Tak Ada Karya di Musim Kering

Bebekz Hijau
Chapter #14

Bab 14. Solana dan Bisnisnya

“Ini bukan yang pertama kali aku berurusan dengan Mbak Cindy. Semua orang tahu tabiat editor papan atas, andalan para penerbit itu. Tegas, galak dan tak kenal ampun. Editor killer yang membunuh banyak impian penulis terutama pemula hanya dengan sedikit kata-kata dari mulutnya. Berat memang, akan tetapi, jangan tanya mengenai kredibilitas. Cerita yang melalui tangan dinginnya jarang meleset di pasaran, termasuk karyaku. Suka tidak suka, dia sepenting itu dalam pencapaian karirku. Suka atau tidak, aku harus mendengarkan setiap perkataannya.”

***


Solana tidak berharap banyak. Saat ia memutuskan untuk menerima panggilan Mbak Cindy, perempuan itu tidak mengharapkan apapun. Tidak pujian manis, tidak pula kata-kata penggugah hati. 

Di hati terdalam, Solana menyadari performanya. Di luar sifatnya yang doyan overthinking berlebihan, sebagai seorang penulis, ia sendiri bisa menilai betapa berantakan karya barunya. Ternyata benar kata orang, seorang penulis best seller sekalipun, tidak selamanya sanggup membuat masterpiece.

Jadi, ya begitulah.Tak ada yang diharapkan perempuan itu, kecuali … ah, ada, ada satu! Semoga saja Mbak Cindy menunjukkan sedikit belas kasihan. Semoga hatinya sedang bahagia, jadi tegurannya tidak terlalu pedas di telinga,  namun … sepertinya harapan sederhananya hanyalah angan belaka. Semenjak Solana menekan tombol hijau di layar handphonenya, rentetan omelan Mbak Cindy langsung menembus telinga, tanpa tahu kapan akan berakhir.

“Solana, aku sudah baca draft naskah yang kamu kirimkan.”

Ow, awalnya memang hanya kata-kata sederhana, namun jangan salah, karena kata-kata berikutnya, benar-benar …. menusuk hati.

“Karya apa ini? Kamu nulis apa? Cerita apa ini? Sampah? Plot berantakan, cacat logika di mana-mana, basi pula! Lana, kamu nulis bukan kali ini aja, kan? Jangan sodorkan karya amatiran ke depan saya! Mengerti, Solana! ”

Solana segera menutup telinganya. Nada keras berfrekuensi tinggi yang barusan didengarnya benar-benar membuat gendang telinga berdenging. Jika tahu akan begini, seharusnya dia jauhkan telepon sialan ini dari kuping.  

“M-Mbak Cindy, dari hati terdalam a-aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuat Mbak Cindy kecewa, tapi ….”

“Tapi? Tapi apa?” sahut Mbak Cindy lebih melengking dari sebelumnya. “Lana, Lana, kamu tahu? Kali ini kamu sudah sangat keterlaluan. Kamu membuatku kehilangan kesabaran. K-kamu …. Huff, terlambat mengirim draft, kamu sulit dihubungi, kamu pergi menghilang entah kemana, lalu kamu kirimkan karya sampah asal-asalan itu padaku? Jangan kira aku tidak akan memarahimu! Hohoho, Solana, saya tahu kamu penulis best seller paling top, tapi kalau cara kerja kamu begini … arrrggggghhhh, Solana kali ini saya benar-benar kecewa!” ucap Mbak Cindy. Nadanya tidak keras seperti sebelumnya. Tidak ada suara lengkingan tinggi memekakkan telinga, namun rasa perihnya bak tusukkan pisau menyayat di dalam hati.

“M-Mbak Cindy, saya minta maaf atas semuanya keterlambatannya. Saya ….”

Lihat selengkapnya