“Aku tahu mungkin seharusnya aku menolak ajakan makan malam dari orang asing. Seorang pria tidak dikenal tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai tetangga. Kuakui wajahnya cukup tampan, dan penampilannya … yah, lumayan, namun bukan itu yang membuat rasa penasaranku bergejolak. Kira-kira siapa dia? Apa hubungannya dengan Luna? Apa benar hanya sebatas tetangga? Mengapa mereka terlihat sangat akrab? Mungkinkah … calon kakak ipar baru? Eh ...?”
***
Solana benar-benar malang. Sejak piring itu ditaruh di atas meja, matanya tidak bisa berhenti melirik pesonanya. Jangan tanya perempuan itu betapa menggodanya pemandangan di depan. Harum aromanya, hmmm, Ingin sekali ia mengambil sendok dan langsung menyantapnya. Semua pasti setuju masalah perut memang tidak bisa ditawar, tapi sialnya gengsi harus tetap menjadi alasan teratas.
“Ah, nasi goreng pesananmu sudah datang, ayo cepat dimakan,” kata pria itu dengan senyuman ramah.
Jujur, bagi Solana, dia yang ada di hadapan bukanlah tipe idaman para pembaca cerita romance. Memang benar dia tinggi dan juga sedikit tampan. Sedikit saja, ya hanya sedikit, tidak banyak-banyak, itulah yang tertanam dalam pikiran Solana setiap kali ia menatap wajahnya.
Rambutnya yang hitam legam tampak sedikit berantakan. Senyumnya … bolehlah! Cukup menawan, dan lesung pipitnya sungguh manis cukup menghibur mata, namun tetap saja dia bukan tipe pria fiksi yang ditulisnya untuk membuat para wanita berhalusinasi.
Sama-sama tahu, namanya Bhumi. Pria yang tidak terlihat layaknya CEO tampan, dingin, anak taipan pewaris harta keluarga yang hidupnya berkutat di antara harta, tahta, wanita. Dia juga bukan pria macho dengan jutaan masalah keluarga, yang hobi berkelahi demi mempertahankan kehormatan geng berandalannya, ataupun seperti mafia dingin kejam yang hanya tergila-gila pada satu orang wanita. Bhumi benar-benar terlihat seperti pria biasa, bahkan dengan mata yang terlihat lelah sepulang kerja. Tentu saja lengkap dengan aroma tubuh yang sedikit menusuk hidung.
“Um, Solana?” kata pria itu sambil menggerakkan tangannya di depan mata perempuan itu.
“Ah, iya!” jawab Solana saat terbangun dari lamunannya.
“Kok bengong? Ayo dimakan, nanti nasi gorengnya dingin.”
“Ah, i-iya, nanti,” jawab Solana sambil tersenyum tipis. “Nanti saja. Aku akan menunggu sampai semua pesanannya datang, jadi kita bisa makan sama-sama.”
Betapapun perut Solana menjerit minta diisi, perempuan malang itu tetap berusaha menjaga tata krama. Lagipula sungguh tidak nyaman makan sendirian, sedangkan yang lain hanya diam memperhatikan. Bagaimana jika pria asing ini menganggapnya rakus? Atau tidak sopan? Oh, jangan sampai!
“Tidak apa-apa, jangan malu-malu. Bukankah kamu sudah lapar? Ayo, silahkan dimakan!” kata Bhumi sambil mendekatkan piring pesanan Solana ke hadapan perempuan itu, lengkap dengan sendok dan garpu yang telah dibersihkannya dengan tissue.
Solana tersenyum, masalah keras kepala dia bisa diadu. Perempuan itu bersikukuh untuk mempertahankan prinsipnya, dan untung saja tidak perlu menunggu terlalu lama, akhirnya pesanan lainnya datang juga. Waktu yang ditunggu tiba, mereka bisa memulai acara makan malam serba dadakan ini.
“Jadi … Solana, kamu kerja di mana?” tanya pria itu membuka pembicaraan malam ini.
Sial, bagaimana ini?
Pertanyaan paling tidak nyaman yang selalu dihindari makhluk introvert setiap kali berkenalan dengan orang baru. Semua orang pasti bangga dengan profesi dan pencapaian mereka, tapi tidak dengannya. Solana tidak ingin ada satupun yang tahu jika dia adalah salah satu pribadi yang bertanggung jawab atas halunya pembaca karyanya. Itu sebabnya ia bersembunyi di balik nama Sunny Ya, itu pula alasannya mengapa ia tidak pernah muncul dimanapun, bahkan saat acara promosi buku-bukunya.
“A-aku kerja di rumah.”
“Kerja di rumah? Kerja apa?”
“Ehm, iya. A-sku seorang penulis, jadi kerjanya bisa dari rumah, tidak perlu ke kantor,” jawaban paling diplomatis yang bisa dikeluarkannya. Tidak bohong, sesuai fakta yang ada, dan semoga cukup memuaskan hasrat ingin tahu pria itu.