Ia tertawa. ”Sebenarnya aku memang punya kebiasaan aneh, tidak bisa makan berat setelah penerbangan. Ini menyiksa kalau penerbangan ke luar negeri, Sandri.”
”Oya?” Sandrina tampak terkejut. Tadinya dia memang berpikir Doli benar-benar sudah kenyang. Ia membelokkan mobil ke jalan Walikota, berhenti di sebuah kafe yang dia tahu menjual makanan-makanan netral, bukan khas kota Medan.
“Di Medan apa ada pusat jajanan malam?” tanya Doli.
“Banyak,” sahut Sandrina. ”Di Jalan Dr.Mansyur ada. Ramai karena dekat dengan kampus USU. Dekat kos-kosan mahasiswa, jadi wajarlah langsung saja jadi pusat nongkrong anak muda,” jelas Sandrina. “Dulu warung kuliner di sana ini masih terbatas, ada satu pelopornya, yaitu restoran Joglo. Menunya sederhana dan harganya ramah-tamah untuk kantong mahasiswa, tapi tempatnya lumayanlah, tidak sampai malu-maluin kalau datang bawa pacar untuk kencan.”
“Ehm, tampaknya pengalaman pribadi ya?” Doli melirik Sandrina.
Sandrina tertawa dan tidak menjawab pertanyaan Doli.
“Tapi sekarang sudah tambah ramai?” tanya Doli kemudian.
“Sekarang, apa pun ada. Dari mulai makanan tradisional sampai makanan bergaya Barat. Soal harga juga sangat variatif. Sesuaikan saja dengan kantong.”
“Eh, temanku bilang mi Aceh Medan juga sangat enak. Dia pernah ke Medan dan bilang, suatu kali kalau ke Medan harus mampir dan makan mi Aceh Titi Bobrok, benar, kan?”
“Ya, Titi Bobrok,” kata Sandrina. "benar, Doli."
“ Jauhkah dari sini?”
“Lumayan, tapi kalau kau mau, aku bisa putar mobil dan kita makan di sana saja?”
“Aku tabung itu dulu,” kata Doli. “Aku mengikuti saranmu untuk makan di tempat netral.”
“Nah, gitu dong, murid harus patuh pada gurunya.”
“ Bu Guru yang suka memaksa.”
“Demi masa depanmu kan?”
“Oke, aku terrima dipaksa kalau begiyu," Doli tertawa. "Oh ya, selain di sini, di mana lagi pusat jajanan malam di Medan, Sandrina? Aku pernah baca di IG membahas Merdeka Walk.”
“Masih ada, persis di depan stasiun besar. Kapan-kapan kita ke sana ya. Itu restoran terbuka dan enak untuk menghabiskan malam, terutama kalau sedang purnama. Membawa pacarmu duduk di sana dan menghabiskan malam berdua, menyenangkan sekali. Kau tidak ingin malam cepat berganti pagi.”
“Punya pengalaman pribadi ya?”
“Ehm. Yang jelas, aku punya pengetahuan soal itu.”
“Pokoknya, aku ingin kau bawa ke semua tempat jajanan itu, Sandrina.”
“Tabung saja,” kata Sandrina, “ kita pasti akan mengunjungi tempat-tempat itu. Atau nanti, malah paribanmu yang membawamu ke sana.”
“Aku juga mau ke restoran Tip Top. Papa pernah bilang es krimnya enak sekali.” Doli pura-pura tidak mendengar kalimat terakhir Sandrina.
“Sebenarnya kau mau berwisata atau kerja?”