Aku tidak pernah menyangka, jika hidupku bisa jauh berbeda. Bukan hanya sekedar makan, tidur, atau duduk di depan laptop sambil menghayal. Eits, jangan salah sangka! Aku suka hidupku dengan segala kebosanannya. Aku menikmati kesendirian dan pekerjaanku, hanya saja aku tidak pernah tahu jika ternyata aku bisa menikmati opsi lain yang bahkan tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Jujur, aku sendiri pun tak menyangka, jika aku sungguh menyukai gelar baruku, menjadi tante terbaik di dunia.”
***
Wajah imut, senyuman lebar, serta binar tatapan penuh harap itu, ah, sudahlah! Tanpa banyak kata, Solana sudah bisa menduga apa yang akan diutarakan anak kecil ini saat masuk ke dalam kamarnya.
“Ante, main yuk!”
Yup! Persis seperti dugaan Solana! Sepasang kaki mungil itu datang untuk mengajaknya main. Kejadian seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi, bahkan sudah seminggu terakhir ini terulang hampir setiap hari.
Kemajuan yang signifikan, bukan? Semenjak Solana memberikan hadiah spesial pada anak itu, kini ia menjadi tante favorit di mata keponakannya. Anak itu sudah mulai terbiasa, bahkan merasa nyaman dengan keberadaannya di rumah. Bonding yang terjalin semakin baik, layaknya sebuah keluarga.
“Hei,katanya mau main sama Mama? Ayo sini, jangan ganggu Tantemu!” ujar Laluna. Tentu saja, perintah dari ibunya yang galak membuat nyali anak itu sedikit ciut. Namun, bukan keponakan Solana jika anak itu diam, pasrah dan menyerah. Suka tidak suka, DNA mereka memiliki kemiripan, dan tentu saja sifat keras kepala, juga pantang menyerah sudah pasti mengalir di dalam darah.
“T-Tapi … mmmm,” rengek anak itu tak terima. Ia memang masih kecil, tapi tetap saja otak mungil itu mampu memikirkan strategi yang pas untuk mencapai keinginannya. “Tapi, main berdua aja ga seru. Ciel juga ga ganggu Ante kok. Kan cuma ajak main, ga ganggu, ya kan, Ante?”
Baiklah, boleh juga untuk anak usia 5 tahun. Permainan kata fantastik, dengan level logika cukup valid untuk pemikiran seorang anak kecil. Solana paham, bukan hanya keras kepala saja yang menurun, ternyata bakat merangkai kata, juga kelihaian mencari alasan juga menitis sempurna.
“Ciel!” sahut Laluna. Nada bicaranya mulai meninggi, pertanda kesabarannya yang setipis tissue dibelah dua, sudah hampir hangus tak tersisa. Jangan cari gara-gara dengan Laluna, apalagi jika suaranya sudah terdengar melengking.
“Baiklah, baiklah! Ayo kita main!” sahut Solana pasrah. Perempuan itu tidak ingin melihat keributan di sini. Ditatapnya layar komputer di depannya, lalu diistirahatkannya sejenak. Di satu sisi, pekerjaannya yang menumpuk masih menggunung, namun di sisi lain, main dengan anak ini cukup menyenangkan juga. Sekedar rekreasi, tidak ada salahnya.
“Yey!” sorak anak itu sambil melompat gembira.
Lihatlah wajah Solana, saat anak itu bersuka cita! Tanpa terasa senyumannya juga nurut naik, menggantung di pipi. Tidak ada yang mampu menolak pesona wajah imut dari manusia mungil di hadapannya. Bahkan mantan penyandang gelar ‘tante terburuk di dunia’ pun, merasa harus memastikan senyuman di wajah keponakannya harus tergantung sempurna.
“Um, tapi sebentar saja ya! Tante ga bisa main lama-lama,” lanjut Solana.
“Iya, ayo!” jawab anak itu. Tangan mungilnya langsung melingkar di telunjuk Solana, menarik tangan tantenya untuk segera keluar dari dalam kamar.
“Mau main apa kita?” tanya Solana pada anak itu.