“Dengan semangat nan gagah berani, aku segera masuk ke dalam toko dan membeli mainan itu. Sayang, semua hip hip hura dalam hati tidak bertahan lama. Tiba-tiba,rasa menggebu itu hilang, menguap entah ke mana. Saat kaki ini menginjak pekarangan rumah, pikiranku mulai melayang, dan … ah Solana, payah sekali dirimu! Kusadari niatku baik, tapi … apa Luna akan marah? Jangan-jangan, Luna tersinggung bila aku membelikan anaknya sebuah hadiah. Tidak ada maksud hati untuk melangkahi kakakku, membuatnya terlihat kecil di mata anaknya sendiri. Ah… mungkin sebaiknya kuberikan hadiahnya pada Luna saja. Kurasa lebih baik dia yang memberikan mainan robot ini untuk anaknya. Ya, Solana! Itu ide terbaik.”
***
Solana terdiam. Pada tangan kirinya tergantung sebuah bungkusan besar berwarna biru, sedangkan tangan lainnya ia letakkan di atas gagang pintu. Wanita itu berdiri cukup lama, hingga akhirnya otaknya berhasil menyimpulkan solusi terbaik atas permasalahan yang hanya ada dalam pikirannya saja.
Setelah beberapa kali hembusan nafas, akhirnya ditekannya juga pegangan pintu rumahnya. Perlahan-lahan kakinya segera melangkah masuk ke dalam, selaras dengan tangan kirinya yang mulai bersembunyi ke belakang punggung. Ingat, jangan sampai anak itu melihat benda istimewa yang dibawanya pulang.
“Lun, Luna?” sahut Solana mencari keberadaan kakaknya.
“Ya?” jawaban lantang yang terdengar dari arah dapur.
Lokasi sudah di dapat, dan Solana mulai mengendap-endap. Kakinya berjinjit kecil agar tidak menimbulkan suara. Matanya mulai memperhatikan setiap sudut ruangan, mencari-cari dimanakah keponakannya berada. Solana perlu jaga rahasia sebelum bertemu Luna.
“Aman,” bisiknya menenangkan diri sendiri saat melihat Sky sedang asyik menatap televisi. Bagi anak seusianya, jam tayang kartun spesial memang tidak boleh terlupakan.
“Hei, ada apa ini?” tanya Laluna penuh curiga. Sebagai ahli membuat masalah, sudah pasti ia juga lihai dalam hal mengendus ‘bau-bau’ sesuatu yang tidak beres. Tangannya terlipat di depan dada, dan dengan berselempang kain lap di pundak, wanita itu bersandar di tembok depan dapur, memerhatikan keanehan tingkah adiknya.
Solana beranjak, perempuan itu menarik tangan kakaknya untuk masuk lagi ke dalam dapur. Hanya satu yang ada di pikiran perempuan itu, pokoknya, Sky tidak boleh tahu apa yang akan ia negosiasikan bersama Laluna.
“Ada apa sih? Tarik-tarik? Mana sakit, tahu? ”
“Pssst!” bisik Solana pada Laluna. Kode keras supaya kakaknya tidak banyak bertingkah, atau bahkan mengeluarkan suara.
“Solana?” tanya Laluna tidak terima. Bibirnya mulai terbuka, bersiap untuk menceramahi adiknya. Enak saja, berani-beraninya Solana memintanya untuk diam. Tidak ada satupun di dunia ini yang berani menyuruh perempuan galak itu untuk diam.
“Ini,” potong Solana sebelum kakaknya mencereceh lebih jauh. “Bantu aku! Tolong berikan ini pada anakmu.”
Solana memberikan bingkisan berisi mainan itu pada kakaknya. Solana boleh jadi penulis terkenal, namun semua setuju bila cara berkomunikasinya memang payah. Makhluk sepertinya lebih mengandalkan ilmu telepati. Solana berharap jika kakaknya mengerti isi hatinya tanpa ia harus mengatakan banyak hal.
“Apa ini?”
“Berikan saja pada Sky. Bilang saja itu hadiah darimu, dan buat anak itu senang.”
“Solana ….” bisik Laluna saat ia mengintip isi bingkisan yang diberikan adiknya. Suaranya berubah lembut, matanya mulai tampak berbinar. Ok fix, Solana yakin kakaknya akan segera menangis. Tentu saja tangisan haru, cerminan rasa bahagia dari dalam hati.
“Berikan saja hadiah ini sendiri! Lagipula, kenapa harus aku yang memberikannya, dasar aneh!” jawab Luna galak seperti biasa. Raut wajahnya berbalik 180 derajat, jauh dari perkiraan Solana.