“Entah setan mana yang berbisik dan membuatku pergi ke Mall hari ini. Kuakui, kepalaku memang hampir pecah. Teror Mbak Cindy makin menggila, sedangkan progresku masih jauh dari harapan. Seharusnya aku memilih untuk bekerja di rumah daripada jalan-jalan, namun saat kutatap wajahku di depan kaca, harus kuakui Luna ada benarnya. Semoga setelah sedikit rekreasi, pikiranku bisa kembali fresh hingga aku mampu bekerja lebih cepat.”
***
Harus diakui, hari ini benar-benar menyenangkan bagi Solana. Jalan-jalan, makan enak, ganti suasana, sanggup membuatnya melupakan pekerjaannya sejenak. Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga ….
“Huahahahaha….” tawa Laluna terdengar lepas. Badannya mulai membungkuk, bahkan terlihat seperti orang sakit perut. Ia tertawa begitu keras, sampai-sampai orang di sekitar mulai memperhatikan.
Di sisi lain, Solana menatap kakaknya dengan tajam. Hatinya mulai dongkol. Perempuan itu benar-benar tersinggung dengan kelakuan kakaknya.
“Apa? Apa yang lucu?” tanya Solana kesal.
Rasa-rasanya ia tidak sedang berguyon, bercanda, atau main tebak-tebakan. Solana hanya bertanya sebuah pertanyaan serius, lalu Laluna membalasnya dengan tawa menggelegar, bahkan lihatlah! Luna bahkan tidak bisa berhenti cekikikan.
“Hei, Lana, hahaha, Solana Yaptari … kamu sudah gila?”
“Tidak, aku tidak gila. Kamu yang gila,” ujar Solana kesal. Pandangan matanya tajam, lalu ia menyeruput kopi pesanannya tanpa berkedip sekalipun, sedikit gesture untuk membuktikan jika ia tidak sedang bercanda.
“Hahaha, kamu gila, Lana,” sahut Laluna sambil mengelap air mata bahagia yang menetes di pipi. “Aku? Bhumi? Ada hubungan? Itu benar-benar lucu … hahahaha.”
Sial, Luna tertawa lagi. Kira-kira sampai kapan ia akan berhenti? Bahkan orang yang duduk di meja sebelah saja mulai memandangi mereka untuk yang kedua kalinya. Memalukan, sungguh amat memalukan.
“Lana, adikku sayang, Bhumi adalah rekan kerja di kantor. Dia manager, atasanku yang kebetulan adalah tetangga yang baik dan bisa diandalkan. Benar, jika aku sering menitipkan Sky bila ada keperluan mendadak, tapi hubungan kita berdua hanya sebatas itu saja. Tidak lebih.”
“Luna, kakakku sayang, kamu tidak perlu berbohong. Sudahlah, akui saja, lagipula mana ada pria yang sebaik itu, jika tidak punya maksud tertentu, atau … ‘hubungan khusus’ di antara kalian berdua,” lanjut Solana tak mau kalah.
“Bohong? Aku tidak bohong! Hubungan kami memang hanya sebatas itu. Eh, tapi … Solana? Jangan-jangan … kamu yang naksir sama dia ya? Hayo ngaku!” goda Laluna sambil menyikut perut adiknya.
Wajah Solana berubah merah, dan jangan tanya perempuan itu kenapa reaksinya demikian. Solana malang, bahkan wajahnya sendiri berkhianat padanya.
“Apa sih? A-aku tidak … t-tidak ….”
“Ah, sudahlah,” jawab Luna yang sudah bisa menyimpulkan sendiri jawaban adiknya. “Aku tahu tetangga kita memang charming dengan caranya sendiri. See? Karakter pria di ceritamu itu bullshit, dan ga usah membohongi diri jika kita harus jatuh cinta dengan ‘prince charming’ tampan, kaya, sempurna, karena dalam kenyataannya, pria sederhana pun punya daya tarik sendiri.”